Sambil menunggu Riska, teman Pam Baru kami yang baru bisa bergabung menjelang sore. Kami mendekati kerumunan bapak sepeda, menanyakan harga sewa sepeda. Untuk menyewa sepeda selama satu jam, kami harus membayar Rp20.000. Tapi, bapak sepeda menawarkan paket yang lebih menarik. Kami ditawari diantar berkeliling ke lima lokasi sepuasnya, tidak dibatasi jam, dengan harga Rp30.000. Tanpa banyak mempertimbangkan, kami langsung menerima tawaran itu.

Pengalaman yang luar biasa, terutama karena untuk pertama kalinya saya bersepeda di jalanan besar berpapasan tidak hanya dengan mobil-mobil kecil, namun juga truk-truk besar yang keluar masuk Pelabuhan Sunda Kelapa. Tegang sepanjang jalan, apalagi ketika beberapa kali kami harus menyeberang jalan dan memberhentikan kendaraan dari arah yang berlawanan. Huhuhu … tatuuut

Dari Kota Tua, kami bersepeda sekitar 10 menit menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Disana ada puluhan kapal yang berlabuh. Dari sana kami melanjutkan perjalanan ke Museum Bahari, yang katanya beberapa kali dipakai syuting film, iklan, dan reality show. Museum itu terletak tidak jauh dari Pelabuhan, hanya sekitar 5 menit dengan bersepeda. Museum yang tidak terurus, tidak ada pencahayaan yang memadai. Di dalamnya dapat kita lihat replika kapal-kapal berukuran kecil, peralatan kapal, dan berbagai jenis ikan yang diawetkan. Untuk bisa berjalan-jalan disana, kami harus membayar Rp2.000, saya pikir hanya sekedar  uang basa-basi untuk pemasukan penjaga museum, yang tidak bergeming di depan TV-nya ketika kami masuk.

Tak jauh dari Museum Bahari ada menara tua, yang katanya dulu dipakai sebagai menara pengawas kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan. Tapi kami memutuskan tidak masuk kesana, karena jarum jam sudah menunjuk pukul 17.00.

Kami kembali ke kawasan Kota Tua Jakarta. Setelah sebelumnya berhenti di Jembatan Intan, yang terletak di seberang Hotel Batavia, yang katanya saat ini dimiliki oleh Tommy Soeharto. Dan melewati Toko Merah, yang pernah dipakai sebagai tempat pembantaian orang-orang Tionghoa. Sejarah mereka memang suram di Indonesia.

Kedua lokasi itu, Jembatan Intan dan Toko Merah, terletak berseberangan dengan Kawasan Kota Tua, dipisahkan dengan kali cukup lebar yang kotor dan berbau tidak sedap. Kotornya Ibu Kotaku :(

Perjalanan pun berakhir di Kota Tua, kami sampai disana sekira pukul 17.30. Ternyata kawasan itu masih sangat ramai sampai sesore itu, rupanya akan ada acara yang digelar pada malam harinya, beberapa tenda kecil bertuliskan nama salah satu produk minuman ringan sudah terpasang di tengah lapangan di depan Museum Sejarah.

Dari sana, dengan badan yang sudah sangat letih kami menyempatkan menyicipi es krim Italia Ragusa yang katanya sangat nikmat. Namun kami agak kecewa, karena rasa eskrim yang kami beli tidak sesuai dengan ekspektasi kami. Ragusa terletak di kawasan Gazebo Café, tidak jauh dari kawasan Kota Tua. Café itu masih sepi ketika kami sampai disana bertepatan dengan adzan Maghrib. Rupanya mereka baru buka lapak pada sore menjelang malam. Atmosfirnya membuat saya kurang nyaman sebenarnya. Café itu terletak tidak persis di pinggir jalan, agak masuk ke lorong di belakang sebuah bangunan tua. Cahayanya agak remang, dan sebuah plang bergambar logo dan tulisan 2 merek minuman beralkohol rendah terpampang di salah satu stand café. Saat itu saya hanya berbisik kepada Erdin, “Maghrib-maghrib gini, 5 orang cewek berjilbab masuk ke tempat ini, kok agak gak enak ya?”, bahkan kami meragukan di tempat ini kami bisa numpang sholat maghrib, tetapi bersyukur juga kami menemukan mushola disini.

Selama satu jam disana hanya dua meja di Ragusa yang terisi, satu meja ditempati oleh kami berlima, satu lagi ditempati oleh sepasang muda mudi, yang diperkirakan umurnya tidak jauh dari kami. Untunglah kami tidak datang lebih malam, akan terlihat lebih aneh lagi pastinya. Hehehe.

Perjalanan selesai? Belum … malamnya kami punya acara yang tak kalah menarik ;)

– Salam –