Sebenarnya saya sudah menyiapkan judul tulisan “Menanti Kabar Baik dari Menteng” jika keadaan berkebalikan dengan sekarang.
Sayangnya kabar ‘baik’ yang datang itu tidak cukup baik bagi saya.

Beberapa minggu lalu, di wawancara akhir saya tampil sangat percaya diri dengan bahan presentasi yang saya sajikan. Terlalu percaya diri sehingga saya menyimpan harapan yang tinggi untuk bisa lolos menjadi pegawai di tempat itu. Padahal dari awal menjalani tahapan-tahapan tes disana, saya menjalaninya dengan ringan, benar-benar tanpa beban, karena saya berserah diri sepenuhnya kepada Allah, dengan tetap melakukan usaha dan doa.

Ada satu pertanyaan yang saya ingat dari si pewawancara, “Apakah saya cukup tangguh untuk sebuah penolakan?”

Si pewawancara bertanya seperti itu menanggapi presentasi saya, yang lebih seperti paparan proposal.

Penolakan? Bukanlah itu hal yang biasa dalam hidup? Seumur hidup, banyak penolakan yang pernah saya terima.

Dan penolakan-penolakan itu tidak membuat saya jadi mati kreativitas, tidak membuat saya putus asa, hei … bahkan saya masih bisa berkarya sampai sekarang.

Allah tahu yang terbaik buat kita bukan? Dan yang baik itu belum tentu yang sesuai dengan keinginan kita.

Lagipula, tidak pada tempatnya saya kecewa. Saya masih bekerja di salah satu Kantor Akuntan ternama di Jakarta. Walaupun kadang saya mengeluh dengan rutinitas yang saya kerjakan, tapi lebih banyak yang bisa saya syukuri karena tidak setiap orang memiliki kesempatan yang sama.

Saat ini, saya hanya menanti kabar baik dari Allah untuk peluang yang lebih baik …