Iya, handphone saya itu cerdas. Bahkan lebih cerdas dari pemiliknya. Dia bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa saya lakukan.

Dia membuat jarak antar kota, negara, bahkan benua sekalipun sedekat lemparan batu.
Dia mempersempit dunia menjadi hanya selebar kelor.
Dia membisiki saya apa yang sedang dikerjakan teman-teman, yang saya kenal ataupun tidak.
Ya, dia memperluas arti kata ‘teman’, karena kita bisa ber’teman’ dengan orang yang tidak kita kenal.
Dia bisa memprediksi kapan saya datang bulan.
Dia mengingatkan kapan saya harus minum air putih.
Dia bisa menirukan apapun yang saya ucapkan dengan karakter suara yang lucu.
Dia bisa melucu dan membuat saya tertawa terbahak-bahak, lalu jejingkrakan kegirangan.
Dia bisa membuat kening saya berkerut karena berpikir keras.
Dia bisa membuat saya stress kalau tiba-tiba ngadat minta makan sementara sumber makanannya jauh.
Dia bisa membawa kantor saya ke rumah.
Dia bisa mendekatkan yang jauh, namun sebaliknya juga, bisa menjauhkan yang dekat.
Dia bisa membuat saya kenyang.
Dia bisa membuat saya tidak mengantuk.
Dia bisa membuat saya lupa banyak hal, bahkan kewajiban menghadap-Nya sekalipun.
Terkadang dia pun membangunkan saya shalat malam atau sahur, dan tak menyerah sampai saya terbangun, untuk kemudian tertidur lagi.

Handphone saya itu memang cerdas, lebih cerdas dari pemiliknya. Gak terbayang gimana saya bisa hidup tanpanya.

Suatu hari tiga minggu lalu, handphone saya raib, tanpa pamit, terbawa penumpang lain di Kopaja 88.
Ternyata kehilangannya tidak semengerikan yang saya bayangkan. Saya tidak panik lalu kelabakan. Saya tidak serta merta membongkar tabungan lalu mencari gantinya. Hanya kejadian kecil yang saya tanggapi dengan, “Oooh … ya sudah” dengan ekspresi datar dan hidup pun berlanjut.

Setelah kejadian itu, saya hidup tanpa smartphone. Handphone yang tersisa adalah handphone dengan fungsi dasar SMS dan telepon, serta mendengarkan musik dan radio sesekali. Ternyata tidak seburuk yang saya pikirkan. Saya malah punya lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal lain tanpa ditemani smartphone. Saya membaca lebih banyak buku. Saya pun akhirnya sempat membereskan kamar saya yang lebih pecah dari kapal karam. Saya jadi punya waktu untuk mengobrol dengan tetangga kamar saya di kost. Saya lalu merasa memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan banyak hal, padahal 1 hari tetap 24 jam.

Handphone saya yang dulu itu memang cerdas. Mungkin sama cerdasnya dengan handphone-handphone kalian. Bisa jadi lebih cerdas juga dibanding pemiliknya. Tapi, pemiliknya seharusnya lebih cerdas. Tidak mudah dikendalikan oleh smartphone yang bahkan hidup matinya pun ada di tangan kalian … dan takdir Tuhan.
*fact: saya ga se’addicted‘ itu kok sama smartphone