‘Kota yang hidup’ adalah kesan pertama saya ketika menginjakkan kaki di Kota Jember. Pada pukul 2 dini hari, ketika kereta dari Surabaya yang mengangkut saya dan suami merapat di Stasiun Jember, belasan Bapak Becak menyambut kami di pintu gerbang stasiun, berebut penumpang. “Semalam ini?”, pikir saya. Namun pertanyaan itu terjawab ketika suami menjelaskan bahwa hanya ada dua kali pemberangkatan kereta api dari Surabaya ke Jember (tujuan akhir Banyuwangi) setiap hari, salah satunya yang tiba jam 2 dini hari tersebut, maka suasana stasiun selalu ramai sampai jauh tengah malam.

Ini merupakan kali kedua saya ke Jawa Timur. Ya … baru dua kali. Kali ini saya terbang dari Jakarta ke Surabaya, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Jember, kota tempat suami bertugas, dari Stasiun Sidoarjo. Ya, baru kali ini juga saya ngeh, kalau Bandara Juanda ternyata terletak di Sidoarjo, bukan Surabaya. Sama halnya dengan Bandara Soekarno-Hatta yang selalu diingat terletak di Jakarta, padahal sudah masuk daerah Tangerang.

Kunjungan saya kali ini, memang sengaja saya jadwalkan bertepatan dengan Bulan Berkunjung Jember. Salah satu acara yang ingin saya lihat dari rangkaian BBJ ini adalah Jember Fashion Carnaval (JFC) yang terkenal itu. Saya tiba di Jember pada Sabtu pagi sementara JFC dilangsungkan pada hari Minggu siang, sehingga hari Sabtu itu kami habiskan berjalan-jalan ke beberapa kawasan terkenal di Jember. Malah sempat juga menghadiri syukuran sunatan anak rekan kerja suami. Sedikit kehebohan terjadi di meja hidangan kala itu, ketika beberapa orang saling memberitahu satu sama lain, “Rujak soto”, kata mereka sambil menunjuk pada menu makanan yang terdiri dari potongan ketupat, plus semacam pecel sayur tapi bumbunya berwarna lebih terang, dan kuah berminyak dengan potongan-potongan kecil daging. “Khas Banyuwangi ini, Mbak”, Mbak di sebelah saya memberi informasi tambahan, “Ooooh … “, saya mengangguk-angguk, lalu ikut mengantri “Rujak Soto”.

Pantai Tanjung Papuma

Mbak penjaga kost suami saya bilang, pantai ini dan Pantai Watu Ulo yang bersebelahan dengan Tanjung Papuma adalah spot yang wajib dikunjungi jika ke Jember. Maka dari Kota Jember, dengan menggunakan sepeda motor kecepatan tinggi, dalam waktu satu jam kami sudah sampai di pantai ini. Yang pertama terlihat dari atas bukit menuju pantai ini adalah, beberapa perahu warna-warni ukuran sedang yang tertambat dan dibiarkan mengambang beberapa meter dari garis pantai. Dengan langit cerah dan laut biru serta hamparan pasir putih, pantai ini terlihat sangat fotogenik.

Tanjung Papuma dari Atas Bukit

Tanjung Papuma dari Atas Bukit

Saat itu pantai tidak terlalu ramai, juga tidak sepi, menciptakan atmosfer yang pas untuk bersantai (dan foto-foto :D). Beberapa fasilitas umum bertebaran di beberapa sudut. Ada warung makan yang menyajikan menu khas ikan bakar dengan sambal yang sedaaap, juga beberapa WC umum dan kamar mandi bilas, serta musholla dan kantor pengelola. Sebuah papan menunjuk juga ke arah penginapan yang terletak agak masuk ke dalam sebuah hutan kecil.

Bernaung di Saung

Bernaung di Saung

Yang unik disini, banyak kera berkeliaran di jalan-jalan setapak dan bergelantungan di pohon-pohon rindang di sekitar pantai. Kera-kera itu juga ikut menambah meriah suasana makan kami. Bagaimana tidak, beberapa kali kami terkaget-kaget ketika kera-kera itu mendekat ke saung tempat kami makan, dan secara tiba-tiba melongokkan kepala dari atas terpal yang menaungi kami.

