Jumat malam itu, spontan saja tercetus ide untuk berjalan-jalan dan berfoto-foto di kawasan Kota Tua Jakarta. Beruntungnya teman-teman yang lain pun mengiyakan tanpa banyak kompromi. Maka, pagi itu (Sabtu, 18 Desember 2010) berangkatlah kami berempat dari Pam Baru Bendungan Hilir.

Kami berangkat lebih siang dari rencana awal. Biasa lah, Sabtu pagi memang saat yang tepat untuk berlama-lama merebahkan diri di kasur, walaupun tidak empuk. Akhirnya kami baru berangkat jam 10.30 siang, ketika matahari sudah panas menyengat. Prediksi kami hari sebelumnya salah. Kami pikir, sepanjang Sabtu siang ini Jakarta akan mendung (tak berarti hujan) seperti hari-hari sebelumnya.

Tidak rela rasanya harus menjemurkan diri di Kota Tua Jakarta yang panas, apalagi kulit saya tidak seputih Sinta :P. Maka dengan niat berfoto-foto, dan semoga saja ada ilmu yang bisa kami petik dari sana, kami memutuskan pergi ke Museum Nasional terlebih dahulu.

Museum ini terletak di Jalan Medan Merdeka Barat, berseberangan dengan kawasan Monas, dan bertetangga dengan beberapa Kantor Kementerian. Mudah saja museum ini dijangkau, dengan naik Trans Jakarta dari Halte Bendungan Hilir menuju Kota, kami hanya mengeluarkan uang Rp3.500 sampai Halte Monas. Museum Nasional terletak persis di seberang Halte Monas.

Untuk bisa masuk kesana, kami cukup membayar tiket Rp5.000. Jauh lebih murah daripada ongkos rekreasi ke mal. Tapi mengapa masyarakat kita lebih suka window shopping di mal daripada melihat-lihat koleksi di museum yang banyak menyimpan ilmu pengetahuan itu? Huhu … termasuk juga saya mungkin ya :(

Disana, sekalian saya juga menjalankan suatu misi rahasia. Mencari benda bernomor seri 785b. Hahaha. Beberapa hari sebelumnya saya baru selesai membaca novel Negara Kelima, yang ditulis E.S Ito, buku yang sebenarnya saya beli hampir 2 tahun yang lalu. Disana disebut-sebut benda koleksi Museum Nasional bernomor seri 785b. Mungkin itu fiksi, tapi seandainya itu ada, berarti sebagian isi novel itu memang sesuai fakta. E.S Ito memang pandai membuat para pembacanya terjebak antara fiksi dan fakta. Walaupun misi ini tidak berjalan dengan baik, alias saya tidak menemukan benda itu, tapi hati tetap puas dan senang. :D

Hujan deras tiba-tiba saja turun seperti digelontorkan dari langit ketika kami keluar dari museum lepas beberapa menit dari jam 12. Kami sempat khawatir rencana hari ini akan berantakan, namun ternyata hujan tidak berlangsung lama. Tidak lebih dari 5 menit, hujan langsung reda begitu saja. Cuaca akhir-akhir ini memang sulit diprediksi.

Berikutnya setelah lewat dzuhur di Museum Nasional (sebagai informasi, mushola Museum Nasional terletak di parkiran bawah tanah, turun menuju tempat parkir dari pintu parkir di halaman depan museum), kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Tua dengan menggunakan busway menuju Stasiun Kota, siapkan Rp3.500 lagi.

 

“Berpose bersama seekor gajah duduk di depan pintu masuk utama Museum Nasional. Mungkin karena patung gajah inilah, museum ini juga disebut Museum Gajah (mungkiiiin lho yaaaa :P)
Perhatian! Jangan sekali-sekali mencoba pose yang sama, ehm … maksud saya berfoto sambil memegangi gajahnya. Bukan karena gajah itu akan mengamuk, namun di luar pintu masuk, saya kemudian baru membaca bahwa kami tidak diperbolehkan memegang koleksi museum, katanya, tangan kita mengandung keringat, keringat mengandung garam, garam dapat merusak batu-batu koleksi museum (cmiiw)”

” Tim Ceria, Tim Hore, Tim Haha Hihi, Tim Hura Hura, apapun namanya, yang pasti mereka adalah 3 orang penghuni Pam Baru yang ikut dalam ekspedisi Sabtu itu”