Dulu, sebelum menetap di Padalarang (Bandung Barat), kalau ditanya saya asli mana, maka saya akan menjawab Bogor. Itu karena kakek nenek dari ayah saya menetap di Bogor, dan setiap tahun pada hari lebaran kami sekeluarga mudik ke Bogor.
Tapi itu dulu, sebelum nenek saya meninggal hampir 5 tahun yang lalu, dan sebelum kami sekeluarga pindah ke Bandung Barat 3 tahun yang lalu.

Maka, sebenarnya Bogor bukan kota yang asing bagi saya, walaupun saya hanya memiliki memori yang sangat sedikit tentang kota ini. Dan, seharusnya Bogor tidak menjadi asing bagi saya, karena dari sana lah kakek buyut saya berasal.

Tapi, nyatanya saya merasa asing di kota itu, hari Sabtu kemarin (10 Sept’ 2011), saya dan 9 orang teman kantor jalan-jalan kesana, sebagai turis alias pelancong. Sesering apapun berkunjung ke suatu tempat, kata “turis” akan selalu berkonotasi “asing” menurut saya.

***

Baiklah, sedikit berbagi tentang cerita perjalanan saya dan teman-teman – ini merupakan kali kedua saya ke Bogor selama hampir 3 tahun tinggal di Jakarta.
Kami berangkat dari Stasiun Sudirman (Jl. Sudirman, Jakpus) dengan menggunakan commuter line pukul 10.31 WIB. Pengalaman pertama saya naik commuter line, dan saya merasa puas karena commuter line benar-benar memberangkatkan kami sesuai jadwal. Dengan harga tiket Rp7.000, kami sudah bisa duduk nyaman di dalam gerbong yang bersih dan ber-AC, walaupun setelah melewati beberapa stasiun, gerbong mulai sesak oleh penumpang. Commuter line ini juga memiliki gerbong khusus wanita di rangkaian paling depan dan paling belakang.

Kami tiba di Stasiun Bogor pada pukul 11.43 WIB. Tujuan pertama kami adalah Bakso Pak Jaja di dekat Lapangan Sempur. Dari stasiun, kami naik angkot hijau nomor 3 dengan trayek Bubulak-Baranangsiang. Perjalanan ke Lapangan Sempur hanya berkisar 10 menit dengan ongkos Rp2.500 setelah melewati Kebun Raya dan sekolah teman saya (Recis – pen) – yang jadi pemandu kami selama di Bogor. Kami turun dari angkot di daerah yang teduh dan bersih, dengan pohon-pohon besar di kiri kanan jalan. Ternyata warung bakso Pak Jaja, hanya berupa bangunan sederhana, tidak begitu luas, namun cukup ramai pembeli. Menu makanan yang ditawarkan disana adalah bakso (iya lah ya), kita bisa memilih makan bakso dengan mie, kwetiau, atau bihun, bisa kuah atau kering (kuah terpisah), harga dipukul rata Rp10.000 untuk semua menu bakso. Sedangkan harga minuman berkisar dari Rp1.000 (es teh tawar) sampai dengan Rp5.000 (aneka minuman jus). Murah dan enak. Boleh dicoba :)

Perjalanan selanjutnya adalah ke tempat Macaroni Panggang dan Lasagna Gulung tidak jauh dari Bakso Lapangan Sempur, kami berjalan kaki sekitar 10 menit ke Jalan Salak, disana ada cafe Macaroni Panggang (MP) yang bergandengan dengan Lasagna Gulung di sebelahnya. Rupanya macaroni panggang ini banyak juga peminatnya (malah saya baru tau ada oleh-oleh Bogor kayak gini … hehehe). Di depan kasir, antrian cukup panjang. Untuk macaroni panggang, mereka menawarkan macaroni panggang biasa dan spesial dengan ukuran small, medium, dan large. Yang spesial ada tambahan daging asap, jamur, dan … dan lain-lain didalamnya … hehe gak inget padahal udah nanya Mas-nya. Untuk icip-icip, saya beli macaroni panggang spesial small yang dibanderol Rp27.000. Disana tidak hanya menjual macaroni panggang saja tentunya, tapi saya tidak sempat lihat daftar menunya.

