Originally created on Dec 13, 2011

Tadi sore secara tidak terduga seorang kawan semasa di kampus dulu, juga sempat satu kantor di tempat lama menelpon.
“Beneran pindah kerja, Put?”, tanyanya tanpa basa basi.
Hmm, ya begitulah, dimulai dengan obrolan tentang pekerjaan sampai rencana masa depan.

Menyadari begitu banyak target ideal masa kuliah yang tidak tercapai, saya merasa gamang.
Saya kembali merenungi, bagaimana dan mengapa saya bisa sampai di posisi ini sekarang? Bekerja di sebuah perusahaan BUMN setelah hampir 3 tahun ‘mengenyam pendidikan’ di sebuah KAP besar, dan masih single. Inilah gambaran diri saya sekarang.

Padahal, seandainya semua berjalan sesuai rencana ketika hampir lulus kuliah dulu, semestinya saat ini saya sedang berkecimpung di sektor akuntansi pemerintahan, menjadi konsultan, sambil mengajar di kampus, sedang mengurus kelanjutan studi S2, dan sudah menikah.

Ketika yang terjadi tidak sesuai dengan rencana semula, sebenarnya apa penyebabnya?
Sejauh ini, saya hanya bisa menemukan dua kemungkinan jawaban. Yang pertama, apa yang saya lakukan selama ini tidak fokus menuju apa yang ingin saya capai. Kedua, takdir. Saya meyakini segala yang terjadi pada saya adalah kehendak Allah, tapi bukankah disana ada usaha dan doa? Saya lebih meyakini usaha dan doa itulah yang membawa saya pada takdir saya selama kedua hal itu dilakukan dengan cara-cara yang baik dan untuk tujuan-tujuan yang baik pula. Tidak sedang men-zero-kan peran Allah, justru saya yakin betul segala yang terbaik dari Allah akan datang setelah kita melakukan usaha dan doa yang terbaik. Begitu kan seharusnya sikap orang yang percaya pada takdir?

Dalam perjalanannya mencapai tujuan itu, memang seringkali merasa terombang-ambing.
Keinginan pun sering berubah-ubah. Sempat ingin bertahan lama di KAP bahkan sampai manajer, sampai saya sadar bahwa saya tidak cocok menjadi auditor. Lalu, tiba-tiba saja ingin menjadi PNS sebagai perencana di suatu kementerian karena tergiur oleh tawaran beasiswa S2-nya setelah 3 tahun menjadi PNS di tempat itu. Di saat yang lain, saya mengejar kesempatan menjadi guru di daerah terpencil. Pernah juga ingin masuk perbankan, sampai akhirnya tawaran bekerja di salah satu bank saya tolak karena sadar bank bukan minat saya. Tapi ada saat dimana saya berpikir sebaiknya saya bekerja di rumah saja, menjadi ibu rumah tangga, sambil berbisnis. Bahkan, yang paling ekstrem saya malah merasa salah memilih jurusan akuntansi, dan seharusnya ambil sastra atau seni saja. Dan semua yang saya pikirkan tentang masa depan itu sepertinya sudah keluar dari jalurnya, jika saya masih konsisten dengan cita-cita semula.

Saya tidak fokus! Itu satu-satunya jawaban yang mungkin untuk pertanyaan, “Mengapa saya ada di posisi ini sekarang?”.
Kadang keinginan saya masih terpengaruh oleh orang lain. Di satu waktu saya menyesuaikan cita-cita saya dengan kebutuhan orang lain. Terlalu sering saya melihat orang lain, lalu ingin mencapai kesuksesan versi orang lain, sehingga lupa bahwa saya punya kriteria sendiri untuk ‘sukses’.

Ketika yang terjadi terlanjur tidak sesuai dengan cita-cita semula, apa yang harus dilakukan?

“Karena tak ada sia-sia atas apa yang telah kita lakukan, berkarya lah dengan peluang yang sudah ada di tangan :)”*

*dikutip dari hasil obrolanku dengan Oya … Thanks Sist :)

Kamu … pernah/ sedang merasakan hal yang sama juga?