Baru kali ini saya menyaksikan orang-orang rela mengantri panjang, dan tentu saja, lama demi sebatang eskrim.
Fenomena tersebut saya saksikan di depan Magnum Cafe, Grand Indonesia.

Hari Sabtu siang itu (9 April 2011), atas ajakan teman saya, jadilah saya berangkat ke Grand Indonesia. Saya mengiyakan, dengan tujuan utama hanya jalan-jalan dan makan, tidak ada agenda ke Magnum Cafe, walaupun teman saya sebenarnya dari awal berniat kesana.
Lagipula, saya tidak tahu apa istimewanya Magnum Cafe ini sehingga terkesan menjadi tempat yang wajib kunjung di Grand Indonesia.

Sesampai di Lantai 5 Grand Indonesia West Mall, saya menyaksikan pemandangan yang tidak biasa. Satu antrian mengular (asli tu antrian panjang banget … ) saya lihat di depan Magnum Cafe.
“Ya ampun … apa ini??”, saya terheran-heran.
Disana, teman saya langsung menghampiri 3 orang temannya yang lain yang sudah masuk garis antrian, oohh … janjian rupanya.

Saya yang memang tidak berniat mengular seperti mereka, segera menarik teman saya untuk mencari tempat makan siang. Lapar!!!

Makan siang selesai, kurang lebih satu jam. Enaknya kemana lagi ya abis ini?
Rupanya teman saya itu masih penasaran untuk kembali lagi ke Magnum Cafe (emang niat sih …). Dan … ya ampun, semakin siang antrian semakin panjang, dan 3 orang temannya teman saya itu masih berdiri di jarak yang masih lumayan jauh dari pintu masuk kafe.

Saya berbisik, “Aku sih gak seniat itu makan Magnum sampai mesti ngantri sampai mengular kayak gitu. Kalo mau ikutan ngantri silakan aja, tapi aku gak ikutan “. Tentu saja saya berkata seperti itu karena awalnya saya pikir mereka mengantri untuk take away.
Jadi, FYI (jadi promosi gratis juga kali nih), ada dua jalur antrian, yaitu untuk yang makan di tempat dan untuk pesanan yang dibawa pulang.
Tapi, setelah kemudian mengetahui mereka mengantri untuk makan di tempat, akhirnya saya masuk antrian, langsung berdiri di samping 3 orang temannya teman saya yang sedari tadi mengantri. Hihi.

Jadi, sekarang pertanyaannya, apa yang istimewa dengan eskrim Magnum ini? Padahal seingat saya, eskrim ini sudah ada sejak saya masih kecil, ketika saya masih tinggal di Sumedang, dimana toko yang menjual eskrim masih sangat jarang (terutama karena rumah saya waktu itu jauh dari kota), dan satu-satunya penjual eskrim Wall’s yang masuk ke daerah tempat tinggal saya adalah penjual eskrim Wall’s yang berjualan dengan menggunakan gerobak (??) sepeda yang membunyikan jingle iklan paddle pop, yang mana si penjual itu hanya lewat jalan dekat rumah saya pada hari Minggu siang… satu minggu sekali.

Saya ingat, Magnum sudah dipasarkan sejak masa itu, karena Mamah adalah salah seorang penggemarnya. Walaupun merupakan eskrim stik dengan harga paling mahal, Mamah seperti ketagihan terus membeli dan membelinya setiap minggu. Untung si penjual eskrim itu hanya lewat seminggu sekali, jadi gak bikin kantong jebol. Hehe.

Ada yang ingat, berapa harga Magnum saat itu? Seingat saya sih Rp6.000? Mahal untuk ukuran kantong saya yang waktu itu hanya mendapat uang jajan Rp500-Rp1.000 per hari. Lagipula, dari awal mencicipnya pun, saya tidak mengerti bagaimana Mamah bisa menyukai eskrim vanila berbalut coklat itu. Yeah, tepat jika Magnum memasarkan dirinya untuk pasar remaja sampai dewasa. Tidak cocok untuk lidah SD saya yang lebih suka menjilati paddle pop yang berwarna warni.

