Saya termasuk orang yang seringkali menggerutu mengenai masalah kemacetan di Jakarta, apalagi ketika suasana hati sedang tidak baik.
Sampai pernah saya berkata dalam hati, bahwa seandainya nanti saya sudah memiliki kendaraan pribadi (Amin), saya tidak akan menggunakannya untuk berangkat kerja pagi hari, kecuali jika sangat terpaksa. Mengapa? Pertama, saya tidak akan cukup sabar menghadapi kemacetan yang menggila. Kedua, sebagai warga pendatang yang santun, saya tidak ingin memperparah kemacetan di Jakarta. Sungguh niat yang sangat mulia O-:)

Tapiiii … itu pilihan yang dilematis, karena sudah menjadi pengetahuan umum (mungkin tahun depan akan masuk dalam soal-soal penerimaan CPNS :P) bahwa Jakarta belum memiliki alat transportasi publik yang nyaman. Sehingga saya berpikir untuk memasukkan sedikit addendum dalam niat saya, bahwa “Saya tidak akan menggunakan kendaraan pribadi untuk berangkat kerja, kecuali jika Jakarta belum memiliki sistem transportasi massal yang nyaman dan efisien sampai nanti saya punya kendaraan pribadi”  :D
Emang mau berapa lama lagi tinggal di Jakarta????

Bukan apa-apa … hanya karena menjadi pejalan kaki di kota sebesar Jakarta itu sungguh-sungguh sangat amat tidak nyaman, dan seringkali tidak aman. Walaupun pejalan kaki memiliki hak untuk menggunakan jalan, namun seringkali hak-hak itu dilanggar oleh pengguna jalan lain yang menggunakan kendaraan. Dongkol sangat. Mungkin kedongkolan saya akan berkurang jika saya tidak lagi melihat potongan pajak dalam slip gaji saya setiap bulan :P

Beberapa kasus pelanggaran hak pejalan kaki yang seringkali saya alami selama perjalanan ke tempat kerja saya paparkan di bawah ini :

Kasus 1
Pagi hari yang cerah, dan membuat gerah, saya berjalan tergesa menuju halte Trans Jakarta Bendungan Hilir dari arah pasar Benhil.
Tahukah Anda? Ada belasan bahkan puluhan Bapak Ojek yang mangkal di trotoar jalan dari Pasar Benhil sampai ke bawah jembatan penyeberangan menuju halte Transjakarta. Saya masih merasa tidak terganggu, karena trotoar disana cukup lebar untuk para pengojek yang memarkir motor mereka dan pejalan kaki yang berlalu lalang. Namun saya tersentak ketika secara tiba-tiba mendengar klakson motor dari arah belakang saya. Kalau bukan karena kaget, tidak akan saya menyingkir memberi motor itu jalan. Kesal sekali rasanya.
Bahkan sering kali motor-motor itu berseliweran begitu saja di antara para pejalan kaki, lengah sedikit saja, sedikit bagian tubuh kita mungkin menjadi korban.

# Huh :( trotoar ternyata tidak cukup aman dan nyaman untuk pejalan kaki

Kasus 2
Dalam perjalanan menuju tempat kerja, setelah turun dari bus Trans Jakarta di Halte ASMI, saya harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot KWK U-04 berwarna merah menuju daerah Kelapa Gading.
Kemudian, saya akan berhenti persis di seberang ujung bangunan Mal Kelapa Gading 3, karena di sana lah ada zebra cross dimana saya (merasa) akan menyeberang dengan lebih aman.
Salah satu kegiatan menyebalkan (yang sering saya hindari) adalah … menyeberang jalan. Tapi untuk bisa mencapai tempat kerja tujuan saya, tidak ada pilihan lain selain harus menyeberangi jalan lebar yang masing-masing arahnya memiliki tiga lajur.
Saya bersiap-siap di pinggir jalan. Dengan tatapan mengiba (lebay :P) saya berharap kendaraan-kendaraan itu memberi saya jalan.
Hah, dan ini lah yang menyebalkan. Kalau bukan inisiatif dari si pejalan kaki untuk memberanikan diri menyeberang dan meminta kendaraan-kendaraan itu untuk berhenti, kendaraan-kendaraan itu tak sedikit pun memberi kesempatan.
Bukannya melambatkan laju kendaraan mereka, ketika melihat seorang atau segerombolan orang hendak menyeberang jalan (walaupun itu di zebra cross), kendaraan-kendaraan itu malah tampak mempercepat lajunya agar lebih cepat melalui zebra cross dan tidak terganggu  oleh para pejalan kaki yang hendak menyeberang. Tidak jarang pula, lambaian tangan untuk meminta jalan malah disahuti oleh klakson kendaraan yang juga meminta jalan. Sebal sangaaaatttt!!!

# Huh :( Zebra cross pun ternyata tidak cukup aman dan nyaman untuk para penyeberang jalan

Kasus 3
Alhamdulillah, tiba saatnya berkemas-kemas dan pulang ke kost. Pada hari-hari dimana saya tidak perlu lembur, saya berusaha keluar dari kantor klien paling lama jam 9 malam (jam 9 malam belum dihitung lembur yaa) agar masih bisa naik bus TransJakarta yang loketnya tutup jam 10 malam. Satu hal diantara banyak hal yang kurang saya sukai dari naik bus TransJakarta ini adalah berjalan menuju halte melalui jembatan penyeberangan yang puanjang sangat (hehehe … kok ngeluh terus yaa). Dan satu hal dari SATU hal yang paling saya benci dari kegiatan berjalan di jembatan penyeberangan ini adalah bertemu pengendara sepeda motor (dan motornya tentu saja) di sana.
Heeeiii … ini JPO bukan JPM!!! Mengapa mereka dengan bebas berlalulalang di jembatan penyeberangan orang?!  
Tak jarang, mereka membunyikan klakson meminta pejalan kaki minggir dan memberi mereka jalan. Hal yang paling ingin saya lakukan (tapi selalu urung) adalah tidak memberi mereka jalan dan berjalan acuh, atau … menjungkalkan motor mereka ketika mereka menyalip saya. Hahaha … devil abis.

Kasus 4

#siapa suruh datang Jakarta … siapa suruh datang Jakarta … #
Tiba-tiba lagu itu terngiang di telinga saya …

Oke … btw … back to work

– Curhatan ini mengendap di box draft sejak Jan 2011 –