Tidak ada yang menarik, sama sekali. Rencanaku berantakan. Dan aku-lah satu-satunya faktor semua ke’berantak’an itu.

Kamis pagi H-1 Idul Fitri, aku terbangun setelah matahari lebih dulu masuk ke celah-celah gorden kamarku. Mataku memicing menerima silaunya matahari pagi. Menggeliat, menguap, bangun, terduduk, dan … ambruk! Dengan mata setengah terpejam, tanganku meraba-raba sekelilingku, mencari ujung selimut. Kutarik selimut menutupi sekujur tubuhku, dari ujung kaki sampai ujung rambut, berusaha menciptakan sensasi gelap seperti malam hari. “Aaahh … nikmatnya hari ke 3 datang bulan, tidak usah bangun sahur, tidak juga sholat subuh.”
Tapi bukan berarti tidak harus bangun pagi kan???

Kembali ku terbangun. Menggeliat, menguap, bangun, terduduk, dan … hampir ambruk! Kalau saja aku tidak melihat jarum jam menunjuk pada angka 11, aku mungkin sudah benar-benar ambruk, (kali ini) melanjutkan sesi tidur siangku. Kuturunkan satu persatu kakiku dari tempat tidur, terasa dingin ketika menyentuh lantai kamar. Ah, bagaimana bisa jam 11 lantai kamar masih dingin? Padahal matahari sempurna masuk dari jendela kamarku, yang tidak lagi tertutup gorden seperti tadi pagi.

Terdiam beberapa saat. Kusingkirkan selimut yang menutupi sebagian tubuhku. Kembali terdiam. Kemudian, dengan kedua tanganku sebagai penopang, aku mencoba mengangkat tubuhku sendiri. Beraaat … Sampai seluruh berat tubuhku hanya tertumpu pada kedua kaki. Seketika aku merasa pening, aku berjalan terhuyung-huyung, aku memijit-mijit dahi dengan mata yang masih¬†setengah terpejam, tanganku berusaha meraih apapun benda tinggi di sekitarku, sampai akhirnya salah satu telapak tanganku mendarat di pintu lemari bajuku. Berhenti sejenak. Aku berusaha mengumpulkan kesadaranku. Memanggil kembali serpihan-serpihan nyawa yang masih bertamasya di alam mimpi.
Kesibukan sudah terdengar. Aku mendengar suara lagu Indonesia mendayu-dayu dari televisi di ruang duduk sebelah kamarku. Dari lantai bawah, aku mendengar suara orang memasak, suara mobil menderu-deru dari PS2 adikku, suara bak mandi yang sedang diisi. Seperti biasa, tidak ada yang mengomentari aku terbangun sesiang ini, tidak ada, karena biasa.
“Puput nyaaa bobo wae”, paling hanya itu komentar Mamah, melihat anak gadis satu-satunya yang pemalas ini baru bangun hampir tengah hari. Huhuhu.

Turun ke lantai bawah, aku langsung menghampiri meja makan. Hanya ada makanan sisa makan sahur. Kucomot sedikit. Seketika, adikku yang paling kecil berteriak, “Si Teteeeeh, ga puasaaaaa”.
“Teteh mah kan lagi sakit,” Mamah keluar dari dapur membawa makanan setengah matang untuk hidangan Idul Fitri besok harinya, membelaku.
Aku tak peduli dengan ocehan adikku (baru kelas 4 SD, dan baru tahun ini puasa penuh tanpa batal) yang tidak terima melihat kakaknya tidak puasa. Dengan sengaja, aku mengunyah kue-kue kering di dekat dia yang mulai kesal. Kutirukan ekspresi Pak Bondan ketika mengucapkan, “Mak nyusss” di acara Wisata Kuliner.
“Mamaaaahhh … si Teteeeeeeeeehhh!!!”, adikku benar-benar kesal.

Aku hanya tertawa-tawa. Dan berlalu ke dapur. Mengambil piring, menyendokkan nasi, serta lauk dan sayur dari panci yang masih bertengger di atas kompor di dapur. Aku kembali ke lantai 2, makan sambil sesekali memindah-mindahkan channel televisi.

Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi …

Mungkin aku tertidur …