Yogyakarta terbilang kota yang cukup sering saya kunjungi, apalagi selama tiga tahun saya tinggal di Magelang yang hanya berjarak tempuh kurang lebih satu jam dari Yogya.

Selalu ada alasan kembali ke Yogya.

Tiga bulan pertama di Magelang, kami satu angkatan SMA melakukan perjalanan menapaki jejak Panglima Besar Soedirman ketika gerilya dulu. Kami memulai perjalanan dari Parangtritis, berjalan menanjak menaiki bukit berbatu-batu, terjal, kering dan panas menuju Gunung Kidul. Sempat berhenti di rumah sangat sederhana yang katanya dulu jadi salah satu tempat persinggahan Jenderal Soedirman. Berjalan kaki berkilo-kilo meter (lupa persisnya) entah sampai desa apa namanya, disana kami finish di suatu masjid yang desainnya sangat mirip dengan Masjid Pangsar Sudirman di kampus kami. “Pasti masjid kampus kami terinspirasi dari masjid ini,” saya membatin.

Lebih dari satu tahun kemudian, Tim Marching Band beberapa kali membawa saya ikut tampil di Yogya dalam berbagai kegiatan. Kami tampil di stadion entah-apa-namanya-itu pada rangkaian kegiatan Agustusan atau hari besar nasional lainnya. Sebelum kembali ke Magelang, selalu saja ada acara mampir setidaknya ke Malioboro dan sekitarnya.

Pernah juga menghabiskan tiga hari libur bersama delapan teman SMA, menyewa dua kamar hotel dan jalan-jalan ke beberapa spot di Yogya. Istana Air adalah salah satu tempat yang kami kunjungi untuk pertama kalinya.

Lalu pada liburan yang lain, saya memilih tidak mudik ke kampung halaman. Di Graha hanya tersisa kurang dari 10 orang siswa putri, dan kami mulai merencanakan perjalanan liburan sendiri, diantaranya ke suatu pantai yang sepi di Purworejo, dan tentu saja Yogya, tidak jauh, lagi-lagi ke Malioboro dan sekitarnya.

Di akhir minggu, beberapa kali juga sempat pesiar ke Yogya. Sampai pernah telat kembali ke kampus, beruntung masih selamat dari hukuman. Mengingat setahun sebelumnya, waktu kelas 2, saya dan seorang teman pernah kena hukum lari tiga kali keliling track lapangan sepak bola pada jam satu siang, panas dan berdebu, disaksikan satu angkatan adik kelas 1 yang sedang apel siang gara-gara telat kembali ke kampus sepulang dari pesiar. Malu rasanya membayangkan apa yang ada di pikiran adik-adik saat itu, “Ooh … ini ya kakak-kakak yang tidak patut ditiru”. Heuh …

Di akhir kelas 3, beramai-ramai kami ke Yogya, lebih dari separuh angkatan saya mengikuti Ujian Masuk UGM, saya termasuk salah satu yang ikut-ikutan, bahkan memilih jurusan pun ikut-ikutan, tidak ada ide lain selain memilih FK karena banyak teman putri saya memilih jurusan itu. Dan dipastikan Yogya bukan kota tujuan selanjutnya setelah tiga tahun di Magelang, karena saya tidak lolos Ujian Masuk.

Dari sekian kali saya ke Yogyakarta, ada satu kali yang menyenangkan dan ingin saya ulangi suatu hari nanti, juga di kota-kota lain.

Hampir tiga tahun lalu, saya menerima undangan pernikahan dari salah seorang teman SMA saya di Banjarnegara, satu kota kecil di selatan Jawa Tengah. Itu salah satu perjalanan yang tidak terlalu saya rencanakan sebenarnya. Waktu itu saya berangkat dari Bandung dengan tujuan Magelang, janji berangkat bareng ke Banjarnegara bersama beberapa teman dari sana. Bolak balik sih, mengingat Banjarnegara sebenarnya berada di antara Bandung dan Magelang.

Dengan ketidakpastian saya datang ke agen bus Bandung-Yogya via Magelang di Jalan Juanda Bandung memastikan bus malam yang berangkat ke Magelang masih punya satu kursi kosong untuk saya. Ternyata ada. Dan siang itu saya menghabiskan beberapa jam di sekitar Dago membeli perlengkapan ke pesta pernikahan, dari mulai baju sampai tas dan sepatu. Sabtu malam itu saya berangkat dengan satu ransel dan satu kantong belanjaan. Saya baru memberitahu Mamah sesaat sebelum bus berangkat.
“Sama siapa Put?”, tanya Mamah.
“Banyak kok, satu bus”, jawab saya sambil melirik orang asing di samping saya.
Saya tersenyum.

Karena tidak direncanakan, saya pun tidak merencanakan bagaimana caranya nanti kembali ke Jakarta. Saya hanya berpikir Minggu pagi sampai di Magelang, dan Minggu malam sudah duduk di bus malam menuju Jakarta. Di luar perkiraan, saya tidak mendapat bus pulang ke Jakarta. Saya memikirkan alasan bolos kerja hari Seninnya, dan melanjutkan liburan dadakan saya di Yogya.

Saya menumpang satu malam di kost teman saya. Tentu saja saya tamu yang tidak direncanakan. Hari Senin teman saya kembali beraktivitas, dan saya tidak mungkin sendirian di kost. Maka setelah mengantar membeli satu tiket kereta malam ke Jakarta, teman saya meninggalkan saya sendirian di Stasiun Tugu dekat Jalan Malioboro.