Entah apa yang dipikirkan oleh tim kreatif acara musik yang biasa tayang pagi hari di salah satu tv swasta itu. Senin pagi (18 Juli 2011), sembari bersiap-siap berangkat ke kantor, saya biarkan tv menyala, tidak banyak pilihan acara yang bisa saya tonton, karena hanya beberapa stasiun tv saja yang tertangkap jelas oleh antena dalam kamar saya. Kebetulan hari itu adalah hari pertama tahun ajaran baru di sekolah-sekolah, sekaligus hari pertama masa orientasi siswa (MOS) bagi para siswa yang baru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Maka tema si acara musik pagi itu berkaitan dengan MOS. Tiga orang pembawa acaranya mengenakan seragam sekolah SMP dan SMA (ceritanya mereka panitia MOS), dan setiap bintang tamu yang akan tampil ditanya-tanya soal pengalaman MOS atau masa sekolah mereka. Ya, menurut mereka, tema acara pagi itu adalah MOS!

Tapi, kalau saya simpulkan dari acara musik yang sekilas saya tonton itu, tema acara pagi itu lebih cocok dinamai …  “Kekerasan dalam dunia pendidikan di Indonesia”. Baik pembawa acara maupun bintang tamunya dengan bangganya menceritakan pengalaman MOS mereka yang tidak lebih dari tindak KEKERASAN.
Di satu sesi game, 2 tim yang terdiri dari 2 band (diumpamakan 2 kelompok dalam suatu acara MOS) diminta memilih nama jelek mereka.
Di sesi yang lain, seorang artis pengisi acara menceritakan, pada MOS di sekolahnya dulu setiap siswa baru harus punya nama panggilan yang berupa nama-nama hewan! Sekali itu saya menghela nafas.
Kemudian, si pembawa acara beberapa kali membacakan tweet dari beberapa follower akun twitter acara mereka yang lagi-lagi masih bertema MOS, hmm, tidak lebih baik dari pengalaman MOS para pengisi acara di atas panggung.
Ada satu lagi yang membuat saya akhirnya memindahkan channel tv, yaitu ketika salah satu artis pengisi acara menceritakan (lagi-lagi) dengan bangganya pengalamannya dipukuli 14 orang kakak kelasnya, karena apa? Karena hal sepele yang biasa saya bilang Cinta Monyet.
Mana pendidikan yang memanusiakan manusia?

Sadarkah mereka, beberapa atau puluhan atau ratusan kilo meter dari panggung tempat mereka syuting, mungkin ada seorang anak yang sedang menyaksikan acara mereka dan berpikir, “Sekolah adalah kekerasan!”

Acara itu seperti biasa ditayangkan live, dimana normalnya anak-anak usia sekolah sedang berada di sekolah mereka. Namun yang membuat miris, penonton acara itu lebih banyak berwajah anak-anak usia sekolah, SMP atau SMA. Tidak sekolah kah mereka?

Apa yang ada di pikiran produser acara itu sehingga membuat acara yang melibatkan anak-anak yang semestinya berada di sekolah? Apa pula yang ada di pikiran orang-orang di KPI sehingga mengizinkan acara seperti itu tayang di tv? Yang lebih susah lagi menebak pikiran pemerintah, apa yang mereka pikirkan tentang masa depan generasi penerus bangsa ini?