Melalui tulisan yang kukutip dari blognya, dengan sedikit penyuntingan, aku ingin memperkenalkan … Suamiku :)

***

Adalah Hidupku

Menjadi seorang Sarjana Ekonomi, gelar yang baru saja aku dapatkan 6 Agustus 2007 yang lalu, merupakan sebuah mimpi besar satu dasawarsa ke belakang. Tak pernah terbayangkan sebelumnya seorang anak buruh pabrik tekstil lulusan SD dan berpenghasilan rendah dapat mengenyam pendidikan tinggi hingga mendapatkan gelar sarjana. Di antara sanak keluarga terdekat, baik dari Ayah maupun Ibu, tidak seorang pun saudara yang bernasib sama sepertiku. Kebanyakan pendidikan mereka hanya hingga tingkat SMA, itu pun yang satu generasi denganku, generasi diatasku malah hanya sampai sebatas SD. Sebuah anugerah yang patut kusyukuri.

Begitulah … aku ditakdirkan lahir dari keluarga sederhana di sebuah kampung di tengah Kota Bandung, yang waktu aku lahir masyarakat sekitar rumahku masih menggantungkan hidupnya pada pertanian. Saat aku lahir pada tahun 1983, sawah-sawah dan kebun masih terbentang begitu luasnya, setidaknya begitulah yang diceritakan Ibu. Ibu pun bercerita, bagaimana kakekku memiliki beberapa hektar sawah di sekitar wilayah Buah Batu.

Dari masa kecilku hingga menginjak Sekolah Dasar, aku saksikan perubahan itu, yang kata orang perubahan menuju kemajuan peradaban manusia. Di hadapan mataku, sawah-sawah dan kebun-kebun yang hijau itu berganti menjadi gedung-gedung. Pabrik tekstil besar didirikan di kampungku, tak pelak mata pencaharian masyarakat pun berubah. Tak terkecuali Ayahku yang pada masa mudanya berada di sawah sambil beternak itik, pun Ibuku dan keluargaku yang lain. Namun setelah perubahan itu, mereka pun ikut berubah, Ayahku menjadi seorang penjahit dan bekerja untuk sebuah pabrik tekstil, begitupun Ibuku sempat menjadi pengrajin rajut di Sentra Rajut Binong Jati yang terkenal itu.

Begitulah orang tuaku membiayai sekolahku. Cukupkah? Tentu tidak. Untuk memenuhi kebutuhan pokok saja kami sulit. Maka sejak masuk SD, aku sudah mengalami kesulitan biaya, tapi aku termasuk siswa berprestasi. Di SD sering menjadi juara kelas, setidaknya tiga besar di kelas, oleh karena itu aku mendapatkan beasiswa dari program GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh), aku dipertemukan dengan sebuah keluarga yang berada dan begitu baik mau membantu menanggung biaya sekolahku dari kelas 5 hingga lulus SD. Di samping itu, disela-sela waktu istirahat sekolah, aku berjualan es buah. Alhamdulillah dapat menabung untuk tambahan keperluan sehari-hari dari sana. Sejak SD, aku pun sudah aktif di kegiatan Pramuka, berkemah, belajar simpul, baris berbaris, dan P3K.

Masa SMP-ku pun tidak jauh berbeda. Karena tidak mendapatkan lagi bantuan dari program GNOTA, kembali aku mengalami kesulitan biaya, namun aku tetap termasuk siswa yang berprestasi sehingga mendapatkan beasiswa pendidikan lagi dari Dana JPS dari Bank Dunia. Ketika SMP, disamping KBM biasa, aku lebih tertarik pada kegiatan olah raga. Aku bergabung dengan klub voli dan klub sepak bola, berpengalaman mengikuti turnamen-turnamen intra maupun ekstra sekolah. Di SMP pun aku pernah mencoba berjualan sepatu ke teman-teman.

Memasuki dunia SMA, terasa banyak perubahan paradigma yang aku rasakan. Masuk ke salah satu SMA favorit di Kota Bandung ternyata melahirkan pengalaman yang menarik. Disana aku mulai mengenal wawasan yang lebih luas lagi, dari seorang diri yang cenderung pendiam dan minder dalam pergaulan, terutama dengan teman-teman yang berasal dari keluarga berada, saat SMA perlahan-lahan aku mulai terbuka, bergaul dengan berbagai jenis teman, baik yang berada maupun yang sama seperti aku. Pengalaman-pengalaman menghadiri acara ulang tahun di kafe atau hotel berkelas dengan ritual-ritualnya menjadi sebuah pengalaman baru yang berharga waktu itu. Aku mulai banyak jalan-jalan mengetahui seperti apa dunia luar itu, aku baru banyak mengenal Kota Bandung semasa SMA dengan beragam kesibukannya. Di SMA aku mulai aktif berorganisasi sejak awal sekolah hingga lulus kelas tiga. Beberapa organisasi aku ikuti waktu itu, bahkan dalam waktu yang bersamaan. Aku pernah menjadi Ketua Bidang 7 di OSIS yang mengelola kegiatan olahraga dan kreativitas kesenian seperti kegiatan bazaar dan kejuaraan-kejuaraan antar kelas, disamping itu aku menajdi Wakil Ketua Kelompok Diskusi Keagamaan (KDK)-DKM At-Taqwa, sebuah Kelompok Kerohanian Islam di SMAN 8 Bandung. Disana aku menimba ilmu keislaman. Di luar sekolah aku pun aktif sebagai remaja mesjid yang biasa mengadakan kegiatan Ramadhan, Qurban, dan peringatan Hari Besar Agama Islam lainnya.

