Rasa-rasanya saya baru mengenal acara buka bareng atau buka bersama itu setelah lulus SMA. Awalnya saya merasa tidak ada yang istimewa dengan acara ini, toh dulu selama 3 kali Ramadhan di SMA pun kami selalu buka bareng tiga angkatan se-SMA di teras masjid, dilanjutkan dengan shalat maghrib berjamaah, lalu makan malam bersama dengan porsi lauk dobel, diakhiri tarawih. Saya mulai menemukan banyak judul buka bareng saat kuliah.

Kami dulu biasa menyingkatnya “bubar”. Belakangan saya lebih sering mendengar istilah bukber atau buka bersama setelah di Jakarta. Karena asingnya istilah “bubar” itu di telinga saya, pernah satu ketika saya terkaget-kaget membaca selebaran di mading kampus yang isinya sangat ringkas, “BUBARKAN BEM FE UNPAD!!” kemudian menyebut tanggal dan tempat di bawahnya. Pengumuman yang menurut saya lebih cocok memprovokasi mahasiswa untuk membakar kampus daripada mengajak buka puasa bersama. Itu lah kali pertama saya mengenal istilah “bubar”, terdengar boombastis.

Karena dasarnya orang Indonesia itu suka kumpul-kumpul, membentuk komunitas, dan reunian, banyaknya undangan buka bareng tergantung seberapa aktif kita berkomunitas. Komunitas ini bisa memang ada atau diada-adakan. Yang paling umum tentu saja buka bareng teman sekolah. Masih terdengar wajar kalau teman SMA, paling mentok SMP. Namun saya sempat terkagum-kagum melihat teman saya menghadiri buka bareng teman-teman SD-nya, malah saya ngga tahu keberadaan sebagian besar teman SD saya sekarang. Yang paling umum lainnya adalah buka bareng organisasi atau kepanitiaan. Yang paling mengada-ngada adalah buka bareng Asep se-Bandung Raya.

Buka bareng ini sepertinya udah jadi tradisi Ramadhan di … lingkungan saya pada khususnya. Mungkin di Indonesia pada umumnya? Ngga tahu juga sih. Yang pasti saya bisa jadi orang paling semangat kalau diajak buka bareng, sebisa mungkin hadir apalagi kalau yang mengundang adalah teman-teman yang lama tidak bertemu. Hanya yang sering mengganjal di hati adalah bahwa tradisi buka bareng hanya sebatas menjadi tradisi kumpul-kumpul yang agendanya tidak lebih dari makan bersama. Malah kadang mengesampingkan shalat maghrib apalagi kalau acara diadakan di tempat seperti mal atau restoran. Lebih ironis lagi kalau acara diadakan sampai larut tapi tidak ada agenda shalat tarawihnya, sehingga yang biasa shalat tarawih di masjid pun terpaksa harus melewatkan shalatnya. Bisa sih tarawih dilakukan sendiri di rumah, tapi godaan malasnya luar biasa apalagi dalam kondisi tubuh kita yang lelah dan mengantuk.

Saya pun akhirnya pernah beberapa kali melewatkan tarawih setelah pulang terlalu malam sehabis buka bareng. Sampai saya berkomitmen pada diri sendiri bahwa saya hanya akan membolehkan diri saya buka bareng jika saya berjanji untuk tidak meninggalkan amalan shalat tarawih, yang hanya ada di bulan Ramadhan tersebut. Fair kan?