Tidak hanya datang bulan, cinta pun ternyata punya siklus. Saya persempit pengertian kata “cinta” dalam tulisan ini hanya untuk hal yang berkaitan dengan hubungan sepasang manusia, yang dalam kamus bahasa umum disebut pacaran, atau hubungan lain semacam itu.

Cinta … jika itu sebuah siklus, akan dimulai dengan suatu perkenalan, lalu pendekatan, saling merasa nyaman, kemudian jadian. Awal jadian masih kasmaran. Namun ketika cinta memilih hinggap pada dua orang yang tidak ditakdirkan untuk bersama (saya tetap pada keyakinan bahwa jodoh adalah takdir yang ditetapkan, tapi bisa diusahakan dengan memperbaiki diri agar pantas bersanding dengan seseorang yang baik), dengan cara apapun, kedua orang yang (setidaknya pernah) saling jatuh cinta itu akan berpisah. Putus, lalu patah hati. Dalam beberapa hubungan, ada pasangan yang mengusahakan untuk balikan lagi, tapi pada akhirnya tetap akan sampai pada dua kemungkinan, yaitu putus dan patah hati, atau bahagia sampai pelaminan.

Selesai?

Ya, saya pernah berpikir siklus itu akan berulang setelah ‘putus’, teruuss akan begitu sampai menemukan jodoh yang sesungguhnya. Tapi sebenarnya ada satu proses lagi yang suka tidak suka harus dilewati para petualang cinta ini (bahasanya, bok! kagak nahan!).

Apa?

MOVE ON!

Jujur saya katakan, saya baru familiar dengan istilah move on ini beberapa waktu yang lalu ketika seseorang dengan lantang ‘meneriakkannya’ langsung di cuping telinga saya. Ya, terdengar lebih populer memang jika dibandingkan dengan kata melupakan atau mengikhlaskan, padahal menurut kamus bahasa saya sendiri arti move on dalam konteks ini tidak jauh berbeda dengan melupakan atau mengikhlaskan. Kembali aja ke pengertian dasarnya. Move on, move forward. Tidak berkubang dalam kenangan masa lalu, tapi bangkit menghadapi masa depan.

Dalam banyak kasus, move on ini sendiri bisa memakan waktu yang lebih lama daripada proses-proses lain dalam siklus cinta itu. Semua tergantung pada kedalaman luka yang dialami dan kenangan yang membekas, tingkat kerapuhan hati, dan saya percaya satu hal, yaitu tingkat ketergantungan hati kita kepada Tuhan.

Oke … jadi, kenapa saya membahas MOVE ON?

Pasalnya saya baru selesai membaca sebuah novel baru berjudul Trave(love)ing. Anda boleh menebak isi novel ini dari judulnya. Saya pun punya persepsi sendiri ketika membaca judulnya. Tidak akan jauh dari cerita tentang traveler yang jatuh cinta dalam perjalanannya. Tapi, terdapat judul kecil di bawah judul besar yang tercetak pada sampul bernuansa pink pudar dengan gambar sebuah kompas “patah hati” ini, berbunyi “Hati Patah Kaki Melangkah”. Terpatahkan tebakan saya, jelas novel ini bukan tentang jatuh cinta.

Novel ini merupakan novel keroyokan karya empat penulis yang terhubung satu sama lain dalam satu linimasa di suatu media sosial. Begitulah seharusnya media sosial dimanfaatkan, bukan hanya untuk mengicaukan kegalauan tetapi juga menumbuhkan ide untuk menghasilkan karya yang bisa dinikmati lebih banyak orang.

Kalau melihat menggunakan kacamata pasar, saya menilai keempat penulis ini berani dengan memunculkan tema traveling dan cinta. Mengingat di pasaran sudah banyak buku serupa. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam beberapa tahun terakhir, traveling, tidak hanya perjalanan di dalam negeri namun juga sampai luar negeri, telah menjadi gaya hidup masyarakat terutama di perkotaan, terlebih lagi setelah muncul maskapai-maskapai penerbangan low cost yang menawarkan harga agak kurang masuk akal jika kita berpikir sepuluh tahun ke belakang. Sejak saat itu pula, buku panduan traveling mulai menjamur, walaupun beberapa penulis traveling (sebutlah istilahnya travel writer) sebenarnya sudah ada jauh sebelum si maskapai low cost itu parkir di bandara-bandara di berbagai negara.

Kemudian, jenis buku traveling itu makin beragam jenis dan cara penuturannya. Tidak hanya berupa panduan yang menjelaskan bagaimana mencapai A dari B, tetapi juga dibuat dalam banyak cerita fiksi maupun jurnal pengalaman harian, dengan gaya bertutur jenaka, deskriptif, atau yang bersifat kontemplasi. Dan novel ini merangkum semuanya. Ada bagian-bagian yang membuat tertawa, tetapi ketika memori masing-masing penulis terhisap ke masa lalu kelabu, penuturannya pun menjadi sangat sendu dan membawa hati para pembacanya untuk larut dalam perasaan si penulis.

