Saya terduduk menyandarkan punggung di sofa ruang tunggu lobi. Lama dalam diam.
Kembali saya mengingat kejadian yang saya alami dari tadi pagi. Bangun kesiangan, sholat subuh telat, sepatu kegedean, rok lembab, jalanan macet, lapar. Saya hubungkan semua kejadian itu dengan hasil wawancara tadi. Apakah ada yang ingin Alloh sampaikan melalui kejadian-kejadian itu? Mungkin tidak seharusnya saya menerima pekerjaan ini, sehingga Alloh menyulitkan saya hingga berada di ruang wawancara tadi? Tidak. Saya rasa bukan itu yang ingin Alloh sampaikan saat itu. Alloh ingin memberi saya pelajaran bagaimana seharusnya saya mengatur diri saya agar kejadian tadi pagi tidak terulang.

Saya termenung lama. Ada kecenderungan dalam hati untuk menolak pekerjaan ini.
MIMPI – DOA – USAHA. Sering saya mengalami keajaiban, meraih yang saya inginkan dengan melakukan yang terbaik untuk ketiga hal tersebut. Saya mengevaluasi lagi tiga hal itu dikaitkan dengan pekerjaan yang sedang saya lamar ini. Apa yang sudah saya lakukan dari mulai mendapat panggilan wawancara sampai dengan wawancara hari ini?

Saya punya MIMPI menjadi pengusaha sebenarnya, tetapi sementara ini saya akan mendedikasikan diri saya pada suatu perusahaan yang akan memberikan saya kelonggaran waktu, sehingga di luar jam kerja saya bisa melakukan pekerjaan lain yang menjadi obsesi saya. Saya berharap, perusahaan ini akan menawarkan apa yang saya impikan.

Selama beberapa hari ini saya berDOA agar dimudahkan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan si pewawancara, dilancarkan lisan agar tidak kaku selama wawancara, saya ingin mendapat sambutan positif dari si pewawancara, saya berdoa semoga perusahaan ini mau menerima saya, terlepas nantinya saya akan jadi bekerja disana atau tidak. Doa ini terkabul. Benar-benar terkabul.

Dalam menghadapi wawancara ini pun, saya berUSAHA sama kerasnya mempersiapkan diri seperti ketika saya membuat essay untuk mengikuti program Indonesia Mengajar, atau seperti ketika saya ingin diterima menjadi staff di perusahaan tempat saya sekarang. Setiap malam saya membaca untuk mencari informasi mengenai perusahaan yang saya lamar, mempelajari pekerjaan yang ditawarkan, karena financial analyst adalah suatu bidang yang baru bagi saya, membaca laporan keuangan perusahaan tersebut, membuka-buka kembali materi kuliah dulu, yang berkaitan dengan laporan keuangan dan analisisnya. Untuk mengikuti tes ini, saya mengoptimalkan usaha saya. Prinsip saya, sekali saya mengatakan “Iya” untuk satu penawaran, saya akan berusaha untuk mendapatkan hasil terbaik.

Ketika saya mendapatkan panggilan dari perusahaan tersebut, saya tetap memegang MIMPI saya untuk mendapatkan pekerjaan dengan waktu yang lebih longgar, saya tetap dengan USAHA saya mempersiapkan diri sebaik-baiknya, dan saya tetap pada DOA saya agar Alloh melancarkan wawancara saya dan saya mendapatkan tanggapan positif dari si pewawancara. Hanya satu hal lagi yang perlu saya ketahui, apakah perusahaan akan menawarkan apa yang saya impikan? Pertanyaan itu sudah terjawab setelah wawancara tadi pagi. Usaha terbaik sudah saya lakukan, doa pun langsung terjawab hari ini, tapi kondisi pekerjaan tidak seperti yang saya impikan. 1 dari 3 saya nyatakan FAIL. Meja pun tidak bisa tegak hanya dengan 2 batang kaki.

Lihat kan? Hubungan MIMPI – DOA – USAHA dengan kejadian hari ini? Ketiganya bersinergi. Tidak bisa kita hanya mengoptimalkan salah satunya untuk dapat meraih apa yang kita impikan.