Hari itu, waktu bukan lagi milikku … tapi milikmu, sepenuhnya.

*
Hari ketigaku di Jakarta, berada di lantai 7 sebuah gedung di kawasan elit SCBD Jalan Sudirman membuatku leluasa mengedarkan pandang ke gedung-gedung di luar sana. Dari sekian banyak gedung yang terlihat menjulang di kejauhan, hanya satu yang menarik seluruh perhatianku … The Plaza Semanggi.

Sebaris pesan singkat itu membuat konsentrasiku bubar, sekaligus membuat mataku yang terkantuk-kantuk terbuka lebar. Di ruangan training ini, bahkan aku tak bisa menangkap sedikit pun materi yang disampaikan. Aku hanya bolak balik mengecek inbox di ponselku, memastikan jam dan tempat yang dijanjikan, “Sepulang kantor di Plaza Semanggi”. Ya … a date!
Sesekali aku menengok ke luar jendela, ke Plaza Semanggi yang terlihat sangat dekat.

Aku mematut-matut diri di depan cermin rest room kantor, sempurna. Kusunggingkan sebuah senyum pada bayanganku, “Cantik”, batinku.

Kulangkahkan kaki dengan percaya diri menuju halte taksi di depan gedung, hari ini adalah pertemuan keduaku dengannya. Pertemuan pertama terjadi beberapa bulan lalu, cukup mengesankan, dan menjadi lebih mengesankan ketika berkali-kali setelah itu dia menghubungiku lewat telepon, “Pasti dia terkesan padaku”, lagi-lagi aku membatin.

SMSnya tadi siang adalah SMS pertamanya setelah cukup lama dia tidak menghubungiku, tepat ketika aku baru 3 hari menetap di kotanya. Momentum yang sempurna, mungkin ini pertanda baik … ah … senyum itu tak bisa lepas dari wajahku. Jalanan macet yang seharusnya menyebalkan tidak menjadi alasan bagiku untuk mengeluh. Desiran di hatiku menjadi sensasi nikmat tersendiri ketika taksi ini perlahan-lahan membawaku ke Plaza Semanggi.

Dia disana! Dengan posisi memunggungiku ketika aku masuk ke restoran itu. Aku berjalan perlahan, sehingga sempat memerhatikan apa yang dia lakukan selama menungguku. Seorang pelayan menghampiri mejanya dan menyajikan dua gelas minuman di depannya, “Bagaimana dia tahu aku akan menyukai minuman yang dipesannya?”. Abaikan, dia sudah berusaha bersikap manis.

Kami tinggal berjarak dua langkah lagi, aku mulai membuka mulut, dan, “Hai!”, sapaku, dia menengok, dan di saat yang sama seorang perempuan cantik mendekati meja kami, “Ooh ini Putri yang kamu ceritakan itu Sayang? Halo Putri, kenalkan saya Andini tunangan Deo”.

Selanjutnya, aku tidak tahu apakah kakiku masih menginjak bumi …

*inspired by …. The Plaza Semanggi
Tulisan ini mengandung 29% fakta 66% fiksi dan 5% mimpi :P