taxiJangan pandang sebelah mata para sopir taksi. Bisa jadi mereka lebih tahu segala daripada Anda, lebih tahu perkembangan berita nasional, lebih peduli pada nasib bangsa, lebih prihatin pada masa depan anak-anak muda,  lebih kritis, seperti yang saya alami pagi ini.

Ketika taksi melewati Jalan Gatot Subroto, pemandangan yang tidak asing pun terlihat. Berpuluh-puluh orang yang berdiri berjejer masing-masing dengan radius kurang dari 10 meter, menjajakan diri sebagai joki 3 in 1. Pemandangan yang lucu, sangat lucu, karena tak jauh dari mereka tampak sebuah mobil Satpol PP, yang biasa saya lihat di berita-berita digunakan untuk mengangkut gerobak pedagang yang mbandel, dan mobil polisi yang merazia mobil pribadi berisi kurang dari 3 orang. Hahaha … lucunya negeriku :)

Banyak di antara para joki yang membawa serta anaknya yang masih dalam gendongan. Dan mulai lah, Pak Taksi berceloteh,”Suram masa depan negara kita ini. Lihat … mau jadi apa anak-anak itu kalo udah gede nanti? Paling juga kan ga jauh beda sama orang tuanya ………………. makin banyak aja orang-orang di Jakarta ini. Makin macet dari hari ke hari …..”.
Sesekali saya menanggapi, sambil memikirkan ide cerita yang akan saya post di blog pagi ini, tentang … Sopir Taksi :)

Pagi ini bukan kali pertama saya mendapati sopir taksi yang celotehnya seperti koran pagi yang selalu meng-update informasi.
Sebenarnya, pengalaman pertama saya dengan sopir taksi terjadi hampir 3 tahun yang lalu. Ketika itu saya masih berstatus mahasiswa, sekaligus asisten (baca: tukang ngetik) yang kemana-mana ngikut dosen saya, termasuk ketika beliau menghadiri workshop di Jakarta.
Sebagai orang yang seluruh hidupnya dihabiskan di daerah luar Jakarta, saya begitu takjub ketika kali pertama melihat gedung-gedung tinggi di Jakarta, pun takjub melihat Istana Presiden yang selama ini hanya bisa saya lihat lewat layar kaca. Bertambahlah ketakjuban saya terhadap Ibu Kota ketika kali kedua naik taksi, saya dan dosen saya dibawa oleh sopir yang kritis luar biasa.

Siang itu, taksi yang kami tumpangi berjalan dari arah sebuah hotel di Pecenongan menuju travel yang akan membawa kami kembali ke Bandung, di Jalan Blora, dekat Bundaran HI. Otomatis, taksi kami akan melewati Istana Kepresidenan dan Monumen Nasional. Kebetulan hari itu berpuluh-puluh orang berkumpul di depan Monas sambil membawa spanduk dan poster-poster bertuliskan kata-kata bernada protes. Demo, entah dari kelompok mana.

Maka, Pak Taksi pun mulai dengan celotehnya. Pertama-tama, dia mengeluhkan kemacetan yang harus ditembusnya setiap hari ketika melewati jalan sekitar Istana Kepresidenan, katanya hampir tiap hari selalu ada demo di daerah situ, “Buat apa sih orang-orang ini pada demo, kayak bakalan didenger aja sama Presiden”, begitu dikeluhkannya. Kemudian pembahasan melebar kemana-mana, dari sekedar membahas demo sampai menjelek-jelekan orang-orang di Istana dan Gedung Kura-Kura (setipe dengan orang-orang Melayu yang diceritakan Hirata di Tetralogi Padang Bulan, mungkin). Dosen saya hanya menanggapi dengan berkata iya … iya … dan iya, sambil tetap fokus pada handphone-nya. Sementara saya hanya bengong, antara heran dan takjub melihat ramainya Jakarta sekaligus sopir yang tahu segala rupa.

Itu baru pengalaman pertama, dan bukan satu-satunya.

Di kesempatan lain, ketika saya mulai sering lembur dan pulang menggunakan taksi, saya banyak mengobrol dengan model Pak Taksi yang seperti ini. Seringkali saya tahu berita-berita terbaru dari Pak Taksi. Dari sekedar berita artis sampai berita-berita seputar pemerintahan, dari mulai membahas berita kriminal sampai kasus-kasus korupsi. Selain menemani selama perjalanan, Pak Taksi ini juga berdaya guna sebagai sarana informasi.

