Saya melangkah keluar dari taksi. Jam setengah 10. Satu ketidaknyamanan mulai terasa. Sepatu pinjaman ini terlalu longgar, padahal saya sudah memakai 3 lapis kaos kaki. Saya sengaja membawa beberapa kaos kaki karena si empunya sepatu sudah mewanti-wanti, nomor sepatunya 40, bukan 39 seperti yang biasa saya pakai.

Tetapi seharusnya masalah kelonggaran ini tidak sampai membuat saya kesulitan berjalan seperti sekarang ini. Setiap melangkahkan kaki, terutama kaki kiri, saya harus diam sejenak untuk membetulkan posisi tumit agar masuk ke dalam sepatu. Akhirnya saya berjalan dengan sedikit menyeret kaki kiri. Saya sadar, saya terlihat tidak luwes dengan cara berjalan seperti itu. Tampak pincang dan tidak percaya diri. Huh. Ketika masuk lobi, saya merasa orang-orang yang duduk di ruang tunggu menatap saya heran. Dua orang perempuan di ruangan itu tampak mencuri pandang ke arah kaki saya. Ya, hanya perempuan-perempuan itu yang sadar, masalah datang dari kaki saya.

Seorang perempuan menyambut saya di meja security lobi, rupanya dia memerhatikan Pak Security menceklis nama saya dalam daftar pelamar yang akan diwawancara hari ini.
“Asri ya?”
Oh … pasti ini Mbak HRD yang menelepon saya dari dua hari yang lalu. Berkerudung rapi dan ramah.
Akhirnya saya tahu kenapa saya harus datang jam 8 pagi, bukan karena wawancara akan dimulai pada jam itu, melainkan karena ada 3 lembar formulir lamaran yang harus saya isi.
“Sepuluh menit lagi saya ambil formulirnya ya”, Mbak HRD menyerahkan formulir itu sambil berlalu menghampiri beberapa orang lainnya yang sedang menunggu.

Dalam keadaan terdesak seperti itu, saya berusaha mencari pulpen dalam tas dengan tangan sedikit gemetar. Tidak ada. Ah pinjam sajalah pada orang sebelah. Beruntung dia masih baik mau meminjamkan. Saya tergesa-gesa mengisi formulir itu. Mungkin sudah sepuluh menit, ketika Mbak HRD menghampiri saya lagi,
“Udah selesai formulirnya?”
“Masih banyak, maaf sebentar lagi ya Mbak”, saya menjawab dengan tangan dan mata tetap fokus pada formulir.
Cepat sekali sepuluh menit itu“, saya bergumam dalam hati.

“Sudah?”, beberapa menit kemudian Mbak HRD kembali menghampiri saya.
“Tinggal dua isian, tapi ya sudah lah, gapapa,” sahut saya sambil menyerahkan formulir itu dan mengikuti Mbak HRD  ke ruang wawancara, tetap dengan cara jalan yang aneh. Saya rasa orang-orang di ruang tunggu itu memerhatikan saya, biarlah … fokus ke depan, sekali menengok ke belakang, akan hancurlah percaya diri saya.

Dua orang Ibu, usianya saya taksir masih di kepala 3 menyambut saya ramah. Saya menjabat tangan mereka mantap. Saya harus tunjukkan antusiasme saya. Basa basi sedikit, suasana mencair, dan saya merasa nyaman di tempat duduk saya saat itu. Wawancara dimulai. Pertanyaan pertama yang sudah sangat saya duga akan ditanyakan, menjadi topik utama dari wawancara saya pagi ini.

“Mengapa kamu ingin pindah dari tempat kerja kamu sekarang?”
Panjang lebar, namun intinya saya menjelaskan, bahwa tidak ada masalah dengan perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Semuanya cukup saya dapatkan disini. Pengembangan diri, perluasan ilmu, peningkatan kehidupan sosial dan ekonomi, semuanya saya dapat. Hanya satu masalahnya, saya tidak mempunyai waktu longgar untuk meraih mimpi-mimpi saya yang lain. Memang hanya itu masalahnya.
Jawaban saya langsung mendapatkan bantahan dari pewawancara. Dari penjelasannya saya tahu, pekerjaan disini pun tidak akan sepenuhnya membebaskan saya melakukan hal-hal lain seperti kuliah atau mengambil beberapa les. Berkali-kali dia meyakinkan saya, untuk tidak salah langkah. Mereka sudah memberitahu konsekuensinya jika saya bekerja disana, jadi ketika nanti saya memutuskan untuk jadi mengambil pekerjaan itu, tidak alasan bagi saya untuk mengeluh atau memutuskan keluar dengan alasan yang sama dengan alasan yang membuat saya ingin pindah dari perusahaan saya sekarang.
“Pikirkan baik-baik, karena ketika kamu tidak dapat mencapai apa yang kamu harapkan disini, yang rugi bukan cuma perusahaan ini, tetapi kamu juga.”
Saya berterima kasih kepada 2 Ibu pewawancara, yang telah memberi saya peringatan, “menakut-nakuti”, dan memberi saya waktu untuk mempertimbangkan.

Keluar dari ruang wawancara, saya hanya menghela nafas panjang. Pekerjaan yang ditawarkan sangat menarik bagi saya. Bisa menjadi ilmu dan pengalaman baru yang berharga bagi saya. Tetapi, harapan memiliki jam kerja normal tidak akan saya dapatkan disini. Saya belum memutuskan untuk menolak atau melanjutkan proses seleksi ini. Tapi, dalam hati timbul keraguan yang sangat, saya harus menanyakan jawabannya kepada Alloh.