Baru saja selesai membaca novel ketujuh Andrea Hirata (AH) ini, padahal baru kurang dari 2 jam yang lalu saya mulai membacanya. Ringkas saja, hanya 101 halaman.

Andrea Hirata kembali memunculkan tokoh Ikal dengan kecintaannya pada sepakbola, pada klub kesayangannya – PSSI, dan pada ayahnya yang juga sangat mencintai sepakbola. Semuanya bermula ketika pada suatu hari Ikal menemukan selembar foto yang mengungkap masa lalu ayahnya.

Meski cita-citanya menjadi pemain muda PSSI kandas, Ikal tetap menggilai sepakbola. Dalam suatu perjalanannya keliling Eropa dan Afrika (seperti diceritakan pada novel Edensor), dia berhasil mendapatkan kaos bertandatangan pemain favorit ayahnya dan menonton pertandingan langsung dua klub bergengsi disana.

Namun lagi-lagi, setiap membaca novel AH saya dikecohkan dengan ceritanya yang entah mana yang fiksi entah mana yang nyata.
Di Sebelas Patriot, Ikal diceritakan pernah ikut seleksi pemain junior PSSI. Ini fiksi atau nyata?
Menariknya, AH menyertakan beberapa foto dirinya dikaitkan dengan hal yang sedang diceritakannya, memaksa kita untuk percaya bahwa yang diceritakannya itu adalah benar adanya.

Hanya, kadang saya suka bingung dengan latar waktu dalam setiap novel AH.
Misalnya, ayahnya diceritakan pernah bermain sepak bola melawan tim penjajah Belanda pada masa remajanya, artinya sebelum tahun 1950 ayahnya sudah menginjak remaja. Tapi masalah kebingungan itu saya pikir bisa dirasionalkan dengan mencari info tentang tokoh yang sekilas diceritakan dalam novel ini.
Namun dikaitkan dengan film Laskar Pelangi, menurut saya Mathias Muchus terlalu muda untuk mendapat peran sebagai ayah Ikal.

Btw, ada yang tau Kevin Keegan itu pemain bola era tahun berapa?

*oh ya saya pernah membaca surat E.S.Ito untuk timnas Indonesia yang akan berlaga di final AFF tahun 2010 lalu, novel ini berbicara sedikit sama dengan surat E.S.Ito, bahwa sepak bola adalah kegembiraan, ketika tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin negara.