“Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya…. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan.” — Tere Liye – Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah

… dan kebetulan itu bisa terjadi dimana saja, di moment-moment yang tidak terduga. Bisa saja di resepsi pernikahan seorang teman atau saudara, di acara reuni SMA, di pengajian remaja se-RW, di kegiatan Agustusan kelurahan, di tempat nge-gym, di mall, … hmm … abaikan yang terakhir, saya sudah pernah mencobanya dan gagal total, percayalah.
Lalu, sebagian orang mungkin bertemu jodohnya di tempat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bisa di kantor, atau di lingkungan rumah. Teman masa kecil tidak bisa diabaikan begitu saja kan?
Menyenangkan juga jika bertemu di tempat biasa kita melakukan hobi. Setidaknya kita sudah menemukan satu kesamaan tanpa melakukan usaha untuk mencarinya.
Di tempat-tempat lain juga bisa kan? Di acara seminar, di taman kota, di kolong jembatan, di tempat dugem, di ruang tunggu dokter, di kendaraan umum, di toko buku, atau … eits tunggu sebentar … toko buku?!
A ha! “Ide bagus … bertemu di toko buku”, saya mengangguk-angguk dan bergumam sendiri. Maka sejak memikirkan kemungkinan itu, selain karena doyan, saya punya misi khusus ke toko buku. HAHAHAHA #terbahakbahak.

Eh, tapi bagaimana pula orang sempat-sempatnya berpikir mencari jodoh di toko buku? Selama ini saja, saya biasanya hanya fokus pada rak-rak dan buku-buku yang saya cari. Sampai saya mengkhayalkan beberapa skenario seperti ini …

Di depan sebuah rak yang memajang buku-buku travelling, saya berdiri, sementara mata saya terus mencari buku tentang perjalanan keliling Eropa. Mata saya lalu tertumbuk pada satu buku di rak, baris kedua dari bawah, saya membungkuk dan hendak mengambil buku itu. Pada saat bersamaan ketika tangan saya hampir menyentuh sampul buku itu, sebuah tangan juga terjulur hendak mengambilnya. Saya urung mengambil, dan kembali ke posisi berdiri semula. Seorang pria muda berkulit sawo terlalu matang, si pemilik tangan yang terjulur itu sudah berdiri di hadapan saya.
“Suka travelling juga?”, sapanya ramah, sambil menjulurkan buku yang tadi hendak saya ambil.
“Iya”, jawab saya grogi, mengambil buku dari tangannya, ragu.
“Berencana keliling Eropa juga ya?”, tanyanya semakin ramah.
“Iya”, jawab saya tersenyum, masih terpesona dengan keramahannya.
“Rencananya mau kemana aja?”
… … …
dan kami pun mengobrol panjang lebar menceritakan rencana masing-masing, lalu melanjutkan obrolan seru itu di kafe dekat toko buku.

Ow ow … terlalu sinetron ya?

Atau bagaimana kalau skenarionya kayak gini …

Di antara rak majalah dengan rak buku-buku fashion, saya berjalan pelan sementara mata menelusuri rak majalah, tiba-tiba dari arah depan, seorang pria muda berjalan tergesa-gesa dengan mata tertuju pada buku yang sedang dibacanya. Dan … “Brak!!!”, kami bertabrakan. Dua buku yang saya pegang jatuh.
“Maaf … maaf … saya terburu-buru”, katanya sambil mengambilkan buku-buku saya yang jatuh.
Lalu, dia memerhatikan salah satu buku saya dan membaca judulnya. “Ah … ini dia yang saya cari dari tadi, di rak buku sebelah mana ya disimpannya?”, dia bertanya dengan mata yang tak lepas dari wajah saya.
Saya kikuk, lalu menunjuk salah satu rak di sudut belakang toko, “Ergh … disana”.
Matanya tetap tidak mengikuti arah telunjuk saya.
“Euhm, lagi ngga sibuk kan? Mau nunjukin langsung ngga dimana tepatnya?” Oooowh … senyumnya … saya tahu itu bermakna ‘lain’.
“Iya … boleh”, saya mengangguk pelan … memalingkan wajah ke arah lain dan tersenyum.
Eh … bukannya tadi dia bilang lagi terburu-buru?? Hush … abaikan!

Aduuh sinetron lagi!!!

Bagaimana kalau skenario yang ketiga ini:

Saya sedang asyik membaca di depan rak buku-buku Islam, ketika tiba-tiba seseorang menyapa, “Mbak …”
Seketika saya mendongak dan nampaklah di hadapan saya, seorang lelaki tersenyum sangat ramah. Sebelum sempat menjawab sapaannya saya terkesima melihat sekilas penampilannya. Kacamata berbingkai tipis membuatnya terlihat pintar (minimal ‘terlihat’ … hehehe), wajahnya bersih tanpa kumis dan jambang, rambutnya pendek dan rapi. Hemm, mungkin baru pulang kantor, karena dia masih mengenakan kemeja putih yang lengan panjangnya dilipat sampai bawah sikut, dia menatap saya tegas tapi lembut. Saya mencubit punggung telapak tangan saya sendiri,
“Ouch … sakit”, saya membatin, “Bukannya tadi saya sedang mengkhayal? Tapi yang di depan ini nyata, benar-benar nyata”
“I .. Iya, Mas?” saya menjawab tergeragap, berusaha tersenyum walaupun kaku.
“Mbak, udah nikah belum?” tanyanya kemudian.
“Apa??? Ya Tuhan, sungguh ini bukan mimpi, tapi tidak mesti secepat ini,” saya membatin, hati berdesir-desir.
“Mbak?”, tanyanya lagi, tak sabar menunggu jawaban saya.
“Be … belum Mas, belum … saya belum menikah!” saya menjawab dengan antusias, tiga kata ‘belum’ sekaligus. Saya tersenyum lebar, ekspresi saya sudah tidak terkontrol.
“Oh maaf, saya pikir sudah menikah. Tapi bisa dong dimintai pendapat? Diantara dua buku ini mana yang menurut Mbak lebih menarik?”, dia menunjukkan dua buku, kedua-duanya tentang wanita dan pernikahan masing-masing di tangan kanan dan kirinya, ah … kebetulan sekali, dua buku yang pernah saya baca. Ya … walaupun belum menikah, banyak buku pernikahan sudah saya lahap, habis!
Dalam hati saya melonjak-lonjak kegirangan. Cara pendekatan baru nih, setelah saya memilih salah satu buku itu, dia akan memberikan buku pilihan itu kepada saya.
“Mbak?”, tanyanya lagi, melihat saya hanya senyum-senyum sendiri.
“Yang ini aja Mas,” saya menunjuk buku di tangan kanannya, lalu dengan antusias (daaan … tidak terkontrol) menjelaskan dan membandingkan kedua buku itu.
“Ooh, ya ya … Oke kalau begitu. Terima kasih, Mbak, maaf sudah mengganggu”.
“Eh … sudah??” ekspresi senang saya seketika berubah jadi ekspresi heran, dan kecewa.
“Iya. Buku ini hadiah untuk istri saya, pasti dia suka. Terima kasih ya”, dia menjawab, dengan senyum terakhirnya yang paling manis, meninggalkan saya yang masih ternganga.

Ouuuhh … ssss**i**a**llll!

Sejak saat itu, saya mencoret “TOKO BUKU” dari list kemungkinan tempat-tempat menemukan jodoh.