Pada waktu yang sudah kuperkirakan, dia turun dari angkutan kota di pinggir jalan beberapa meter dari depan warung kopi tempatku menunggu.

Sesaat dia merapikan baju dan rambut lurus sebahunya, mengeluarkan tongkat lipatnya dari dalam tas, lalu mengambil ancang-ancang hendak menyeberang.

Aku segera menghampirinya. Seperti menyadari keberadaanku, dia menengok ke arahku, lalu tersenyum, manis sekali. Tanpa basa basi, aku mengambil salah satu ujung tongkatnya, sementara dia memegang salah satu ujungnya yang lain.

Dan aku, menyeberangkannya.

***

Semua berawal dari sebulan yang lalu pada hari pertamaku masuk kantor baru, sebuah perusahaan penerbitan buku yang cukup berkembang sejak didirikan dua tahun terakhir. Beruntung, mereka mau menerimaku. Dengan berbekal pengalaman dalam organisasi kepenulisan dan rekomendasi dari seorang teman di organisasi tersebut, aku melamar sebagai staf editor. Mereka melakukan wawancara tertulis, langsung di depan calon atasanku. Aku diterima dan mulai bekerja sebulan yang lalu.

Pada hari pertamaku, aku berangkat lebih pagi dari jam kantor normal. Aku ingin memperkirakan berapa waktu perjalanan yang kubutuhkan dari kost sampai kantor, sekalian mengambil kesempatan melihat-lihat kantorku sebelum orang-orang datang.

Di sebuah warung kopi pinggir jalan, aku mampir sebentar hendak membeli sarapan. Ketika tak lama duduk, turunlah seorang perempuan dari sebuah angkutan kota. Rambutnya lurus terurai, mengenakan pakaian sederhana tapi pantas. Aku baru menyadari kesulitannya ketika dia berdiri mematung agak lama di pinggir jalan tanpa melakukan apapun. Beberapa kali dia berusaha menghentikan kendaraan dari arah kanannya namun tetap ragu melangkah. Aku menghampirinya. Menyadari ada orang di dekatnya, dia memintaku membantunya.

“Terima kasih”, ucapnya ketika kami sampai di seberang. Aku membiarkannya berjalan di depanku, lalu mengikutinya dari jarak beberapa meter untuk memastikan dia selamat sampai tempat tujuannya.

Di depan gedung sebuah lembaga kursus bahasa asing, dia berbelok dan masuk. Sesaat aku berdiri sampai dia menghilang di balik pintu, lalu berbalik arah kembali ke warung kopi pinggir jalan, dan bergegas menuju kantor baruku yang sebenarnya berlawanan arah dengan gedung dimana gadis itu masuk.

Aku tiba lima menit sebelum jam kantor, tidak ada waktu lagi untuk berkeliling melihat ruangan demi ruangan di kantor kecil itu. Tak apa, setidaknya aku berkesempatan membantu seorang gadis manis menyeberang jalan.

***

“Terima kasih”, aku tersadar setelah sampai seberang. Seperti biasa dia melemparkan senyum manisnya. Aku mengangguk dan balas tersenyum, seolah-olah dia melihatku. Lalu dia berjalan, dan seperti biasa aku mengikutinya beberapa meter di belakangnya.

Dan selalu begitu aktivitas pagiku sebulan terakhir. Aku menyandang status baru sebagai pengagum rahasianya. Tidak ada bincang-bincang atau sekedar bertanya kabar, lagi pula aku tidak punya cukup keberanian dan kemampuan untuk melakukannya, melihatnya tersenyum di pagi hari saja cukup memberiku energi untuk beraktivitas sepanjang hari.

Pada malam hari aku tidur lebih cepat. Selain untuk meredam rasa rinduku yang membuncah sampai ubun-ubun, aku ingin cepat malam berlalu sehingga bisa bertemu lagi dengannya di pagi hari.

*

Pada pagi yang lain, aku berangkat lebih cepat dari biasanya. Inilah saatnya, di tanganku aku menggenggam sebuah amplop berisi surat yang kutulis tangan. Hanya pertemanan yang ingin kutawarkan, walaupun aku tidak tahu bagaimana kami akan menjalani pertemanan ini.

Sudah setengah jam aku menunggu di warung kopi langgananku, dan dia belum juga nampak. Dengan gelisah kulirik jam tangan, seharusnya dia datang 15 menit yang lalu. Aku berdiri, berjalan ke pinggir jalan, lalu melihat ke arah biasa angkotnya lewat. Beberapa angkot melintas tanpa berhenti.

Jam 8 kurang 15 menit. Aku mendengus kesal, kembali ke warung, membayar sarapanku, lalu berjalan dengan gusar menuju kantor. Seharian itu aku murung.

*

Seminggu berlalu, gadis itu tidak pernah tampak lagi. Berbagai pikiran buruk mulai mengacaukanku. Apakah dia sakit? Atau dia sudah tidak berkegiatan di tempat kursus itu? Jangan-jangan kecelakaan, bukankah dia sering bepergian sendirian? Argh, tidak mungkin, aku menggeleng kencang.

*

Dua minggu hingga emapat minggu belalu, keadaan tidak banyak berubah. Aku masih menunggunya setiap pagi di warung kopi, menunggunya sampai lewat 15 menit dari jam biasa dia turun dari angkot, dan … selalu kecewa.

*

Hingga suatu pagi, hampir dua bulan sejak dia tidak pernah tampak lagi, seperti biasa aku mampir di warung kopi pinggir jalan. Sudah tidak ada lagi harapan tersisa. Setiap kali kesana, aku hanya duduk dan memandang kosong ke pinggir jalan.

Saat itu, aku hampir saja tersedak kopi susu ketika seseorang yang wajahnya sangat kukenal turun dari angkutan kota. Secara refleks aku berdiri hendak menghampirinya, tapi urung menyadari ada sesuatu yang berbeda padanya.

Dia turun dari angkot bersama seorang lelaki, mungkin pacarnya, dan nampak celingak celinguk seperti mencari seseorang. Dia menunggu agak lama di pinggir jalan sambil sesekali melihat jam tangannya.

Melihat? Dia bisa melihat!

Aku tidak tahan melihatnya lama-lama … melihatnya bersama laki-laki itu. Aku segera meraih ranselku.

“Euuaaa uu aaaa”, tanyaku pada ibu penjaga warung. Aku menunjuk pisang goreng dan mengacungkan dua jari tangan, lalu mengangkat gelas berisi kopi susu yang tidak tandas kuminum. Suara sengauku meracau, mencoba berkomunikasi.

“Empat ribu lima ratus”, jawab Si Ibu Warung, jari-jarinya ikut memberi isyarat. Aku mengeluarkan uang lima ribuan dan langsung keluar tanpa mengambil kembaliannya.

Aku tertegun sejenak di depan warung. Di seberang jalan sana dia berjalan bersisian dengan lelaki itu.

Ah … aku patah hati.