Sepi itu rasanya selalu sama … kosong.

***

Waktu kecil, saya merasa kesepian kalau saudara-saudara saya tidak ada di rumah. Saya juga merasa kesepian kalau pulang sekolah tidak menemukan Mamah. Dan saya akan sangat senang menyambut Bapa pulang dari kantor selepas maghrib, karena rumah juga terasa sepi tanpanya.

Beranjak remaja, saya mulai menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah. Menghabiskan hari bersama guru dan teman-teman saya di sekolah. Saya mulai menemukan kesenangan baru di luar. Ketika liburan datang, saya akan merasa kesepian. Ingin liburan cepat selesai dan bertemu kembali dengan teman-teman saya.

Lalu, masuklah saya ke SMA berasrama. Tidak hanya siang hari saya bersama teman-teman, tapi sepanjang hari, dari pagi sampai malam. Bersama mereka adalah ‘kebiasaan’. Ada yang hilang ketika saya lulus lalu menghadapi kehidupan sebagai mahasiswa di luar asrama yang tidak seideal kehidupan di asrama. Saya merasa asing dan kesepian.

Seiring waktu, saya mulai menemukan teman-teman dekat di tempat kuliah. Tiga tahun berlalu, satu per satu teman saya lulus. Saya satu di antara yang lulus dalam waktu 4 tahun, padahal rata-rata teman saya lulus dalam 3,5 tahun. Semakin hari saya merasa kampus semakin sepi tanpa kehadiran mereka.

Lulus kuliah, tanpa menunggu satu hari pun, saya langsung ke Jakarta bersama 3 orang sahabat saya semasa kuliah. Dramatis sekali hari itu. Sehari sebelumnya saya memutuskan tidak jadi berangkat, tapi akhirnya berangkat juga karena ‘rayuan’ teman saya yang justru memutuskan tidak berangkat di detik-detik terakhir. Jadi, tersisa 3 orang. Kami menyewa kamar di rumah yang sama, bekerja di tempat yang sama, tapi beda tim. Padahal senang sekali seandainya kami bisa berkumpul dalam satu pekerjaan. Tapi, tidak dalam satu tim mungkin lebih baik bagi kami, karena kami juga perlu mengenal orang-orang baru, kan? Toh di kostan pun kami masih bisa sama-sama.

Pam Baru, nama kompleks tempat rumah kost kami berada. Ada dua rumah kost di Pam Baru yang ‘terhubung’ dalam beberapa hal, yang membuat kami sering melakukan aktivitas bersama. Formasi penghuni dua rumah di Pam Baru itu selalu berubah-ubah dari tahun ke tahun. Satu keluar, yang lain masuk, dan begitu seterusnya sampai hari ini. Saya merasakan kesedihan yang sama ketika satu per satu teman saya pindah.

… tapi saya merasa Pam Baru tidak pernah sesepi ini sebelumnya … :(

***

Hey … saya tidak pernah benar-benar sendiri kok, ada Allah yang selalu dekat.