Hanya ingin menuliskan pecahan-pecahan ‘umpatan’ dari hasil nonton lawakan di TV semalam yang susah (baca: malas) saya rangkai dalam satu cerita utuh. Daripada jadi status Facebook atau kicauan di Twitter yang satu per satu tergerus oleh lini waktu, mending saya post di blog.

*****

Siapa yang mereka perjuangkan? Rakyat? Masa sih? Baiklah, lebih baik berpikir bahwa tidak semua yang di gedung itu busuk.

*

Semua orang ingin bicara, tapi tak ada satu pun yang mau mendengar.

*

Tidak adakah cara yang lebih santun untuk menginterupsi? Selain mengetuk-ngetuk kepala mic, bersahut-sahutan, bahkan meneriakkan kata-kata sampah dan mengolok-olok yang sedang berbicara. Memalukan.

*

Toh cepat atau lambat harga BBM akan tetap naik kan? Kalau tidak sekarang, ya nanti. Lalu, apakah setiap kenaikan harga BBM akan direspon dengan aksi unjuk rasa? Berpikirlah untuk mencari energi alternatif selain BBM, atau kembali bekerja, berpikirlah cara untuk meningkatkan penghasilan. Ya, saya tahu tidak mudah, tapi mungkin, kan?

*

Boleh berpikir sadis ga? Saya membayangkan layar TV tiba-tiba gelap setelah sebelumnya terdengar bunyi ledakan dan teriakan panik orang-orang di dalam gedung kura-kura. Astaga, maaf, semoga tidak terjadi.

*

Para polisi itu juga mungkin punya sahabat yang mahasiswa, adik yang mahasiswa, tetangga yang mahasiswa, percayalah, seandainya boleh memilih, pasti mereka memilih untuk tidak berhadap-hadapan dengan kalian, para mahasiswa. Bersikaplah dewasa.

*

Membayangkan, di-suatu-tempat-entah-dimana, sekelompok kecil orang sedang tertawa-tawa iblis sambil menyaksikan tayangan unjuk rasa dan rapat DPR yang ricuh. Ah, sudahlah, saya hanya terlalu banyak menonton film … fiksi.

*

Naikkan lah harga BBM setinggi kau suka, agar hanya orang super kaya yang mampu membawa mobil mereka ke jalan. Jadi gak macet kan? Sebagai kompensasinya, bangunkan kami transportasi publik yang aman dan nyaman, dengan harga terjangkau dan kapasitas memadai. Kalau hal itu sudah dilakukan dan ternyata kota-kota besar masih sama macetnya dengan sekarang, maka pemerintah boleh tenang karena berarti rakyatnya banyak yang sudah kaya.

*

Menurut laporan salah satu portal berita, terdapat beberapa kerusakan akibat unjuk rasa kemarin. Pagar pembatas tol rusak, pagar dan taman di halaman DPR juga rusak, terdapat banyak coretan pada gerbang Gedung DPR dan jalan raya. Dengan apa semua itu diperbaiki? Uang negara kan? Padahal katanya negara lagi susah, entah sesusah apa. Nah, lain kali unjuk rasa jangan sampai ganggu fasilitas dan ketertiban umum ya, kalau para pekerja -yang tiap bulan gajinya dipotong pajak- atau pengusaha ga bisa ke tempat kerja gara-gara terhambat kalian yang berunjuk rasa, nanti yang menutup biaya buat benerin fasilitas yang rusak siapa?

*

Mahasiswa ini kadang besar kepala. Mereka pikir cara seperti ini bisa merobohkan pemerintahan yang sekarang? Sejarah memang berulang, mereka boleh melihat pada kejadian di tahun 1998. Tapi peristiwa dulu dan sekarang terjadi dengan dua alasan yang tidak sama, dalam kondisi yang berbeda. Apa susahnya dulu aparat menghalau mahasiswa yang berdemo? Bahkan kalau mau, mereka bisa mengerahkan pasukan yang jumlahnya lebih besar dengan peralatan yang memadai untuk bisa mengamankan massa. Bukan kalian, para mahasiswa, satu-satunya sebab yang dapat menggoyang pemerintahan. Heuh, maaf saya banyak bual ya, saya tidak mengerti sejarah, hanya sedikit berusaha menggunakan logika.

***

Mungkin saya juga tidak lebih baik dari siapapun yang saya bicarakan di atas. Hanya menulis yang ingin saya ungkapkan, selebihnya saya tetap berkarya dengan apa yang bisa saya lakukan. Kamu tahu kenapa? Karena saya cinta Indonesia.