Sedikit berbeda dengan masa SD dan SMP, dalam hal akademis aku tidak mendapatkan prestasi yang baik selama SMA. Bahkan cita-cita awalku sejak kecil untuk menjadi seorang arsitek pun pudar ketika di kelas 3 aku tidak dapat lulus ke jurusan IPA. Namun Alhamdulillah aku masih bisa mendapatkan beasiswa dari Bank Dunia yang bisa menopang SPP bulananku. Di samping itu untuk menambah uang saku, selama di SMA aku berjualan kue di kelas setiap hari. Prestasi terbaik SMA dalam akademik aku raih di kelas 3, bisa masuk 13 besar dan dalam UAN memiliki nilai sedikit di atas rata-rata.

Di akhir masa SMA aku sangat berniat sekali untuk kuliah, namun keraguan benar-benar menghampiriku, aku masih tidak yakin bisa membiayai kuliah yang mahal itu, namun akhirnya aku pun memberanikan diri mendaftar SPMB jurusan IPS, dengan pilihan 1 Manajemen UNPAD, dan Teknologi Pendidikan UPI di pilihan 2, dengan biaya sendiri. Dan ternyata, tidak lulus.

Aku sedih, namun apa boleh buat itulah kenyataan yang harus aku terima, aku pun mencoba mencari pekerjaan dengan modal ijazah SMA favorit dan pengalaman berdagang dan organisasi yang kumiliki. Berbagai pengalaman menarik pun aku alami dalam pencarian kerja. Sempat menjadi sales panci Teflon keliling ke kampung-kampung, mengikuti training di sebuah perusahaan asuransi untuk mencari nasabah ke daerah-daerah, lika liku menjadi OB pada acara resepsi pernikahan di gedung-gedung pun menjadi pengalaman yang berharga. Aku pun sempat bekerja 3 bulan di sebuah perusahaan konveksi di bagian sablon secara manual. Hingga suatu waktu aku diterima menjadi seorang pramuniaga Toko Buku Gramedia yang terkenal itu setelah melalui tes psikotes dan wawancara. Aku ditempatkan di Gramedia Bandung Super Mal yang waktu itu merupakan mal terbesar di Kota Bandung. Disana aku dikontrak 3 bulan saja karena hanya diperuntukkan menghadapi akhir tahun yang biasanya membludak pengunjungnya karena ada hari raya dan tahun baru. Namun disana pun aku dapat pengalaman yang berharga dalam melayani konsumen dan merasakan seperti apa hiruk pikuknya bekerja di sebuah mal besar.

Selepas habis kontrak dari Gramedia, bersama teman SMA-ku, aku mencoba menjalani usaha bersama karena kebetulan dipertemukan dengan seorang investor yang mau memberikan modal. Maka didirikan sebuah kantin kue dan snack yang diberi nama Wiratama di Jl. Logam Bandung yang bersebelahan dengan sebuah lembaga bimbingan belajar. Disana aku menjadi pengelola utama, karena kedua temanku adalah mahasiswa yang sedang kuliah. Karena bekerja sama dengan temanku yang mahasiswa itu, aku terdorong untuk kuliah dan mencoba ikut SPMB lagi. Maka sambil menjalankan usaha tersebut, satu bulan aku mengikuti intensif persiapan SPMB 2003 di sela-sela waktu luang di lembaga bimbingan belajar di sebelah tempat usahaku.

Pilihan SPMB yang kupilih masih sama dengan pilihan sebelumnya, karena aku benar-benar ingin menjadi seorang manajer yang menguasai ilmu manajemen terutama di perusahaan. Singkat cerita aku dinyatakan lulus SPMB dan diterima di Jurusan Manajemen FE UNPAD yang aku cita-citakan. Aku sangat bahagia sekali, namun hanya beberapa saat saja karena aku harus memikirkan dari mana aku dapat membayar biaya kuliahku??

Setelah mencari info kesana-kesini, mencoba mencari pinjaman sana-sini, akhirnya aku menemukan sebuah harapan besar. Ada sebuah program beasiswa yang siap menanggung biaya dari awal kuliahku hingga tahun kedua, dan uang saku hingga tahun ketiga plus asrama dan pembinaan intensif, salah satu anugerah terbesar dalam hidupku: Beastudi Etos Dompet Dhuafa Republika. Setelah berjuang memenuhi segala persyaratan dan melalui proses seleksinya akhirnya aku bisa mendapatkannya, aku pun dapat memulai hari pertama kuliahku dengan semangat tinggi karenanya.

