Dan, sudah hampir dua bulan saya tidak nge-blog. Sejak sebulan yang lalu saya sudah mulai masuk klien, yang mana waktu yang dibutuhkan untuk satu kali pulang pergi dari Kost ke Klien sama dengan satu kali pergi dari Jakarta ke Bandung. Jika dalam satu minggu = 5 hari kerja saya melakukan perjalanan ke klien ini, maka sama saja dalam satu minggu itu saya 2 kali pulang pergi Bandung-Jakarta PLUS satu kali pergi, dan ga pulang-pulang lagi :D

Kalo dikatakan sibuk, sebenarnya tidak juga. Sebenarnya saya juga malu harus mengatakan diri ini sibuk, sementara setiap malam saya masih bisa tidur lebih dari 6 jam.

Kalo dikatakan tidak ada bahan nulis (baca: curhat), itu juga tidak dapat dibenarkan. Karena kalo saya menilik pada histori postingan saya 2 tahun belakangan. Saya cukup produktif curhat justru pada bulan-bulan saya berada di klien. Karena sepanjang perjalanan yang panjaaaang menuju klien itu banyak hal yang saya temui, saya lihat, saya rasakan, saya dengar, saya amati, saya cermati, saya teliti (wes ah … lebay :D). Dari hal-hal yang menjengkelkan, menyenangkan (sambil memikirkan hal menyenangkan apa yang pernah saya alami?!?!? Apa ya???!!!), menegangkan, mengibakan, membuat shock, hingga membuat lapar dan pengen makan orang.

Dalam hampir 2 bulan terakhir ini, saya juga terhitung aktif mengikuti tes. Tak perlu dijelaskan tes apa tentu saja, yang pasti bukan tes kehamilan :D
Karena dalam rencana yang telah saya susun (aiih… gaya kan wkwkwk), saya sudah harus menemukan pelabuhan terakhir pada tahun ini, kalau tidak … yaaa sebenarnya tidak apa-apa, hahahaha.

Tahun ini saya dipercayakan membantu 2 klien, satu di ujung sana, yang satu di ujung sono. Jauh dua-duanya. Tapi kedua-duanya dekat dengan pusat kesenangan orang berduit.
Yang satu, tepat berada di dalam Mal Kelapa Gading. Satu lagi tetanggaan sama Mal Puri Indah. Jadi bisa dikatakan, saya ngemal hampir tiap hari. Menyenangkan kan? Tidak sama sekali!

Perjalanan ke klien dengan bus transjakarta lebih banyak lagi ceritanya.
Hal yang paling menjengkelkan adalah dibentak-bentak sama penjaga pintu bus, layaknya seorang mahasiswa baru di-ospek sama seniornya.
Penyebabnya bisa macam-macam. Kejadian terakhir misalnya: Bus terlambat datang, padahal penumpang sudah berdesakan di halte, penumpang menjadi tidak sabar. Kemudian, bus datang, penumpang langsung berhamburan menjejalkan diri ke dalam bus yang sebelumnya sudah sangat sesak, penjaga pintu bus kesal, penumpang juga kesal. Si penjaga bus marah-marah, penumpang tak perduli. Siapa yang salah? Bukan penumpang, bukan penjaga pintu bus, apalagi tukang angkot yang ngejar setoran, hanya salah … hmmm … salah yang bikin sistem. Lah apa tidak dipikirkan sedari awal, bagaimana cara kerja bus transjakarta ini agar bisa datang secara berkala dengan jeda waktu yang lebih teratur?

Dan yang saya perhatikan di beberapa halte (setidaknya di 2 halte biasa saya naik dan turun), pintu masuk ke halte tidak berfungsi semestinya (Duh, bagaimana saya menjelaskan pintu yang otomatis terbuka ketika kita memasukkan kartu tiket itu ya? Kan kurang tepat juga benda itu dinamakan pintu). Beberapa kali di 2 halte itu, ketika saya memasukkan kartu tiket, terdengar bunyi, “Plung!”, seperti kita memasukkan uang ke dalam celengan. Aduuh … tau gitu saya gak usah beli tiket. Siapapun bisa masuk tanpa tiket dengan kondisi pintu yang seperti itu. Memprihatinkan!

Huh, apa manfaatnya menggerutu. Lebih baik pasang headphone ke handphone (ehm … ehm … ngomong-ngomong saya baru beli headphone baru lhooo … :D), putar lagu di playlist, pasang volume keras-keras, pejamkan mata, lupakan kedongkolan yang ada. Hidup di dunia sendiri. Tapi jangan sampai kebablasan, jangan lupa turun di halte tujuan Anda. Tahun ini, tercatat sudah 1 kali saya kebablasan, naik bus transjakarta sampai halte pemberhentian terakhir … wkwkwk, belum 3 kali seperti tahun sebelumnya kok ;)

Saya perhatikan pula, tahun ini lagi ngtren-ngetrennya orang pake masker. Bukan hanya berwarna putih, atau hijau muda pupus, seperti yang biasa dipakai Bapak dan Ibu Dokter, warna dan motifnya bisa bermacam-macam. Dari yang hanya sekedar bermotif bunga-bunga, polkadot warna warni, bergaris-garis, motif tokoh kartun, sampai bergambar Sponge Bob nyengir selebar-lebarnya. Sehingga kalau dilihat sekilas, pemakainya terlihat seperti menyeringai.

Tren memakai masker ini lebih karena warga Jakarte semakin sadar bahaya polusi udara di Jakarta, daripada sekedar gaya-gayaan :D.
Kapan hari kalo saya jadi Gubernur Jakarta gantiin Bapak Ahlinya (bikin) Banjir, saya akan membuat rencana stratejik, yaitu … Jakarta bebas masker! hehehe