Tadi malam baru saja menonton film dokumenter salah satu finalis Eagle Awards di Metro TV. Kali ini bercerita tentang Sekolah Hutan.
Sebagai orang yang tidak mengerti film, apalagi film dokumenter, saya nilai film ini bagus, menambah wawasan, membuka mata hati (ciee …) dan … menginspirasi. Maka ketika di akhir pemutaran film si pemandu acara membacakan cara vote film ini, tanpa ragu saya ikuti petunjuknya dan vote melalui SMS.

Menonton film ini membuat saya lebih banyak bersyukur sekaligus prihatin.
Saya bersyukur karena dalam hal kesempatan mendapatkan pendidikan, saya jauh lebih beruntung dibandingkan dengan anak-anak di pedalaman hutan Mentawai itu. Sekolah mereka jauh berada di dalam hutan, dimana untuk mencapai bangunan sekolah yang hanya berupa bangunan kayu itu mereka harus berjalan kaki atau melewati sungai dengan waktu tempuh hingga 2 jam. Masalah muncul ketika musim kemarau menyebabkan sungai menjadi kering dan menghambat laju perahu mereka, tidak lebih baik juga ketika musim hujan, sungai yang banjir dan meluap pun menjadi hambatan.

Tidak kalah salut pada guru-gurunya. Mereka masih sangat muda. Muda dan bersemangat, menginspirasi sekali. Dengan apa mereka dibayar? Sementara murid-murid mereka ke sekolah pun hanya berbekal semangat, tanpa seragam ataupun alas kaki. Rupanya semangat murid-muridnya itulah yang menjadi bahan bakar semangat guru-guru sekolah hutan. Walaupun kadang di antara murid mereka ada yang tidak bisa hadir setiap hari karena ketika mencapai usia tertentu anak-anak itu juga harus membantu orangtuanya bekerja.

Saat ini guru-guru itu sedang mengusahakan murid-muridnya agar dapat mengikuti ujian Paket A, yang mana prosesnya sulit dan justru tersandung di dinas pendidikan setempat. Hanya sekolah-sekolah negeri dan swasta terdaftar yang boleh ikut ujian sejenis ini.
Salah satu orang tua murid mengeluhkan hal tersebut, bahwa anak-anaknya bisa jadi tidak akan memiliki kesempatan mendapat ijazah SD jika menunggu sekolah negeri masuk ke daerah mereka.

Saya terkesan juga dengan Pemimpin Adat-nya yang juga peduli pada pendidikan warganya. Pakaiannya masih berupa pakaian adat seperti halnya orang-orang di pedalaman hutan yang masih primitif, dengan bahasa Mentawai beliau menyampaikan harapannya agar pemerintah mengadakan pendidikan gratis, karena anak-anaknya pun berhak menikmati pendidikan.

Sederhana sekali apa yang ingin mereka capai dengan pendidikan yang mereka dapatkan, tidak semuluk orang-orang kota yang mungkin bercita-cita mendapatkan penghasilan yang besar dengan pendidikan mereka, atau mendapatkan posisi tinggi di tempat mereka bekerja, atau menjadi penguasa atau pejabat pemerintah. Harapan orangtua dari murid-murid sekolah hutan ‘hanya’ tidak ingin anak-anaknya dibodohi oleh orang lain yang ingin mengambil keuntungan dari ketidakberuntungan mereka karena tidak berpendidikan, selanjutnya diharapkan anak-anak itu bisa keluar dari daerahnya dan mengenal dunia luar yang belum pernah mereka lihat.

Ngomong-ngomong setelah menonton film ini saya jadi ingat Program Wajib Belajar 9 Tahun yang dicanangkan pemerintah, bahkan katanya pada tahun 2012 wajib belajar akan menjadi 12 tahun. Sebenarnya sepotong kalimat Wajib Belajar SEKIAN Tahun itu cukup menguras pikiran saya.

Pertama, mengenai definisi kata “WAJIB”. Menurut KBBI (daring), wajib berarti “harus dilakukan” atau “tidak boleh tidak dilaksanakan”.
Sama halnya dengan definisi wajib dalam Islam, yaitu suatu perkara yang apabila dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan mendapat dosa. Sejalan dengan Program Wajib Belajar ini, adakah hukum yang mengatur tentang sanksi yang dikenakan kepada warga negara jika mereka tidak melaksanakan Wajib Belajar? Berupa apa? Denda atau penjara?

Yang kedua yang membuat saya bingung, wajib belajar 9 tahun itu maksudnya belajar dimana? Saat ini wajib belajar 9 tahun itu berarti pendidikan dasar yang terdiri dari 6 tahun SD dan 3 tahun SMP. Jadi kenapa namanya tidak Program Wajib Sekolah 9 Tahun saja? Karena pada prinsipnya yang namanya belajar itu kan tidak mesti di sekolah.
Nah kalo yang dimaksud dengan pemerintah adalah Wajib Sekolah 9 Tahun dari SD sampai SMP, lalu bagaimana dengan anak-anak yang daerahnya tidak terjangkau sekolah? Apakah mereka tetap wajib bersekolah? Lalu di sekolah manakah mereka harus belajar? Bukannya pengadaan sekolah itu adalah tugas Pemerintah, dalam hal ini Kemendiknas?
Jadi kalau begitu Program Wajib Sekolah 9 Tahun itu kewajiban siapa? Kewajiban warga negara atau kewajiban Pemerintah?
Sementara dalam UUD pun tidak disebutkan ‘Tiap-tiap warga negara WAJIB mendapatkan pengajaran, namun ‘Tiap-tiap warga negara BERHAK mendapatkan pengajaran. Jadi siapa yang wajib memenuhi hak warga negara itu?

Tuh kan saya tambah bingung … ada yang bisa bantu??

***
gambar sekolah hutan dari sini
gambar sampan dari sini
gambar kepala adat mentawai dari sini
gambar wajib belajar 9 tahun dari sini