– Ditulis pada: Minggu, 1 Juli 2012 –

Pagi ini, setelah terakhir kali membeli buku beberapa bulan lalu di book fair, saya kembali berkunjung ke salah satu toko buku diskon di Kota Bandung. Tujuan saya tidak pasti mau mencari buku apa, hanya menyusuri satu per satu rak lalu mengambil buku yang masuk wishlist saya yang secara kebetulan saya temukan di rak. Maka dapatlah empat buku yang total harganya tidak lebih dari Rp 120 ribu. Alhamdulillah :)

Di rak paling dekat dengan pintu masuk toko, saya menemukan sebuah novel yang entah terjemahan dari bahasa Korea atau hanya penulisnya yang menggunakan nama pena kekorea-koreaan bertengger bersama buku-buku terbitan baru lainnya. Reaksi saya saat itu, hanya meliriknya sesaat lalu berlalu.

Saya melewati rak-rak buku manajemen, ekonomi, hukum, agama, hobi, dan langsung menuju rak-rak novel di bagian belakang toko. Saya membaca setiap judul buku di setiap tahapan rak di bagian novel. Kali ini sedikit mengerutkan kening, ketika novel yang dari judulnya sepertinya ber-setting di Seoul berada di jajaran novel-novel di suatu rak. “Ada lagi”, pikir saya. Saya tak ambil pusing dan kembali menyusuri rak demi rak.

Semakin ke belakang, reaksi saya kali ini tidak hanya meliriknya sesaat atau mengerutkan kening, saya agak membelalakkan mata lalu geleng-geleng kepala ketika lagi-lagi di rak novel remaja saya menemukan dua novel, yang entah novel terjemahan Korea atau penulisnya yang bernama pena kekorea-koreaan. Di bagian cover, tercetaklah huruf-huruf Korea yang entah bermakna apa. Dari saat itu, saya mulai fokus mencari novel-novel kekorea-koreaan. Bukan untuk membeli, hanya ingin tahu, seberapa banyak.

Satu, dua, tiga, empat, lima, bahkan lebih dari lima, saya menemukan beberapa buku lain yang bertemakan Korea. Bahkan saya menemukan dua novel dengan menampilkan wajah pria khas (artis) Korea di covernya, salah satunya malah diberi judul … hmm, saya lupa, pokoknya mengandung kata Kim Bum. Rasa-rasanya itu nama artis Korea? Gambar yang tercetak di cover itu mungkin juga foto Kim Bum ya?

Ah sudahlah, tidak kah ini berlebihan? Kenapa banyak orang di negaraku ini menjadi demam Korea. Tidak cukup dengan booming-nya boybands dan girlbands a la Korea, sekarang demam pun menjangkiti toko buku. Ini yang namanya penjajahan bentuk baru (beuh … beuratt!!).

Seingat saya, Korea mengawali penyerangannya melalui infiltrasi drama-dramanya di stasiun TV swasta Indonesia. Saya awalnya termasuk salah satu penggemarnya, tapi tidak segandrung teman-teman lain yang sampai mengoleksi bajakannya atau mengunduh serialnya. Kegemaran saya nonton drama Korea itu hanya sebatas yang ditayangkan di TV, itu pun tidak selalu menonton setiap episodenya, sehingga lama-lama minat saya terhadap drama-drama Korea itu pun berangsur-angsur hilang.

Saya akui, dari segi bobot cerita dan dialog antar tokohnya memang drama Korea lebih layak untuk ditonton daripada sinetron Indonesia. Pada satu hari sekitar dua minggu yang lalu, saya terbangun lebih pagi dari biasanya, sebelum jam 4 pagi, waktu itu TV saya masih hidup dan secara kebetulan sedang menayangkan drama Korea. Saya mengucek-ngucek mata, sambil membatin, “Sepagi ini?”, karena tidak bisa tidur lagi, akhirnya nonton lah film itu sekitar 5-10 menit, yang ternyata sudah mendekati akhir cerita. Diantara dialog yang saya tangkap, berhamburan kalimat-kalimat yang menurut saya bijak tentang mimpi dan cinta, seketika saya teringat sinetron Indonesia yang menurut saya tidak mengandung pesan baik apapun di setiap adegannya, oh ya … ada mungkin, yaitu “Jika menginginkan sesuatu maka berusaha lah dengan cara apapun, bahkan cara jahat sekalipun”. Iya kan? Bener kan?

Maka mulai saat ini, mari beramai-ramai nonton drama Korea, baca novel bertemakan Korea, bergaya a la artis Korea, mendengarkan lagu-lagu Korea. Loh??!! Sekalian aja kan? Bangsa kita kan lagi krisis identitas, dari ketiadaan figur yang patut ditiru.

Hush … hush … jangan menggerutu >.<
Yuk ah back to work, bekerja menjadi sebaik-baiknya diri sendiri.