Kemudian, di tahun 2010 kemaren Magnum muncul kembali sebagai eskrim yang membuat semua orang penasaran. Penasaran karena iklannya yang menampilkan model iklan menggigit eskrim dengan nikmatnya, dan semakin penasaran karena eskrimnya yang amat sulit dicari.

Kelangkaan itu sendiri tidak pernah saya rasakan sebenarnya, karena pada suatu hari, belum lama setelah iklan itu beredar, saya dengan mudah menemukannya di toko ritel dekat kostan saya. Saya memang berniat membeli eskrim waktu itu, dan tidak sengaja menemukan eskrim yang iklannya paling sering diputar di tivi itu.

Kesan pertama … hmm … apa yang salah ya? Lidah saya kah? Karena saya malah lebih menyukai eskrim Wall’s vanila bersalut coklat yang lain yang harganya hanya Rp3.000 ketika saya mencoba Magnum Classic.

Tidak percaya dengan lidah saya, pada kesempatan yang lain, saya membeli Magnum rasa almond (lagi-lagi saya dengan mudah menemukannya), ah … pasti ini kali kedua lidah saya salah, karena saya tidak merasakan ada yang istimewa pada eskrim ini.

Oke, saya harus mengujicobakan lidah saya untuk ketiga kalinya dengan mencoba Magnum yang luar dalamnya coklat. Maka, pada kesempatan ke Magnum Cafe tempo hari saya memesan Banana Royale yang di gambar dan deskripsi singkatnya disebutkan bahwa dalam Banana Royale ada satu Magnum vanila dan satu Magnum coklat dengan potongan pisang dan strawberry serta krim di atasnya. Tapi … apakah kali ini saya salah pesan? Atau pelayannya yang salah menyajikan? Karena saya mendapati dua batang Magnum vanila dalam piring saya.

Yeah, terlepas dari bagaimana rasa eskrim Magnum menurut lidah saya (karena rasa adalah selera, maka saya tidak mengatakan Magnum tidak enak, tapi … Magnum enak, tapi saya kurang suka), saya salut dengan keberhasilan Wall’s memasarkan Magnum. Entah bagaimana strateginya, sehingga Magnum menjadi eskrim paling dicari dalam setahun terakhir. Dicari bukan hanya karena rasanya yang mungkin bagi banyak orang terasa sangat lezat, namun juga dicari karena langkanya. Bahkan di beberapa toko yang menjual Wall’s, tak jarang kertas bertuliskan “Magnum habis” ditempel di dekat lemari penyimpan eskrim, saya pikir mungkin karena saking banyaknya orang yang mencari Magnum dan saking kesalnya si penjaga toko harus memberikan jawaban yang sama berkali-kali-kali dalam sehari setiap kali orang bertanya, “Ada Magnum ga?”

Magnum Cafe, satu rangkaian dengan strategi yang dijalankan Wall’s untuk memasarkan Magnum, tak ayal juga membuat orang penasaran.
Ketika eskrimnya sulit dicari, Magnum membuka cafe di mal kelas atas di tengah Kota Jakarta, dengan demikian semakin menegaskan bahwa Magnum adalah eskrim yang berkelas, walaupun dipasarkan secara massal. Apalagi para tamu di cafe tersebut dimanjakan dengan suasana yang amat nyaman, dengan sapaan My Lady & My Lord yang tertempel di beberapa dinding cafe. Dengan interior yang apik, banyak pengunjung tak melepaskan kesempatan untuk berfoto di beberapa sudut cafe. Lebih menarik lagi karena pelanggan berkesempatan berfoto gratis dengan berbelanja minimal Rp150.000. Di area foto itu, terdapat dua buah kursi macam singgasana dengan berlatar tulisan Magnum yang cukup besar, dan beberapa aksesoris tambahan yang  bisa kita gunakan, seperti mahkota dan beberapa topeng cantik. Tentang rasa eskrimnya, saya hanya bisa berkomentar, “It was ok”

*diposting oleh akuntan bukan marketer