Ini sebenarnya kali kedua saya ke Kota Tua Jakarta, pertama kali hampir dua tahun yang lalu, bertepatan dengan libur nasional Kenaikan Isa Almasih. Saya tidak menyangka di hari libur biasa seperti kemarin, kawasan Kota Tua sangat ramai, jauh lebih ramai daripada kunjungan pertama saya kesana.

Sangat disayangkan Kota Tua bukanlah kawasan yang terurus sebagai cagar sejarah yang semestinya dilestarikan. Bangunan-bangunan tua dibiarkan dengan kondisi seadanya, tampak kotor dan kumuh di beberapa sudut. Penjual makanan dan pedagang kaki lima tersebar di berbagai titik. Sampah makanan dari pengunjung  dan penjual makanan tersebar dimana-mana. Seandainya kawasan Kota Tua ditata dengan lebih apik, tempat itu bisa menjadi tujuan wisata yang menarik dengan banyak spot yang unik untuk berfoto … teuteuuuup foto-foto teruuuusss!! :D

Setelah makan siang semangkok bakso campur dengan harga Rp10.000, menurut saya terlalu mahal dengan rasa yang seadanya, kami mengunjungi Museum Wayang. Untuk bisa masuk kesana dan melihat koleksi wayang dan boneka dari berbagai daerah dan beberapa negara, kami cukup membayar Rp2.000.

Disana kami disuguhi film tokoh pewayangan tiga dimensi, yang katanya pertama kali di Asia Tenggara kita bisa menyaksikan film tiga dimensi tanpa bantuan kacamata tiga dimensi. Sepertinya studio itu belum lama dibuka. Tidak seperti yang saya bayangkan, disana kami bukan menyaksikan film 3 dimensi dari layar selebar layar bioskop, melainkan hanya dari tiga TV layar flat.

Sebelum pemutaran film, si penyelenggara mengatakan bahwa pada hari itu kami baru akan diperkenalkan pada 6 tokoh pewayangan di film pendek itu. Rencananya mereka akan menggelar launching dan memperkenalkan 3 tokoh lainnya pada tanggal …. Hmm, saya lupa, yang pasti dalam waktu dekat dan masih di bulan Desember 2010 ini, sekaligus juga launching film peperangannya.

Tokoh pewayangan yang diperkenalkan kepada kami itu adalah:
Arjuna, digambarkan sebagai seorang yang sangat lihai memanah.
Bima, seorang sakti dengan kukunya yang sangat kuat.
Duryudana, seorang raja dengan kerajaannya yang megah.
Gatotkaca, seorang penerbang (pilot kaliii …) sakti, tapi tidak bisa membaca (makanya saya ajari :D)
Anoman, kera putih sakti, kuat luar biasa.
dan … satu lagi … Aswatama (ya … kalau tidak salah ingat), saya tidak begitu konsen di menit-menit terakhir pemutaran film ini.

Film pendek yang bagus dan menarik :). Karya putra putri Indonesia kah? Saya tidak sempat menanyakan, karena begitu film selesai, kami langsung dipersilakan keluar ruangan. Banyak pengunjung lain yang menunggu di depan pintu studio untuk menyaksikan film itu. Saya yakin, seandainya karya itu dipublikasikan lebih luas, akan lebih banyak orang yang mengapresiasi.

Sekitar jam setengah 3 sore kami baru keluar dari Museum Wayang. Tujuan berikutnya adalah Museum Sejarah, yaitu bangunan utama di Kota Tua, terletak tak jauh dari Museum Wayang. Sayang sekali, museum itu hanya buka sampai pukul 15.00. Jadi kami tidak sempat masuk kesana.