Tinggal menghitung hari saja saya di perusahaan ini. Tidak butuh sepuluh jari untuk menghitung mundur, cukup dua jari. Hampir 3 tahun saya disini, tidak jauh berbeda dengan masa SMP dan SMA saya. Untuk 2 jenjang pendidikan itu, dulu saya lulus dengan berurai air mata. Di satu sisi bahagia karena telah menyelesaikan pendidikan dan bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, di sisi lain juga sedih karena harus berpisah dengan lingkungan dan teman-teman yang selama beberapa tahun itu memberi warna dalam hidup. Apalagi di depan mata terbentang hidup yang masih misteri, entah akan menyenangkan atau malah suram.

Sama halnya seperti hari ini, ada perasaan bahagia, karena saya akan meninggalkan pekerjaan ini dengan segala dukanya. Tidak lagi lembur sampai tidur di kantor atau menghadapi deadline yang menekan. Membayangkan work-life balance yang selama ini saya idam-idamkan saja sudah membuat hati saya membuncah bahagia. Padahal … hidup saya setelah meninggalkan pekerjaan ini juga penuh ketidakpastian. Mungkin lebih suram? Apalagi saat ini saya belum mendapatkan pekerjaan dimanapun, sebagian besar orang yang mengetahui ini mempertanyakan kenekadan saya. Bukan nekad, saya memutuskan hal ini secara sadar dan penuh pertimbangan.

Tapi … tiba-tiba merasa sedih … terutama karena hari ini saya mulai meminta tandatangan ke beberapa orang untuk keperluan clearance. Beberapa orang dari mereka bertanya, “Dapat dimana?”, mungkin basa-basi yang disampaikan kepada siapapun yang mau resign. Dan diakhiri dengan “Oke, good luck ya … “. Sampai akhirnya, tadi saya sempat berpapasan dengan seorang staf admin di depan lift yang melihat saya membawa-bawa clearance form. Beberapa hari sebelumnya kami sempat mengobrol banyak hal, termasuk membicarakan rencana resign saya. Saya dengan Bapak ini boleh dibilang cukup sering berinteraksi.
“Clearance ya Mbak?”, sapanya sambil lalu, sambil menuju pintu lift yang sedari tadi ditunggunya.
“Iya Pak, lusa sih efektifnya … “
“Ooh … mari Mbak”, tutupnya buru-buru sambil masuk ke dalam lift.
Mungkin hanya perasaan saya saja, cuma saya sempat melihat matanya berkaca-kaca, dan dia mengusapnya dengan punggung telapak tangannya.

Seketika merasa sedih, mengingat betapa banyak yang akan saya tinggalkan disini sebagai konsekuensi atas keputusan saya ini. Teman-teman saya, pekerjaan saya yang menantang dan menyenangkan (pekerjaan disini tidak selamanya tidak menyenangkan kok … ), kesempatan belajar yang terbuka lebar, kesempatan berkarier dengan jenjang yang jelas … dan banyak hal.

Tapi hidup itu sendiri adalah pilihan bukan? Klise terdengar. Dan pilihan-pilihan yang kita ambil semestinya mendekatkan kita pada apa yang ingin kita tuju di masa depan. Sebagian orang memang memiliki target jangka panjang di perusahaan ini, dan saya tidak mesti ikut-ikutan jika itu tidak sejalan dengan apa yang ingin saya capai.

Seumpama naik busway ke Kelapa Gading dari Bendungan Hilir (sambil mengingat-ingat perjalanan saya setiap ke klien di Kelapa Gading hehehe), dengan menggunakan bus jurusan Blok M-Stasiun Kota, saya harus transit di Halte Harmoni, dan sebagian lain melanjutkan perjalanan ke arah Stasiun Kota. Mungkin beberapa orang yang lain turun di halte sebelum sampai di Stasiun Kota.

Semua orang punya tujuan masing-masing, dan tidak ada yang salah dengan tujuan-tujuan itu selama kita bisa mempertanggungjawabkannya kan? Tanggung jawab kepada orang tua kita, kepada orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita, kepada masyarakat sosial, atau kepada siapapun dengan siapa kita berinteraksi, dan yang terpenting adalah tanggung jawab kepada Allah. 

Tentang status saya setelah resign mungkin akan terdengar mengkhawatirkan, atau bahkan memalukan? Tapi saya tidak sedang diam, saya bergerak dan terus berusaha. Saya juga membawa bekal yang cukup untuk tetap bertahan sampai situasi lebih pasti. Yang terpenting saya percaya pada Allah. Dia Mendengar doa-doa saya. Dia Penolong saya. Dan saya tidak perlu merasa merana, karena keputusan saya ini tidak membawa saya pada posisi yang lebih rendah dibandingkan teman-teman saya yang lain. Saya percaya diri pada apa yang saya miliki saat ini, dan saya punya mimpi yang tidak akan tergadaikan, walaupun nanti saya sampai pada keadaan terdesak. Ah, tapi keadaan saya tidak seburuk itu kok :)

Selebihnya yang terpikir dalam otak saya adalah rentetan rencana yang InsyaAllah menjadikan saya pribadi yang lebih baik dan bernilai, membawa saya menuju mimpi masa depan saya … yang mana rencana-rencana itu akan susah dijalankan seandainya saya masih berada di tempat ini :)

Allah tahu seberapa keras kita berusaha, jadi … tetap semangat ya ;)