image

Hey … ini buku pertama yang saya baca sampai tuntas dalam dua bulan terakhir, sekaligus juga membangkitkan kembali semangat baca saya yang sempat hilang karena buku-buku kurang menarik yang saya baca sebelumnya. Jadi, ternyata … ada kaitannya juga kan tingkat ‘kemenarikan’ sebuah buku dengan semangat membaca?
Tapi tentu saja, itu hanya alasan saya seorang. Karena pada kenyataannya buanyaak teman saya yang bisa asyik membaca jenis bacaan apapun, tanpa merasa ada satu pun buku yang tidak menarik.

Kembali ke Kedai 1001 Mimpi. Mungkin banyak yang sudah tahu ya … secara buku ini saya lihat terpajang manis di rak terdepan Gramedia walaupun saya tidak membeli di Gramedia, dan direkomendasikan beberapa teman saya di Goodreads. Buku ini tidak sengaja saya temukan di stand penerbitnya di pameran buku di Istora dua bulan yang lalu. Selama ini melihat di Gramedia tidak pernah tertarik membeli karena menurut saya terlalu tebal untuk buku pengalaman wisata. Ya, pada awalnya saya menyangka buku ini tentang perjalanan wisata -seperti yang populer dalam beberapa tahun terakhir- di negara-negara Arab.
Melihat diskon yang menarik di pameran, apa salahnya membeli? Toh pada akhirnya (mungkin) saya akan membelinya juga setelah semakin banyak orang memberi testimoni menarik untuk buku ini.

Arabia Undercover, sepertinya sempat menjadi alternatif judul sebelum buku ini terbit, tapi saya setuju judul itu akhirnya tidak dipakai, karena menurut saya ketika orang-orang membaca judulnya, mereka akan sudah tahu isinya seperti apa, setidaknya menebak-nebak. Mengingat ada buku sangat populer beberapa tahun lalu berjudul Jakarta Undercover yang mengangkat undercover-nya Jakarta. Hayoh dibolak balik. Jangan kira saya yang lugu dan lucu ini tidak pernah membacanya ya. Hehehe. Hoeks …

Saya salut pada penulisnya, juga penerbitnya tentu saja, karena berani menerbitkan buku dengan isi yang … yeah silakan baca sendiri. Kalau Moammar Emka, si penulis Jakarta Undercover, boleh berani karena mengungkapkan perilaku ‘bebas’ di Jakarta, yang mana terletak di negaranya sendiri, maka Vabyo, begitu Valiant Budi akrab disapa, secara berani mengungkapkan keanehan, kejanggalan, ketidakwajaran di negara orang lain, seperti ingin menegaskan prototipe warga Arab yang kasar dan memiliki hasrat seks yang besar, bahkan terhadap sesama jenis sekalipun, yang mana jika dikaitkan dengan kesan bahwa Arab adalah Islam, justru perilaku warganya jauh dari Islami. Tapi, lain Arab, lain Islam, buku ini tentang budaya dan tradisi, bukan agama. Toh, di beberapa kesempatan, penulis juga menemukan kedamaian Islam disana. Faktor lingkungan kerja, lingkungan tempat tinggal, tujuan berkunjung, dan lamanya tinggal juga mempengaruhi bagaimana kesan seorang terhadap suatu tempat kan?

Kesimpulan dari saya …

… bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. (QS 62:10)

Satu ayat merangkum semuanya :)

Informasi buku:
Judul : Kedai 1001 Mimpi
Penulis : Valiant Budi
Penerbit : Gagasmedia
Cetakan : I, 2011
Jumlah halaman : 443 + xii