Adalah seekor kucing betina di kostan saya yang kami namai PBC (baca: pibisi), panggilan sayangnya PB (baca: pibi). Orang-orang yang tidak tahu asal-usul nama itu pasti mengira ‘pibi’ itu ditulis ‘phoebe’. Tentu saja tidak. Itu nama yang terlalu bagus untuk seekor kucing kampung kurus, kadang-kadang kotor, tapi cantik.

Awalnya PB tak lebih dari seekor kucing dari golongan garong, yang mengendap-endap masuk dapur melalui celah tembok (yang memisahkan dapur kost dengan atap genteng garasi) di lantai 2 rumah kost. Malam, ketika para penghuni kost terlelap, seringkali saya mendengar suara plastik keresek yang terkoyak, atau tempat sampah yang terguling. Dan pagi harinya, dapat saya temukan sisa-sisa makanan yang tercecer dan sampah-sampah yang berhamburan dari tempatnya.

Kalian yang kenal dengan kucing pasti tahu, kucing yang selama hidupnya tidak pernah berinteraksi dengan manusia, akan menjadi sangat sulit untuk disentuh. PB adalah kucing semacam itu. Sama sekali tidak bisa didekati. Ketika suatu malam saya memergokinya sedang mengais-ngais sampah, badannya langsung tegang, matanya menatap saya tajam, dia dalam posisi siaga untuk melarikan diri. Ketika saya semakin mendekatinya, dengan gerakan sangat cepat dia berlari dan keluar melalui celah tembok dari mana dia masuk.

Dan selalu begitu. Selama berminggu-minggu saya tinggal di kost itu, PB adalah kucing yang sangat sulit didekati. Bersama dua ekor kucing jantan, mereka menjadi komplotan garong yang menumpah-ruahkan sampah kostan setiap malam. Perhatikan dan ini penting! Kucing jantan itu masing-masing memiliki ciri fisik sebagai berikut:

Kucing Jantan 1 (KJ 1): Berbulu kuning, kayak Garfield, mata tajam dan dingin, tapi kalo diperhatikan lebih dalam, mata itu menunjukkan ketakutan dari si KJ 1. Takut ditangkap, takut disiram air, takut didekati dan disentuh-sentuh, takut dilempar batu, takut dipukul sapu, takut diciduk dan digiring ke kantor polisi. Takut pada manusia! Ketika saya mencoba mendekatinya, mata itu menjadi sangat awas, dan tampak mencari-cari celah untuk kabur jika saya tetap nekat mendekatinya.
Sebagaimana halnya kucing jantan jenis garong manapun, badannya agak kotor tidak terurus, dan merupakan jenis kucing jalanan yang jarang menjilati bulu-bulunya setiap pagi.

Kucing Jantan 2 (KJ 2): Berbulu hitam putih, tetap dengan motif kayak Garfield. Hanya muncul pada awal-awal saya tinggal di kost itu. Lupa, bagaimana rupanya. Ciri-ciri umum sama dengan ciri-ciri kucing garong jantan. Berbadan kotor dan bermata tajam.

Pada suatu musim kucing kawin, saya memerhatikan, ada skandal jepit, cinta segitiga, antara ketiga kucing garong yang sedang kasmaran pengen kawin itu. Dua kucing jantan, memperebutkan PB. Wkwkwkwk.

— bersambung —