Selama menjadi seorang mahasiswa, wawasanku semakin terbuka dan semakin merasa banyak sekali yang belum aku ketahui. Semakin banyak pengalaman baru lagi yang lebih berkesan dibandingkan masa-masa sebelumnya. Dalam empat tahun menjadi mahasiswa, semua mimpi-mimpi, cita-cita dan target yang aku inginkan di awal kuliah semua bisa aku raih. Lulus selama 4 tahun dengan IPK minimal 3.00 dengan pengalaman berorganisasi dan sambil bekerja/berbisnis bisa kudapatkan maksimal dengan segala dinamikanya.

Dalam hal akademik, meski sempat terseok-seok ditahun ke-2 dan ke-3 karena begitu banyaknya aktivitas selain kuliah, akhirnya target itu bisa aku dapatkan. Semester 8 aku bisa menyelesaikan kuliah dengan perolehan IPK 3.09.

Dalam hal keorganisasian, menjadi Koordinator Regional Jawa Barat di Organisasi FoSSEI (Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam) menjadi jabatan tertinggi yang aku raih. Pada posisi ini aku berkesempatan menjalin hubungan dengan Perguruan-Perguruan Tinggi se-Indonesia, pada posisi itu pula aku berkesempatan untuk berkunjung ke beberapa PT lain dalam aktivitas organisasi seperti UI, UGM, UMS, Uniku, dll dengan biaya yang ditanggung oleh pihak kampus dan organisasi internal Unpad sebagai duta ke luar. Pada posisi ini pula aku berkesempatan menjalin hubungan dengan perusahaan-perusahaan atau instansi-instansi yang berhubungan dengan aktivitas perekonomian syariah seperti Bank Indonesia, ASBISINDO (Asosiasi Bank SyariahIndonesia), MES (Masyarkat Ekonomi Syariah), PNM (Permodalan Nasional Madani), BNI, BMI, BSM, dst.

Di samping itu, aku pun aktif di sebuah Koperasi Mahasiswa pertama di Indonesia yaitu KKMB (Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa Bandung) yang bersejarah melahirkan tokoh-tokoh nasional seperti Muslimin Nasution, Bustanul Arifin, Muhammad Iqbal, Fenny Mustofa, Aminudin, dll. Di KKMB aku menjabat Ketua Bidan Usaha yang mengelola unit-unit usaha yang ada seperti: wartel, warnet, rental LCD proyektor, dan rumah makan.

Pada tingkat 1 dan 2 kuliah aku sempat menjadi Guide Freelence di pesantren Daarut Tauhiid Bandung di sela-sela waktu kuliah, terutama di akhir pekan. Disana aku menjadi pemandu wisata rohani untuk para tamu yang berkunjung ke pesantren DT Bandung, selain untuk mendapatkan penghasilan tambahan, disana aku juga menjalani pendidikan keislaman menjadi seorang santri karya yang juga mendapatkan pendidikan dan pelatihan. Disana hanya sampai pada tahun ke-2, karena ternyata aktivitas tersebut mengakibatkan penurunan akademik. Aku memutuskan untuk berhenti dan mencoba memperbaiki kuliah sambil mencari sumber penghasilan lain yang lebih baik tetapi tidak sampai mengganggu akademik.

Selama 3 tahun awal kuliah, sebagai penerima Beastudi Etos dari Dompet Dhuafa Republika aku menjalani proses pelatihan dan pembinaan intensif selama tinggal di Asrama Beastudi Etos tentang pengembangan diri, leadership, entrepreneurship, hingga pemahaman tentang keislaman. Satu tahun sekali diadakan temu nasional di Parung Bogor bersama penerima Beastudi Etos lainnya yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Banyak pengalaman berharga yang aku dapatkan di acara tersebut.

Di tingkat akhir kuliah ketika sedang menyusun skripsi, aku mencoba melamar menjadi seorang supervisor/pendamping bagi mahasiswa penerima Beastudi Etos di asrama, dan diterima. Hingga tulisan ini dibuat, aku masih menjalaninya. Aku menjadi asisten koordiantor wilayah Bandung yang bertanggungjawab untuk menyelenggarakan pendidikan dan pembinaan hingga pelaporan keuangan dari setiap aktivitas yang dilakukan di wilayah Bandung.

Demikian yang bisa saya coba tuliskan tentang sekilas kehidupan saya hingga sekarang, lebih banyak lagi pengalaman yang tidak dapat tertuliskan sebetulnya. Namun semoga tulisan ini bisa mewakilinya.

Bersyukur sekali mendapatkan banyak anugerah. Bagi orang lain mungkin sesuatu yang biasa, tapi bagiku semua itu luar biasa.

Mimpi-mimpiku dulu, kini telah menjadi kenyataan.

Semoga mimpi-mimpi yang lainnya segera menjadi kenyataan pula.

Terima Kasih Ya Allah.

*****

Tulisan asli diambil dari sini, dipostkan pada tanggal 27 November 2007.

Saat ini dia bekerja di salah satu bank milik negara, dan memiliki seorang istri yang mencintainya :-) .