Malioboro pada Senin pagi tidak seramai pada akhir pekan. Masih sangat pagi, beberapa penjual souvenir di trotoar Malioboro baru membuka lapak jualan mereka, beberapa penjual bahkan masih menyusun barang mereka di rak-rak jualan. Dari Stasiun Tugu, tanpa tujuan saya berjalan menyusuri pinggiran Malioboro, penjual di trotoar lebih banyak tidak melakukan apa-apa. Saya pun hanya berpapasan dengan kurang dari 10 orang yang terlihat seperti pelancong, sisanya saya perkirakan penduduk asli yang beraktivitas di sekitar Malioboro.

Tidak ada acara belanja-belanja hari ini! Saya bertekad. Para penjual yang melihat saya lewat, menawari saya barang mereka. Saya hanya menolak dan melempar senyum. Dalam keadaan sepi pengunjung seperti ini, lebih baik tidak mampir ke satu lapak jualan pun karena saya tipe yang tidak tahan rayuan penjual. Lebih dari itu, saya tidak jago menawar. Namun saya sempat berhenti sebentar di lapak yang menjual pernak-pernik yang segera saya tinggalkan ketika penjualnya mulai merayu saya membeli.

Ganjil sebenarnya pakaian saya hari itu. Saya tidak membawa baju selain yang saya pakai waktu berangkat dan yang saya pakai ke pesta. Untung saya tidak membeli baju pesta yang terlalu banyak pernak-perniknya, hanya gamis simple yang tetap kelihatan agak ganjil kalau saya pakai jalan-jalan apalagi dengan menggendong sebuah ransel agak besar. Beruntung selembar pashmina menyelamatkan saya dari tatapan heran orang-orang yang berpapasan dengan saya.

Meninggalkan keramaian Malioboro, saya terus berjalan luruuus sampai di persimpangan, dimana saya melihat Kantor Pos Besar berdiri di seberang jalan. Saya berhenti sejenak, mengabadikan beberapa spot, termasuk entah-namanya-keraton-apa di sebelah kanan saya. Ingin rasanya masuk, tapi dari luar bangunan itu terlihat sangat sepi. Maka saya hanya duduk-duduk di depannya, beberapa kali menjepret ke arah keraton itu, ke tugu tepat di seberang keraton, dan ke kantor pos besar seberang jalan.

Tanpa tujuan pula saya mengambil jalan menjauhi Kantor Pos Besar, menyusuri Jalan Ahmad Dahlan ke arah barat. Kelihatannya lebih teduh dibandingkan dengan arah sebaliknya. Di kanan kiri, jalan trotoar langsung berbatasan dengan pintu-pintu toko, tanpa halaman. Ternyata jalan ini berujung di perempatan besar. Saya memutuskan kembali, menyusuri jalan kembali ke arah Kantor Pos Besar di sisi jalan satunya.

Sampai kembali di Kantor Pos Besar, saya melihat alun-alun dari jauh. Ah ya, saya ingat pernah kesana sebelumnya. Ketika liburan bersama 8 teman SMA dulu, sedang ada semacam pasar malam disana. Dari kejauhan kami melihat tumpukan baju, benar-benar menggunung, yang dijual bahkan dengan harga 1000 rupiah (atau lebih murah?) per potong. Ya, baju bekas. Kami tertarik dengan teriakan si pedagang, ketika mendekat, kami baru melihat bahwa itu baju bekas, yang benar-benar bekas.

Senin menjelang siang itu, alun-alun sepi. Saya berjalan di sepanjang jalan pinggiran alun-alun, beberapa becak melintas dan menawari saya tumpangan. Tidak! Saya menolak dan lagi-lagi hanya melempar senyum. Saya tidak jago menawar. Lagi-lagi alasan itu yang membenak.

Dalam keadaan yang cukup lelah setelah berjalan hampir tiga jam, bagai menang lotere berhadiah bedug raksasa, senang sekali menemukan papan pengarah menuju Masjid Gedhe. Masjid itu berada di salah satu sisi di seberang alun-alun. Sebelum masuk ke kompleks Masjid, saya menemukan pelataran cukup luas di depan gerbang besar. Kemudian ada dua gerbang lebih kecil dengan tembok cukup tinggi yang membatasi saya dengan kompleks Masjid Gedhe.

Desain masjid yang unik. Tidak berdinding, lebih seperti pendopo, dan tentu saja luas. Saya kagum melihat langit-langitnya, dan tiang-tiang tinggi yang menyangganya, beberapa kali saya jepret dengan kamera HP saya. Saya duduk di dekat salah satu tiang, menyelonjorkan kaki, dan mengeluarkan buku bacaaan saya. Namun perhatan saya teralih pada anak-anak SD yang datang bersama guru-guru mereka berhamburan memasuki masjid, tampak guru-guru itu mengatur murid-muridnya membentuk shaf. Lalu mereka mulai sholat dengan bacaan dinyaringkan. Rupanya, pelajaran sholat. Setelah satu rakaat, langsung salam. Mereka berlarian di dalam Masjid. Mereka pikir lapangan sepak bola? :) Senang sekali melihatnya.

Angin pagi menjelang siang saat itu cukup ampuh membuat saya mengantuk. Setelah berjalan hampir tiga jam, saya lelah dan tertidur, bangun ketika orang-orang mulai berdatangan sholat dhuhur. Saya merapikan jilbab dan pakaian saya. Bergegas meninggalkan masjid, saya sedang tidak sholat. Dan kamu tahu? Saya berjalan kaki lagi menuju Malioboro, teman saya menunggu di Mal Malioboro untuk makan siang.

Saya senang, suatu saat saya akan melakukannya lagi. Ke Yogya lagi? Tentu saja, nanti. Tapi maksud saya, saya akan melakukannya lagi, pergi ke suatu kota, turun dimana pun dan saya akan susuri kota itu entah sampai mana ujungnya, seharusnya nanti saya lebih banyak berbincang dengan penduduk lokal dan menemukan sisi lain dari kota itu.

Sampai satu hari saya punya ide, bagaimana kalau saya mulai dari terminal bus? Pergi ke salah satu terminal bus, naik bus apapun yang ingin saya naiki, kemanapun itu, dan berpetualang. Kali itu saya tidak akan sendirian, tapi berdua dengan teman perjalanan yang paling menyenangkan :)

Mungkin kamu? Mau ikut?