Kera Berkeliaran

Kera Berkeliaran

Bukit Terjal Sepanjang Garis Pantai

Bukit Terjal Sepanjang Garis Pantai

Pose Standar Foto di Pantai :P

Pose Standar Foto di Pantai :P

Rembangan

Jember menawarkan objek wisata yang cukup lengkap. Setelah setengah hari bermain di daerah pantai, motor yang dipacu dengan kecepatan yang lebih tinggi membawa kami kembali ke Kota Jember, lalu teruuus ke arah Rembangan, sebuah dataran tinggi seperti Dago Atas mungkin ya kalau di Bandung, bedanya, jalan menuju Rembangan tidak sepadat ke Dago Atas. Kami menginap di Hotel Rembangan dengan tarif yang tidak terlalu mahal, sebuah bangunan hotel lama jika dilihat dari desain dan perabot serta perlengkapannya. Yang tidak membuat nyaman adalah kamar mandinya yang langit-langitnya terlalu tinggi. Dari halaman hotel kita bisa melihat daerah sekitar dari ketinggian. Pada malam hari kita pun bisa melihat lampu-lampu Kota Jember dari kejauhan.

Dari Halaman Hotel Rembangan

Dari Halaman Hotel Rembangan

Namun keinginan untuk berenang atau berendam air panas di Rembangan kandas karena kolam renang di hotel itu bukan kolam air hangat dan bathtub di kamar pun tidak cukup nyaman untuk berendam. Padahal perlengkapan berupa pakaian dan kacamata renang sudah saya bawa dari Jakarta.

Salah Satu Sisi Hotel Rembangan

Salah Satu Sisi Hotel Rembangan

Ya sudah, pagi hari kami langsung check out dan kembali ke Kota.

JFC

Inilah puncak dari agenda kunjungan saya ke Jember. Acara sebenarnya dimulai sekitar jam 2-an siang, namun karena khawatir tidak dapat tempat yang nyaman untuk menonton, karena dipastikan sepanjang jalan yang dilalui karnaval akan disesaki masyarakat yang juga ingin menonton, maka saya dan suami berangkat sesaat sebelum dzuhur. Itu pun kami sudah sulit mendapat tempat parkir motor. Halaman-halaman kosong di daerah yang mendekati Alun-Alun disulap jadi tempat parkir darurat dengan karcis parkir seadanya. Motor suami saya yang terparkir di sebelah rel kereta pun terkena tarif parkir yang diada-adakan itu.

Dari tempat parkir, kami berjalan beberapa puluh meter menuju pusat acara di Alun-Alun Kota. Benar saja, masyarakat dan para pedagang kaki lima menyesaki setiap jengkal tanah di Alun-Alun. Suasana sesaknya sekilas seperti pasar kaget di Gasibu Bandung setiap hari Minggu. Untung cuaca hari itu sangat bersahabat. Mendung membuat suasana Kota Jember pada tengah hari tetap adem. Sempat khawatir akan turun hujan, karena waktu berangkat gerimis sempat mengundang :P tapi untungnya hanya sekadar gerimis sesaat dan tidak berlangsung lama.

Setelah shalat di Masjid Agung, kami terus berjalan menjauhi alun-alun sekedar mencari tempat yang paling nyaman untuk menonton, ah sia-sia, pada akhirnya kami berhenti di salah satu ruas jalan yang menurut kami paling ‘tidak sesak’.

Karnaval tidak berjalan sesuai seharusnya. Tidak ada pembatas antara penonton di pinggir jalan dengan peserta karnaval. Malah penonton berdesakan sampai ke tengah jalan dan menghalangi jalan yang dilalui peserta karnaval. Penonton berebut mengambil foto, beberapa malah mengambil kesempatan berfoto bersama dengan peserta karnaval, menambah ruwet suasana karnaval. Terdesak di antara para penonton, saya hanya mengangkat kamera saku saya tinggi-tinggi dan menjepret tak terarah, hasilnya beberapa hasil jepretan kebetulan pas mengarah ke peserta karnaval, sisanya lebih banyak menghasilkan foto blur atau foto dengan objek yang tidak jelas. Sementara itu, saya melihat beberapa orang dengan kamera DSLR tampak melenggang bebas di depan peserta karnaval, beberapa memasang kartu identitas panitia, tamu, atau apalah, tapi lebih banyak yang tidak beridentitas. Mungkin itu bisa jadi salah satu trik jika satu saat Anda berniat ke acara itu. Membawa kamera DSLR membuat Anda terlihat seperti pers atau fotografer profesional dan tidak ada satupun panitia yang akan menyuruh Anda minggir ke pinggir jalan.

Menonton dari Atas Pohon

Menonton dari Atas Pohon

Penonton Membludak Sampai Tengah Jalan

Penonton Membludak Sampai Tengah Jalan

Dengan pengalaman itu, saya berjanji, satu saat, saya akan kembali ke Jember pada acara JFC setelah sebelumnya membeli Tiket VIP dan satu lagi … membawa kamera DSLR. Hehehe. Insya Allah.

Berikut sedikit oleh-oleh dari JFC, sedikit foto yang bisa saya ‘selamatkan’

 

*Fyi, saya ke Jember bulan Juli 2012 lalu. Postingan ini mengendap di DRAFT sejak empat bulan yang lalu*