Alhamdulillah … hamil ternyata tidak semerepotkan yang saya kira. Padahal sebelumnya sempat berpikir untuk menunda saja karena suami bertugas di luar kota dan sangat jarang pulang. Sering terbayang hal-hal yang tidak menyenangkan seandainya hamil tanpa didampingi suami, padahal saya sendiri belum pernah mengalami, tetapi melihat pengalaman saudara-saudara atau teman-teman saya, saya menyimpulkan bahwa hamil itu akan repot kalau sendiri.

Bayangan tentang ngidam yang pertama-tama mengganggu saya. Seringkali mendengar cerita, wanita hamil ngidam aneh-aneh di waktu-waktu yang tidak biasa. Maka saya membayangkan, bagaimana seandainya saya ngidam makan durian jatohan tengah malam? Kalau ngga ada suami siapa yang nyariin?

Bayangan tentang morning sickness menjadi ketakutan saya yang lain. Mual, muntah, pusing, bahkan saya melihat beberapa orang teman mengalami morning sickness yang cukup merepotkan. Maka saya membayangkan seandainya saya mual-mual lalu muntah, pengen dibikinin makanan, pengen disuapin, pengen disayang-sayang, kalau suami ngga ada siapa yang manjain?

Ketika pada akhirnya saya mengalami hamil ternyata ketakutan itu tidak pernah terjadi. Kuncinya adalah pikiran yang positif saja.

Mungkin karena karakter kehamilan saya juga yang jika meminjam istilah teman saya katanya “hamil kebo”, yang membuat saya tidak begitu repot. Bohong kalau saya bilang tidak mual-mual, pusing, atau cepat lelah, tapi saya merasa rasa tidak nyaman itu masih di batas yang tidak membuat saya sampai muntah-muntah atau bahkan bedrest. Morning sickness yang saya rasakan tidak jauh berbeda rasanya dengan mabuk perjalanan. Untuk mengatasinya, saya berusaha berpikir bahwa keinginan muntah itu hanya berasal dari pikiran saya, walaupun faktanya menurut yang saya baca di buku tentang kehamilan, kondisi mual dan muntah itu memang didorong oleh perubahan yang terjadi dalam tubuh kita.

Tentang ngidam, saya punya penjelasan sendiri. Sejauh ini saya tidak pernah mengidamkan suatu makanan yang mau ga mau harus ada untuk saya makan saat itu juga. Biasanya keinginan makan makanan tertentu itu berhubungan dengan perasaan mual yang saya rasakan. Ketika merasa mual, rasanya dalam kondisi lapar pun semua makan terlihat, terasa, dan terbayang tidak menarik. Apapun makanan yang mungkin dengan mudah bisa kita dapatkan menjadi tidak menarik, bahkan makanan yang sudah tersedia di depan mata. Yang kemudian timbul justru keinginan untuk memakan makanan lain yang tidak tersedia saat itu karena ketika membayangkan makanan itu timbul perasaan nyaman, lalu membayangkan, misal “Mual nih, ga pengen makan apa-apa, tapi kayaknya enak deh kalau makan spageti bolognaise”. Setidaknya itu yang saya rasakan tentang ngidam.

Selain yang dibeberkan di berbagai sumber informasi bahwa ngidam itu dorongan tubuh kita untuk memenuhi kekurangan zat yang tubuh kita butuhkan. Saya mendapat pemahaman, hal tersebut juga berlaku sebaliknya. Maksudnya, kita jadi tidak ingin makan makanan yang sudah terlalu sering kita makan sebelum hamil. Misalnya saja yang saya alami. Dulu, sebelum hamil saya makan pecel ayam, pecel lele, dtt bisa sampai 3-4 kali setiap minggu, karena di daerah kost saya makanan itu yang paling banyak tersedia. Semenjak hamil, bisa dihitung dengan jari saya makan makanan-makanan itu, mungkin antara 3 sampai 4 kali, sama sekali tidak berselera, malah saya merasa mual jika membayangkan makanan-makanan itu, mungkin karena sebelum hamil udah over dosis minyak jelantah kali ya. Hehe.

Saya juga berusaha membuat hamil saya menyenangkan dengan tidak terlalu memberi banyak batasan pada apa yang saya makan dan yang saya lakukan. Prinsip saya, makanan yang bisa kita konsumsi saat tidak hamil, maka bisa juga dikonsumsi saat hamil. Standar makanan sehat kan mestinya sama untuk orang yang hamil maupun tidak? Yang saya lakukan hanya memperbanyak atau mengurangi makanan tertentu. Saya memperbanyak makanan yang baik untuk kehamilan dan mengurangi makanan yang sekiranya jika dimakan terlalu banyak dalam jangka panjang akan membahayakan tidak hanya janin, tetapi juga tubuh kita.

Saya sendiri belum bisa menyediakan makanan yang benar-benar sehat untuk diri saya, dalam arti makanan yang saya tahu bahannya dan tahu prosesnya, maka yang saya lakukan adalah berpikir positif pada apa yang saya makan.

Selain itu saya mensugesti diri sendiri bahwa saya kuat, karena kalau sampai jatuh sakit tidak ada orang terdekat yang bisa langsung saya mintai tolong. Saya tidak bisa selalu mengandalkan orang-orang di dekat saya. Bulan ini saya pindah kost, ada banyak barang yang harus saya kemas ketika mau pindah, dan banyak barang yang harus saya bereskan ketika saya sudah menempati kost yang baru. Mau tidak mau saya tidak bisa menghindari untuk sekali dua kali mengangkat barang berat. Yang sering saya lakukan adalah berkomunikasi dengan bayi saya, seringkali saya juga meminta maaf seandainya merasa terlalu lelah dengan aktivitas tersebut. Bagaimana pun saya tidak bisa mengabaikan makhluk yang hidup di dalam sana, yang mungkin akan merasa terganggu atas apa yang saya lakukan.

Dan bagaimana pun pengalaman hamil pertama ini mengajarkan saya dan bayi saya mandiri semenjak dia dalam kandungan :)

Semoga semua prosesnya lancar. Amiiin.

9 weeks & 3 days per 16 November 2012November 2012

9 weeks & 3 days per 16 November 2012