Borno … pemuda paling lurus sepanjang tepian Kapuas …

Bagaimana rasanya jatuh cinta, Borno?
Iya … seperti yang kamu rasakan pada Mei.

Bagaimana rasanya ketika pertama kali melihat si sendu menawan berbaju kurung kuning itu di perahu motormu -perahu motor yang kalian sebut sepit itu- lalu duduk memunggungimu? Bahkan punggungnya pun membuatmu berdebar, kan?

Bagaimana rasanya ketika kamu tidak sengaja menemukan angpau yang mungkin milik Mei tertinggal di sepitmu? Ah, girang bukan kepalang ya? Karena angpau itu lah yang akan mengantarkanmu pada pertemuan kalian berikutnya.

Bagaimana rasanya ketika pertama kali Mei memanggil namamu? Iya, namamu! Padahal belum pernah sekali pun kalian berkenalan, kan? Sesaat kamu pasti merasakan dunia di sekitarmu berhenti.

Bagaimana rasanya mengajari Mei mengendarai sepit? Pasti kamu berharap motor sepitmu rusak dan kalian terombang-ambing di tengah Kapuas terbawa arus bagaikan sabut kelapa. Karena waktu tidak pernah berhenti, Borno, maka kamu harus mencari cara lain untuk ‘menghentikan waktu’.

Bagaimana rasanya harap-harap cemas menunggu Mei di antrean sepit nomor tiga belas? Bahkan melihatnya melangkah masuk dermaga pun hatimu berdesir-desir, kan? Bagaimana pula rasanya kalau Mei juga sampai naik di atas sepitmu. Mungkin kau berharap Kapuas selebar Selat Malaka, atau Samudera Hindia sekalian, agar kamu bisa berlama-lama menatap punggungnya dan melihatnya dengan lembut menyibak anak rambut di dahinya.

Bagaimana rasanya makan berdua di restoran terapung di Kapuas, disoraki orang-orang sekampungmu, Borno? Pasti malu ya, mungkin terjun bebas ke Kapuas sempat terlintas di pikiranmu? Tapi bohong kalau kamu bilang “Tidak senang”, ya kan?

Tapi … bagaimana rasanya ketika Mei mengingkari janji pertemuan denganmu, bahkan menghindarimu, tanpa alasan pula? Apa gulai kepala ikan buatan ibumu masih terasa nikmat di lidahmu sejak kejadian itu? Pasti tidak kan?

Apalagi ketika harus berpisah dengan Mei, tanpa kamu tahu bagaimana perasaannya padamu? Gelisah ya? Saat itu lah kamu tidak memiliki hidupmu sendiri, entah se-per berapa waktumu dalam sehari kamu habiskan untuk memikirkannya, memikirkan harapan-harapan yang bisa jadi hanya khayalanmu sendiri.

Tapi, setidaknya kamu merasakan jatuh cinta, Borno.

Bagaimana rasanya jatuh cinta, Borno? Sungguh, aku lupa.

***
Siapa Borno, siapa pula Mei?
Silakan tanya Bang Tere Liye di novelnya yang terbaru :)