Adakah hal-hal yang tidak bisa dikendalikan manusia? Pasti itu sesuatu yang memang sudah ditakdirkan Allah. Hari ini saya beralasan bahwa keterlambatan saya karena hal di luar kontrol saya. Saya sudah bangun sepagi mungkin, berangkat pagi karena harus memprint beberapa dokumen, terpaksa search inbox di email karena dokumen yang akan saya print ternyata tidak ada di flash disk, menunggu bus di tempat biasa bus itu lewat, dan sialnya setelah hampir setengah jam menunggu, bus itu lewat jalur cepat, sementara saya menunggu di jalur lambat. Otak saya berputar, disertai dengan perkiraan waktu tambahan yang saya butuhkan dan biaya yang harus dikeluarkan. Akhirnya saya memilih menuju pool bus itu dengan menggunakan taksi alih-alih naik taksi langsung ke tujuan, dengan pertimbangan biaya. Saya merelakan beberapa menit terlambat ke tempat tujuan karena saya pikir itu tidak akan menjadi masalah besar.

Salah!!! Keputusan saya berakhir sangat buruk. Saya terlambat 10 menit, dan petugas tidak mengizinkan saya masuk dengan alasan apapun.

Kesempatan saya berakhir, usaha terakhir saya adalah menghubungi orang yang berwenang untuk minta reskedul. Semoga masih ada kesempatan, karena terkadang istilah ‘kesempatan kedua’ tidak berlaku dalam beberapa situasi.

Saya tidak ingin berandai-andai, hanya berusaha mengambil hikmah dari kejadian ini, bahwa dalam situasi tertentu nilai rupiah tidak lebih berharga daripada waktu satu detik pun, seharusnya naik taksi tidak menjadi masalah ketika itu dilakukan untuk mendapat hal yang lebih besar di masa datang.

Untuk ke depannya seharusnya saya hanya fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan, dan berhenti menyalahkan situasi.

Saya pasrah …

*dalam perjalanan pulang dari bandara