Aku memuntahkan hasil kerjaku hari ini dari plastik hitam lusuh yang kusembunyikan di balik kemeja belelku. Seketika bau amis menyeruak, eergh … lain kali aku tidak akan mengambil plastik bekas dari tong sampah penjual ikan mentah di pasar.

Tiga buah dompet tampak di depanku. Dua diantaranya terlihat lebih bagus daripada satu yang lainnya.

Kuambil salah satunya, “Hehm … mahasiswa”, kataku sinis ketika membaca kartu identitasnya. “Aku yakin orangtuanya akan menyesal jika tahu untuk apa uang-uang kirimannya digunakan”.
Dompet ini kuambil dari saku belakang celana seorang mahasiswa di bus 213 jurusan Grogol ketika si pemilik dompet asyik bertelepon membuat janji foya-foya di mal bersama temannya. Aku dapati uang 150 ribu rupiah dan beberapa kartu plastik di dalamnya.

Dompet berikutnya milik seorang karyawati cantik yang lengah di halte depan Kantor Polda Jalan Sudirman tadi siang. Dari pakaian dan cara berdandannya, aku yakin uang 200 ribu rupiah di dompetnya ini hanya bernilai satu hari gaya hidupnya. Sekitar 5 atau 6 kartu berlogo beberapa bank aku temukan juga di dalamnya.

Dompet ketiga … lusuh. Kuperkirakan isinya tidak lebih dari 50 ribu rupiah. Kukeluarkan 3 lembar uang 10 ribuan dan 4 lembar uang ribuan dari dalamnya. Ah, ini dompet seorang kuli bangunan yang tertidur di depan mushola dekat proyeknya tadi siang. Maaf, aku tahu uang 34 ribu rupiah ini sangat berarti bagimu, tapi … setidaknya kamu memiliki pekerjaan.

Total 384 ribu rupiah. Kukantongi uang itu dan kubuang dompet-dompetnya setelah terlebih dahulu membakar semua kartu di dalamnya.

384 ribu rupiah, lebih dari cukup untuk membeli sepasang baju baru dan sebuah buku iqra yang kujanjikan pada adikku jika ia menamatkan 30 hari puasa pertamanya tahun ini.

Aku melangkah keluar dari tempat persembunyianku di belakang salah satu kios di Pasar Benhil. Para pemburu takjil mulai memadati jalan di depan pasar. Aku membaurkan diri dengan mereka, ikut memburu takjil untuk aku dan keluargaku berbuka puasa sore ini.

Kemudian, kukeluarkan sebuah ponsel dari saku kemejaku, ponsel yang aku ambil dari tas seorang ibu di bus transjakarta tadi pagi. Kuhubungi nomor seseorang yang diberi nama ‘Ayah’ di phonebooknya. “Halo … iya … iya handphone ini sekarang aman di tangan saya, kapan saya bisa mengembalikannya?”.
Semoga kebaikanku mengembalikan handphone ini cukup untuk menghapus dosa-dosaku hari ini.

* inspired by Teh Botol