Sebelumnya

Pada suatu malam, ketika saya memergokinya di dapur, dengan mengendap-ngendap, saya mendekati PB. Dia terlambat menyadari saya sudah berada dekat di belakangnya. Dia kaget mendapati tangan saya sudah terjulur hendak menyentuhnya. Ketika PB bersiap lari, tangan saya sigap menangkapnya. Horraaayyyy … dia tertangkap! Dengan kedua tangan, saya berusaha menahannya.

Pada mulanya, dia memberontak, tapi tenaga dia tidak lebih kuat dari cengkeraman tangan saya. Padahal energi ketakutan dia seharusnya cukup untuk melawan saya. Lambat laun, badannya tidak lagi menegang. Tampaknya dia sudah pasrah pada nasib, pasrah walaupun saya akan segera menjadikannya sate kucing, atau kucing guling, atau kucing panggang saus tiram.

Ketika tangan saya mulai mengelus-elus kepalanya. Dia bukan hanya tidak menegangkan sekujur badannya, tetapi juga tidak berusaha melarikan diri ketika perlahan-lahan saya renggangkan cengkeraman saya. See?? Teori saya terbukti kan, kucing seliar apapun akan takluk ketika kita mulai menyentuhnya … hahaha.

Sejak saat itu … PB masih datang ke dapur dengan mengendap-endap. Dia pun masih akan terlihat ketakutan ketika saya mendekatinya. Tapi, ketika saya mencoba menangkapnya, dia terlihat pura-pura ketakutan. Kenapa saya bilang pura-pura? Kembali pada Teori Malu-Malu Kucing, yaitu sejenis malu tapi mau, PB yang terlahir sebagai kucing mengerti benar tentang teori ini. PB akan pura-pura seolah-olah akan melarikan diri ketika saya mendekatinya. Tapi, tidak seperti sebelum-sebelumnya, dia tidak benar-benar melarikan diri. Dia memberi kesempatan kepada saya untuk bisa menangkapnya. Dan HAP!!! Semudah itu saja dia ditangkap. Ketika saya mengelus-elus kepalanya, dia tampak menikmatinya, mata merem-merem, dan leher yang terjulur ingin dielus. Pada tahap ini, PB menjadi sedikit menyebalkan.

  Berikut Foto si PB yang semakin hari semakin lebay >.<