Pengen nulis tentang Mati Lampu, gara-gara semalam nonton Provocative Proactive di Metro TV …

Tema acara itu bukan tentang mati lampu sebenarnya, tapi tentang perlindungan terhadap anak jalanan, hanya saja ketika masuk sesi parodi, dimana 4 orang masing-masing berperan sebagai pemerintah, aktivis anak jalanan, dan 2 orang lagi gak jelas, si pemeran pemerintah ini berkata bahwa pemerintah telah membuat program yang bagus sekali untuk keluarga Indonesia, yang ditengarai dapat mengurangi kemiskinan sekaligus jumlah anak jalanan di Indonesia, yaitu Keluarga Berencana 2 anak saja cukup (preettt >.<), yang kemudian ditimpali oleh 2 orang yang tidak jelas perannya itu, “Gimana mau punya 2 anak saja, sering mati lampu sih … mau nonton tv gak bisa, ngapa-ngapain ga bisa, yaa akhirnya … “, Anda mungkin bisa paham maksudnya.

Gara-gara MATI LAMPU itu lah saya jadi ingat kenangan masa kecil saya, tentang mati lampu.

Puput kecil itu takut kegelapan. Saya akan berteriak histeris jika listrik tiba-tiba mati. Tidak hanya histeris, tapi sampai menangis-nangis mencoba mengenali barang-barang di sekitar, dan memanggil-manggil Mamah dan Bapa dengan rintihan yang menyayat hati :P
Tapi seketika saya tenang ketika melihat cahaya apapun dinyalakan di dekat saya, bahkan jika itu hanya sebatang obat nyamuk bakar.
Saya baru merasa tenang ketika lilin-lilin dinyalakan, dan selanjutnya yang saya rasakan adalah kebosanan. Tidak bisa menonton tivi, tidak bisa mengerjakan PR, tidak bisa melakukan apapun.
Biasanya kami sekeluarga hanya berkumpul di dalam kamar, di atas sebuah ranjang dan mulai memaksakan diri untuk tidur, walaupun belum mengantuk.
Tentu saja tidak bisa, karena saya tidak bisa tidur dalam kegelapan. Selalu muncul bayangan-bayangan aneh ketika mata terpejam dalam kegelapan. Hiiii …

Tapi Mamah selalu punya cara untuk membuat suasana menyenangkan. Mulai dari membuat berbagai bentuk bayangan hewan di dinding dibantu cahaya lilin yang redup, maka kami pun berebut tempat di depan lilin dan mulai menirunya. Sampai yang paling menyenangkan yaitu MENDONGENG.

Dongeng ini bisa tentang apa saja, fabel (paling sering tentang sakadang kuya dan sakadang kancil), Kabayan, cerita-cerita humor yang bisa dengan sempurna Mamah ceritakan dan membuat audience terbahak-bahak. Atau tebak-tebakan yang membuat kami penasaran, dan akhirnya terbahak-bahak juga.
Ada beberapa dongeng yang saya suka … dan tidak pernah bosan walaupun diulang berkali-kali, ah samar-samar saya ingat, cerita Kabayan ngala tutut, Kabayan nyari rumput, Si Kancil nyuri timun, Rametek & Ramehong, t*i atau pisang :p, santri pake celana panjang, orang kampung saba kota, dan … banyaaak, saya lupa.

Tapi ada satu kejadian yang bikin saya kapok pas mati lampu, waktu itu sambil bercerita-cerita, saya makan kacang kulit, ada sebutir kacang yang jatuh di kegelapan, saya meraba-raba mencari sebutir kacang yang jatuh itu, dan … taraaaa … saya menemukan sesuatu yang diduga kacang, langsung saja saya makan, saya kunyah, dan hooeeekkkk … berminyak.
Mungkin kalian ada yang pernah makan lelehan lilin???

Ritual mati lampu ini ditutup dengan meniup lilin sambil menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun ketika lampu menyala kembali … :)
Menyenangkan …