Novel ini menceritakan empat orang teman (yang mana setiap penulis mewakili diri mereka masing-masing dalam novel ini), yang melakukan perjalanan dalam misinya untuk MOVE ON. Ada lah Dendi yang melakukan perjalanan tak direncanakan ke Thailand demi mengejar sepotong hati seorang cewek yang baru dikenalnya, dengan keyakinan cewek itu bisa membuat hatinya beralih dari masa lalu. Saya sih lebih suka menyebutnya mengejar masa lalu yang ada pada sosok orang yang baru (cmiiw ya Den). Di Indonesia, Grahita melakukan perjalanan ke Bali bersama teman-temannya demi mengalihkan kepenatan pikiran yang terus dipenuhi si Mr Kopi. Di sisi lain, Roy bersama temannya, Arya, melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur untuk menyaksikan tim sepak bola kelas dunia berlaga, sekaligus untuk memalingkan ingatan dari mantannya yang sudah lebih dulu berpaling ke lain hati. Di belahan dunia lain, terpisah jarak ribuan mil, Mia yang beruntung ditugaskan kantornya ke Dubai, ternyata membawa serta sekoper kenangan dalam perjalanannya ke negara dengan berbagai fasilitas “ter-“ di dunia tersebut.

Keempatnya melakukan perjalanan ke empat tempat yang berbeda, satu kesamaan mereka, mereka melangkah dengan sama-sama membawa hati yang patah, dan mereka terhubung satu sama lain dalam satu linimasa di sebuah media sosial, atau pertemuan tak disengaja dalam perjalanan mereka.

Dengan penuturan yang deskriptif, para penulis mencoba mengajak para pembacanya bertualang bersama mereka menyusuri tempat-tempat yang mereka lalui.
Cukup duduk di meja baca Anda, dengan membaca novel ini Anda ikut merasakan bagaimana kebasnya perjalanan berjam-jam menggunakan sleeping bus yang melintas dari Singapura sampai perbatasan Thailand. Anda juga akan merasakan derasnya Sungai Ayung yang mengombang-ambingkan perahu karet Grahita, atau bagaimana rasanya duduk di atas punuk unta di middle of the middle east, atau melihat langsung bagaimana lima orang gay hampir berciuman di MRT di Malaysia.

Di tempat yang jauh dari rumah itulah mereka menemukan momen move on-nya masing-masing.

Kalau saya rangkum ending ceritanya adalah … *bukan spoiler

Lemparkan masa lalumu dari ketinggian Burj Khalifa, believe that you’ll never walk alone, ada sepotong hati yang menyambutmu di sebuah kafe di Khao San Road, lalu pulanglah ke Jakarta, temui Agnes Monica, dan katakan padanya, “Siapa bilang cinta tidak mengenal logika?”

Cukup? Ya.

Kalau boleh saya menyebut kelemahan buku ini adalah dalam hal penyuntingan, diantaranya masih terdapat kesalahan pengetikan, penggunaan tanda baca yang kurang tepat, atau tata letak, yang walaupun tidak merubah makna yang ingin disampaikan si penulis, namun cukup mempengaruhi sepersekian persen kualitas buku. Terdapat satu atau dua inkonsistensi, misal dalam penggunaan kata “saya” dan “aku” pada dialog antara Dendi dan Riani di Fullerton Park. Juga ada ketidaklogisan dalam keterangan waktu di bagian epilog. Epilog dibuka dengan kalimat “beberapa bulan kemudian”, namun Mia masih punya sisa coklat dari Dubai untuk dibagi-bagikan dan Roy masih harus membayar tagihan karena perjalanannya ke Malaysia.

Semoga bisa diperbaiki di cetakan berikutnya ya :)

Pada akhirnya, mengenai tema besar dari novel ini “move on”, saya lebih percaya bahwa:

Time will heal
Traveling hanya salah satu cara. Karena move on bukan hanya masalah mengambil jarak dengan sang mantan, tetapi melepaskannya dengan rela dari hati. Menerima dengan ikhlas bahwa di luar hal-hal yang bisa diperjuangkan ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan, dan memercayai selalu ada alasan mengapa seseorang di masa lalu tidak bisa ada di masa depan kita.

Time will heal
Bahwa waktu memungkinkan kita untuk melihat dunia dan menemukan diri kita tampak seperti makhluk mikroskopis di atas cawan jagat raya, waktu memampukan mata hati kita melihat masalah dari sisi positif, waktu menguatkan kaki kita untuk melangkah menemukan hal-hal baru, dan waktu menyadarkan kita untuk bersyukur pada Si Pemilik Waktu atas anugerah hidup yang telah diberikan.

Time will heal ...

– AR –

*Special thanks to Grahita buat buku gratisnya :)

Identitas Buku:

Judul : Trave(love)ing, Hati Patah Kaki Melangkah
Penulis : Roy Saputra, Mia Haryono, Grahita Primasari, Dendi Riandi
Tebal : 256 hal (termasuk endorsement, cover dalam, kata pengantar, daftar isi, profil penulis, dll)
Penerbit : Gradien Mediatama