Beberapa sopir taksi juga sering bertanya hal-hal lain yang sifatnya lebih pribadi, misalnya menanyakan asal usul (sekolah atau daerah), pekerjaan, atau keluarga. Tak jarang mereka pun menceritakan tentang diri mereka, bisa tentang apa saja. Dari hasil obral obrol itu saya jadi tahu, banyak di antara mereka yang juga sarjana (atau perusahaan pengelola taksi memang mensyaratkan sopirnya minimal sarjana? Saya kurang tahu). Ada pula sopir yang awalnya karyawan di sebuah kantor, tetapi memilih menjadi sopir taksi karena melihat peluang penghasilan yang lebih besar. Bahkan ada yang menjadikan pekerjaan nyopirnya sebagai sampingan, entah apa sumber penghasilan utamanya.

Suatu waktu, saya tiba di Jakarta pada dini hari, sepulang dari Magelang sehabis reuni akbar di SMA. Saya menyetop taksi dari depan gedung DPR/MPR di Senayan. Sopir taksi yang saya tumpangi lumayan cerewet. Untung suasana hati saya sedang baik, saya layani semua pertanyaannya, dan saya tanggapi setiap ceritanya.

Pak Taksi ini mulai bertanya-tanya,
“Dari mana pagi-pagi begini?” … dari Magelang
“Habis pulang kampung?” … reunian
“Reunian apa?” … SMA
“Oohh … asli Magelang?” … bukan
“Trus dari mana asalnya?” … Bandung
“Dulu kuliah dimana?” … Unpad
“Oh Jatinangor ya? … bukan

Ternyata Pak Taksi ini tahu banyak hal tentang Bandung.
“Saya kan dulu pernah lama di Bandung” … oh ya? Saya mulai pasang telinga
… dan mengalirlah ceritanya.
Selanjutnya, saya hanya terkaget-kaget mendengar cerita Pak Taksi ini.

Bahwa, dulu di Bandung dia bertugas sebagai seorang anggota TNI.
Dengan posisinya yang cukup bagus saat itu, dia sudah bisa membeli sebuah rumah di Jatinangor, juga memiliki kendaraan dan beberapa hewan ternak. Ketika itu dia sudah merencanakan menikah dengan pacarnya. Tapi, pernikahan itu gagal, dia diputuskan pacarnya yang malah menikah dengan orang lain, dan mulai lah masa-masa suram dalam kehidupannya.

Banyak malam dihabiskannya di cafe atau diskotik. Mabuk-mabukan dan pulang menjelang pagi. Karirnya hancur, karena kelakuannya yang semakin tidak terkontrol. Dengan niat melupakan pacarnya, dia menjual semua hartanya di Bandung dan terbang ke Bali, terlunta-lunta, masuk ke luar diskotik, selama 2 bulan disana.

Dua bulan, waktu yang dibutuhkannya untuk menghabiskan semua hartanya dengan hal-hal yang sangat tidak berguna, sekaligus merusak mental dan badannya. Alhamdulillah, Tuhan masih memberinya kesempatan untuk berubah (btw, saya tidak tahu Pak Taksi ini beragama apa, tapi saya ikut lega, Pak Taksi ini memutuskan kembali ke jalan yang lurus). Kemudian, dia kembali ke …. (saya lupa) untuk membenahi hidupnya. Semuanya dia mulai dari sangat awal. Tanpa modal, mungkin juga tanpa kepercayaan dari orang-orang sekitarnya. Tidak terdengar penyesalan dari suaranya, dia menceritakan masa lalunya dengan ringan saja, yang terdengar hanya nada optimis menghadapi masa depan.

Sebenarnya saya masih ingin mendengar banyak ceritanya, yang diselingi petuah-petuahnya sebagai orang yang lebih tua kepada saya. Tapi taksi sudah sampai di tujuan. Dan kami pun berpisah, tak lupa saya melebihkan pembayaran dari yang sekedar tertera di argo, sebagai rasa terima kasih karena Pak Taksi yang baik hati ini telah mengantarkan saya ke tempat tujuan dengan selamat, terlebih sebagai rasa terima kasih saya karena cerita hidupnya yang menginspirasi. Ah, yang terakhir itu tidak bisa dinilai dengan uang.