Janji adalah janji, dan harus ditepati …
Tidak main-main ketika saya mengatakan, “Kalau lamaran pekerjaan ke Perusahaan ini sampai lolos ke tahap berikutnya, aku mau beli HP baru … “. Saat itu saya dalam kondisi sangat pesimis lamaran itu akan lolos.
Dua minggu yang lalu, saya memasukkan lamaran secara online pada hari terakhir lamaran itu harus dikirimkan, menjelang tengah malam menuju pergantian hari. Saya melamar pun dengan pikiran “Ga ada salahnya aku coba”. Niat tidak 100%, dari awal saya kurang menyiapkan apa yang harus diisikan pada lamaran online tersebut, dan lebih parahnya saya hampir berpikir untuk berhenti melanjutkan mengisi form lamaran itu hanya alasan ngantuk dan cape, sementara kolom-kolom yang harus diisi masih banyak. Maka, ketika pada akhirnya saya menyelesaikan semuanya sebelum jam 12 malam, saya – dengan sedikit nada bercanda tapi serius – ber”ikrar” untuk membeli HP baru menggantikan HP-ku yang memang sudah ingin saya ganti ini, seandainya saya lolos ke tahap berikutnya. “Ikrar” itu saya ucapkan bukan karena saya begitu amat sangat menginginkan pekerjaan di Perusahaan itu, tapi lebih karena saya sangat pesimis sehingga menjanjikan sesuatu pada diri sendiri, yang saya sendiri masih ragu untuk melakukannya.

Ketika beberapa hari lalu Rumet, yang juga ikut melamar ke Perusahaan ini, memberitahu bahwa dia menerima email dari Perusahaan tersebut berupa undangan untuk mengikuti tes berikutnya, saya hanya menjawab, “Males cek email ah, aku yakin NGGA lolos kok.”
Tapi, dorongan si Rumet membuat saya mencek email saat itu juga, sedikit terkejut juga, mengetahui saya mendapatkan undangan yang sama. Saya berpikir, kalau sudah sampai kayak gini, saya jangan lagi main-main. Alloh udah kasih saya kesempatan untuk mengikuti tes di tahap berikutnya, maka yang harus saya lakukan adalah, memanfaatkan kesempatan itu dengan menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi tes tahap berikutnya. Sisanya, biarkanlah Alloh yang menilai, apakah usaha saya sudah layak untuk diganjar dengan suatu posisi di Perusahaan itu.

Lalu bagaimana dengan janji membeli HP baru? Fiuuuhh …

– makasih buat telur mata sapi, nata de coco, dan ultramilk putih :D yang menemani saya di warnet malam itu

– judul di atas tidak ada hubungan dengan isi tulisannya, daripada “Tak Berjudul” – bingung kasih judul @_@