Sesuatu yang kita anggap bagus, belum tentu bagus menurut penilaian orang lain, begitu juga sebaliknya. Misalnya, BUKU. Coba perhatikan rating yang diberikan para Goodreaders pada satu buku saja.

Kemarin saya baru selesai membaca The Alchemist karya Paulo Coelho. Seperti biasa saya meng-update Goodreads, sebuah jejaring sosial untuk bertukar informasi mengenai buku, dan menambahkan The Alchemist ke salah satu shelves saya. Tak lupa saya menyematkan bintang. Dari 5 bintang, saya beri 3 bintang, yang berarti “liked it“. Lalu saya membaca review beberapa orang mengenai buku tersebut. Banyak yang memberi 3 bintang juga, bahkan 4 atau 5, tapi tak sedikit yang hanya memberi 1 bintang, yang berarti “did’nt like it“.

Saya sendiri suka buku ini, karena walaupun inti ceritanya adalah tentang mewujudkan impian dan mengejar takdir, yang juga sering menjadi tema dari banyak novel lainnya, namun Paulo Coelho bercerita dengan latar waktu dan setting tempat yang berbeda dengan novel-novel lain yang memiliki tema serupa, jalan ceritanya unik, sedikit mistik, tentang bagaimana manusia “berkomunikasi” dengan dunia. Hmm, mungkin ini sejenis cerita parabel ya?

“Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantu meraihnya”. Sama dengan konsep Mestakung bukan? Semesta mendukung.

Lebih lengkapnya silakan intip langsung novelnya ya.

Nah, kembali ke topik di awal tulisan ini. Kenapa sebagian orang menganggap novel ini hebat, sementara yang lainnya menilai biasa saja?

Kalau menurut saya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi penilaian orang terhadap sebuah buku.

Pertama, mood alias suasana hati saat membacanya.
Selesai membaca salah satu cerpen di buku Sakinah Bersamamu, saya nangis sesenggukan, saya bilang cerpen itu bagus dan sedih banget, heran juga mendengar tanggapan teman saya yang dengan datarnya bilang, “Ooh yang itu … biasa aja”. Ternyata eh ternyata suasana hati saya memang sedang membiru saat itu.

Kedua, timing.
Seorang Goodreaders yang memberi 1 bintang pada The Alchemist menulis seperti ini, “Kalau saya membacanya 5 tahun lalu, mungkin saya akan memberi 4 bahkan 5 bintang untuk buku ini …….. dst”. Betul juga, membaca materi sebuah buku pada waktu yang tidak tepat akan mempengaruhi penilaian kita terhadap buku tersebut. Contoh lainnya adalah saya bisa bertahan tanpa senyum sesungging pun ketika membaca buku-buku dengan gaya bertutur humor yang diburu anak-anak SMA dan kuliah. Faktor “U” dalam hal ini sangat berpengaruh.

Ketiga, ekspektasi.
Bagaimana ekspektasi kamu ketika melihat cover buku bertuliskan Best Seller, atau Karya Novelis Nomor 1 Indonesia? Pasti ekspektasinya langsung melambung. Ada beberapa buku yang saya baca dengan cover spektakuler seperti itu tapi isinya tidak sespektakuler cover-nya, mungkin bukan berarti buku itu tidak bagus, hanya ekspektasi pembacanya yang terlalu tinggi.

Keempat, selera.
Jelas. Misalnya beberapa waktu lalu saya melahap habis Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer, dengan antusias saya menceritakan isi buku itu ke teman-teman dan merekomendasikan mereka membacanya, tapi seorang teman saya yang mencoba membaca hanya bertahan sampai Bumi Manusia, buku pertama dari Tetralogi Buru. Kemungkinan terbesarnya adalah, dia tidak berselera pada cerita roman sejarah.

Kelima, kebutuhan.
Kenali kebutuhan kita sebelum membeli buku, informasi apa yang ingin kita dapat dari buku yang hendak dibaca, agar tidak salah beli dan baca buku, yang pada akhirnya mempengaruhi penilaian kita pada buku tersebut.

Keenam, penilaian orang lain terhadap buku tersebut.
Walaupun sedikit, pasti ngaruh, setidaknya menurut saya. Kadang hikmah atau kesimpulan isi buku kita dapat dengan membaca review atau mendengarkan pendapat orang lain. Atau di lain waktu, kita dengan antusias membaca buku yang booming dan dibicarakan banyak orang walaupun tema buku tersebut bukan selera kita. Atau bahkan kita menganggap suatu buku bagus padahal baru sampai pada halaman depan yang memuat testimoni orang-orang ternama mengenai buku tersebut, dalam hal ini kita membaca untuk membuktikan persepsi kita bahwa buku tersebut bagus adalah benar.

Ketujuh, dan seterusnya masih dipikirkan. Ada yang punya ide? :)

Nah, jadi, kalau satu saat kamu tidak sampai habis membaca suatu buku, mungkin alasannya adalah salah satu poin atau kombinasi beberapa poin di atas? Kalau tidak, maka kemungkinannya buku yang dibaca memang tidak bagus.

Itu kan pendapat saya, bagaimana menurut kamu? :)