image

Hujan terlambat datang hari itu.
Walaupun tidak ada satu pun dari kami yang mengharapkannya.

Hari itu libur yang teduh, saat yang paling tepat untuk berpiknik. Ibu sedari pagi menyiapkan keranjang berisi roti, buah-buahan, snack, dan jus mangga, serta merapikan tikar tipis yang terhampar di sudut ruangan keluarga. Tikar itu Ibu lipat seringkas mungkin agar bisa muat ke dalam keranjang piknik.

Andai hujan datang lebih cepat hari itu, walaupun kami tidak mengharapkannya.

Sungguh, hujan tidak akan sedikit pun mengurangi kebahagiaan kami. Iya, aku pasti sedikit kecewa, tapi tidak akan membuatku sedih berkepanjangan seperti saat ini. Hujan pada hari libur bisa menahan siapapun untuk tidak keluar rumah. Kami menciptakan kehangatan di dalam rumah untuk melawan udara dingin dari luar. Ada banyak permainan yang bisa kami lakukan.

Aku akan bersembunyi, sementara Ayah menghitung sampai 25, lalu dia berkeliling rumah mencariku, dan pura-pura tidak melihat bahkan ketika ujung bajuku menyembul dari balik pintu. Setelah bosan, aku akan menunggangi Ayah dan berusaha mengejar Ibu yang berteriak-teriak seolah-olah ketakutan. Aku semakin semangat memacu Ayah, kuhentak-hentakkan kakiku gembira, dan menepuk-nepuk bahu Ayah agar dia ‘berlari’ lebih kencang. Ketika Ayah meringis karena lututnya kesakitan, dia akan tergeletak di atas lantai sambil masih tertawa-tawa, lalu aku mulai menggelitikinya, dan tangannya dengan sigap menangkap tubuhku, dalam posisi yang masih terlentang diangkatnya aku dengan kedua telapak kakinya, jemari kami saling menggenggam, walaupun takut aku tetap tertawa-tawa gembira.

Tapi hujan datang terlambat hari itu. Ibu kehabisan mentega untuk mengoles roti piknik kami, Ayah dengan sigap keluar rumah menuju warung terdekat dengan sepedanya. Tiba-tiba gerimis turun, namun semakin lebat, dan Ayah belum kembali.

Ayah datang, tapi tidak sendiri. Sekelompok pemuda yang biasa duduk-duduk di gardu depan kompleks perumahan dekat jalan besar mengangkatnya beramai-ramai. Seonggok sepeda penyok dibawa seorang pemuda yang lain. Ayah tertidur dan tidak pernah terbangun lagi.

Hujan seharusnya datang lebih cepat … karena hanya hujan yang akan menahan Ayah di rumah hari itu.

#gambar diambil dari sini