Saya tidak perlu mengulang cerita itu lagi kan disini? Karena entah sudah berapa kali saya menceritakan hal ini kepada lebih dari sepuluh orang, baik itu karena mereka bertanya langsung ataupun karena saya yang curcol. Yang utama dari peristiwa ini adalah saya dapat mengambil beberapa pelajaran dan menarik beberapa kesimpulan.

Apa itu?

  1. Kembali mengingat pesan Bang Napi, “Ingat! Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah … waspadalah!!”
  2. Berhati-hati jika melintasi tempat yang sepi. Dalam kasus ini saya menyeberang jembatan penyeberangan depan Gedung DPR/ MPR yang agak sepi, hmmm … sangat sepi sebenarnya untuk ukuran jembatan penyeberangan yang terbentang di atas jalan protokol seperti Jl Gatot Subroto. Sebenarnya sudah sering saya melewati jembatan itu, dan selalu baik-baik saja, maka dalam hal ini yang harus dilakukan adalah membaca kembali poin pertama di atas.
  3. Segera melaporkan kejahatan yang dialami kepada Kantor Polisi terdekat. Pasti banyak yang berpikir (termasuk saya), bahwa tidak ada gunanya juga melapor ke polisi, toh barang sudah hilang, ikhlaskan saja. Ya, boleh lah bila kita hanya memikirkan diri sendiri seperti itu, tapi kalau Anda punya waktu lebih, maka sebaiknya mulai memikirkan orang lain. Bahwa dengan melaporkan ke polisi, entah selanjutnya ditindaklanjuti atau tidak, setidaknya kita sudah memberi info daerah-daerah rawan kejahatan, dan itu sangat membantu pekerjaan mereka.
  4. Dalam kasus ini, si pelaku dengan sangat apesnya tertangkap tidak lebih dari 24 jam setelah melakukan kejahatan, padahal saya ngga lapor lho (Lho kok bisa??). Apes atau bego? Entah di kategori yang mana lebih tepatnya. Lanjut … ketika polisi melakukan pemanggilan korban sebagai saksi (dalam hal ini adalah saya), maka segera penuhi, karena polisi tidak bisa menahan orang tanpa ada dasar laporan dari korban.
  5. Ternyata proses peradilannya memakan waktu yang lamaaa. Pada akhirnya, saya sih tidak berharap ponsel saya akan kembali. Katanya prosesnya paling cepat dua bulan. Setelah dua bulan itu pun saya sendiri yang harus menghubungi kejaksaan untuk mengambil ponsel itu. Yah … resiko ditanggung sendiri aja, barang-barang punya lu, emang gue pikirin? Mungkin itu kata mereka. T_________T
  6. Prihatin karena saya sendiri masih meragukan integritas kepolisian di negeri ini. Bukan hanya saya, suami saya juga, orang tua saya juga, saudara-saudara saya mungkin, dan teman-teman saya tak terkecuali. Padahal banyak teman, abang/ kakak, dan adik angkatan saya yang berprofesi sebagai polisi. Betapa skeptisnya kami ketika saya mendapat panggilan dari polisi tempo hari. Pikiran-pikiran negatif seperti, “Jangan-jangan nanti begini … “, “Alah … paling juga maunya ini”, “Bakalan ribet lah, ga usah diurusin sekalian”, “Wah bakalan lama tuh”, “Udah deh susah itu mah” … dan berbagai pikiran negatif lainnya berseliweran di kepala kami. Itu pula yang membuat saya berpikir untuk tidak perlu melapor setelah kejadian. Tapi, saya tetap yakin di luar sana masih banyak polisi yang memiliki integritas dalam menjalankan tugasnya.
  7. Rencana saya untuk menghemat uang transport batal sudah. Untuk mencapai tempat yang saya tuju depan halte DPR/MPR, saya hanya perlu naik Kopaja 2.000 rupiah lalu menyeberang jembatan. Sejak kejadian itu, saya tidak berani lagi lewat jembatan itu, berarti saya mencari alternatif tempat menunggu bis jemputan di titik penjemputan yang lain. Akhirnya saya kembali menunggu di depan Slipi Jaya, yang mana ada beberapa aternatif untuk mencapai sana dari kost saya di Pejompongan. Yang pertama naik Kopaja dua kali 2.000, dengan jarak yang pendek-pendek, naik ojek 10.000 atau naik taksi kurang lebih 12.000. Akhirnya saya memilih yang moderat, naik ojek, artinya saya harus keluar uang 8.000 lebih banyak dari biasanya jika saya menunggu di depan halte DPR/MPR. Heuuuuuuhhhhhh …
  8. Merasa diingatkan bahwa semua yang saya miliki sekarang adalah titipan. Jangan terlalu possesif, karena pada suatu saat apa yang kita miliki pasti hilang, entah dengan cara apa. Merasa diperingatkan sama Allah, karena selama ini masih kurang banyak memberi kepada orang lain, kurang bisa memberi manfaat kepada sekitar. Kejadian saya kehilangan ponsel hanya selang beberapa hari dari kejadian suami saya kehilangan dompet. Dompet suami saya akhirnya kembali setelah dikembalikan oleh si penemu dompet, sementara barang saya ditemukan oleh si polisi dari si pencuri. Rasanya seperti, dipinjami barang, terus direbut paksa selama beberapa saat, lalu dikembalikan lagi.
  9. Saya tidak mati gaya hanya dengan menenteng ponsel pengganti yang fungsinya hanya telepon dan SMS. Maka, berhentilah mengeluh dengan mengatakan, “Duuuh, mati gaya nih”, ketika ponsel canggihmu tertinggal di suatu tempat. Banyak hal yang bisa dilakukan selain berkutat dengan berbagai aplikasi di ponsel, atau berinteraksi dengan teman-teman mayamu. Kecuali, jika kamu bisa mengambil manfaat lebih dari ponselmu selain yang saya sebutkan di atas.

Yah begitulah … pada akhirnya yang bisa menarik lebih banyak hikmah dari suatu kejadian adalah orang yang lebih banyak berpikir.

Selamat beraktivitas!

*posting yang tertunda selama beberapa minggu*