Di sebelah bangunan cafe Macaroni Panggang ini, ada bangunan yang lebih kecil tempat menjual Lasagna Gulung. Saya hanya sempat melihat-lihat sebentar menunya, tapi tidak jadi beli karena harganya cukup mahal, antara 50ribu, sampai 70ribuan, lain kali aja deh :P. Untuk lasagna gulungnya sendiri kita bisa memilih yang rasa tuna, kerang, ayam, dan daging.

Tak jauh dari Macaroni Panggang dan Lasagna Gulung ini, ada Rumah Cup Cakes, yang tidak ada dalam rencana perjalanan kami sebenarnya, tapi tempatnya cukup menarik dengan dominasi warna putih dan pink. Cup cakes berbagai ukuran dan topping beraneka bentuk terlihat ‘lucu’ dan menarik. Saya hanya membeli macarons, cake kecil berwarna warni, dengan cita rasa sangat manis, dengan krim gula, yang dikemas dalam kotak bening berisi 6 macarons. Namanya icip-icip, saya beli macarons seharga Rp28.000 patungan berdua dengan teman saya. Menurut lidah saya, macarons itu seperti kue kering yang terbuat dari putih telur yang dikocok bersama gula pasir sampai mengembang. Ah, apa ya itu namanya, mungkin macarons juga kali ya :)

Next destination … Pia Apple Pie di Jalan Pangrango. Jalan kaki sekitar 10-15 menit dari Rumah Cup Cakes. Mereka menjual berbagai macam pie, dengan andalan apple pie. Saya membeli apple pie ukuran medium seharga Rp38.000. Ternyata ukurannya besar juga, mungkin sekitar 30×10 cm, bukan ukuran pasti, dikira-kira aja … hehehe.

Pia apple pie ini berseberangan dengan Kedai Kita yang menjadi tempat tujuan kami selanjutnya, sekaligus yang terakhir hari ini. Untuk bersepuluh kami memesan 3 pan pizza bakar dengan rasa yang berbeda. Pizzanya enak kecuali yang rasa … saya lupa … pizza yang topping seafoodnya terasa amis di lidah kami. Jadi kami terpaksa menyingkirkan topping seafood ini dan hanya memakan bagian rotinya. Saya tidak lihat-lihat menu makanan disini, ya, menu standar cafe dengan harga-harga standar cafe juga. Untuk dessert sebenarnya kami berniat memesan ice cream cake yang terlihat menarik dari gambarnya, sayangnya tidak tersedia, akhirnya kami hanya memesan es campur dan es teler. So-so lah …
Kedai Kita ini terdiri dari 2 lantai, bisa memilih duduk di kursi atau lesehan, tempatnya nyaman untuk berlama-lama, makanya kami baru keluar dari sana pada pukul 17.30, dari pukul 14.00 :D. Kami memilih tempat lesehan di lantai atas, nyaman untuk me-rileks-kan kaki setelah seharian berjalan-jalan.

Dan … perjalanan hari ini ditutup dengan syukur …

Alhamdulillah ya Allah, masih bisa makan enak :)

walaupun mengalami pergeseran jadwal pulang karena kereta yang tidak tepat waktu, dan harus berjalan melewati jembatan penyeberangan terpanjaaaang (Semanggi – pen) di jagad raya (lebaayyy … ) untuk pertama kalinya, karena saya turun dari kereta di stasiun Tebet, dilanjutkan dengan naik Transjakarta dan turun di halte Semanggi.

Judulnya culinary trip, tapi ngga ada satu pun foto makanan??? Harap maklum pembaca, penulisnya narsis … hehehehe