Tergesa saya berjalan menuju jalan raya depan kompleks perumahan jam 8.15 pagi ini. Syukurlah, tak berapa lama kendaraan roda tiga yang saya tunggu muncul.

Saya naik bemo dengan susah payah. Bawaan saya lebih banyak dari biasanya, satu ransel berisi laptop dan satu tas jinjing dengan lembaran kertas berisi materi akuntansi dan keuangan yang saya baca semalam, sekedar jaga-jaga seandainya nanti ditanya seputar materi-materi itu, dan satu dus cukup besar berisi … TEBAK?! S-E-P-A-T-U.
Interview dan sepatu??? Apa hubungannya??? Sangat berhubungan!
Tadi di kost sebelum berangkat dengan pedenya saya memakai sepatu teplek yang biasa saya pakai ke kantor, tapi kok … hmmm … kok … aneh ya kalo saya pakai sepatu ini untuk interview. Terlalu santai. Terlalu anak kuliahan. Saya seharusnya pakai sepatu dengan sedikit hak. Sayangnya saya tidak punya. Kenapa tidak saya siapkan dari kemarin? Karena rencananya hari ini saya mau pakai rok panjang, terlalu panjang malah, sehingga sepatu teplek itu tidak akan terlihat mencolok. Tapi, rencana ‘sedikit’ berubah karena rok terlalu panjang yang saya harapkan bisa kering pagi ini masih sedikit lembab dan masih saja lembab walaupun saya sudah ‘menggorengnya’. Dengan rok semata kaki yang akhirnya saya pakai, kurang cocok kelihatannya jika dipadankan dengan sepatu teplek. Ugh!!! Dua jempol ke bawah deh.
Lalu kenapa saya tidak memakai sepatu itu dari kost? Terlalu besar! Lagipula oleh pemiliknya sendiri – teman kost saya – sepatu ini belum pernah dipakai. Jadi rencananya saya hanya akan memakainya setelah sampai tempat tujuan.

Sampai di Pasar Benhil saya menatap jauh ke seberang jalan, ke halte busway Benhil.
Terlihat sangat jauh … bayangan super negatif mulai mengganggu saya, “Dengan bawaan sebanyak ini, tidak dapat tempat duduk di bus TransJakarta, berdesak-desakan di halte transit Harmoni, naik angkot lagi menuju tempat tujuan, belum sarapan pagi, sudah hampir jam 9 pulak … ah lebih baik saya naik taxi.” Dan jadilah saya naik taxi pagi ini. Habislah delapan puluh ribu saya, setara dengan Bandung-Jakarta pulang pergi.

Tidaaak … perut saya mulai tidak enak. Kepala saya sedikit pening. Kalau yang ini tidak ada hubungannya dengan wawancara yang akan saya hadapi. Saya lapar. Tadi malam saya hanya makan setengah porsi nasi goreng, padahal seharian kemarin saya berpuasa. Setelah itu? Saya tidak makan apa-apa lagi. Sebelum berangkat pun saya tidak sempat meneguk sekedar segelas air. Ya Alloh kuatkanlah. Saya mencoba mengalihkan rasa lapar ini dengan membaca-baca kembali kertas-kertas materi yang saya bawa. Tidak membantu. Saya bertambah pening.

Dan ada-ada saja hambatan pagi ini, taksi yang saya tumpangi terjebak sedikit kemacetan di jalan masuk tol Semanggi. Kalau ujung-ujungnya naik taksi, seharusnya saya sudah naik taksi dari depan kompleks rumah kost tadi, akan menghemat lebih banyak waktu. Sedikit mengeluh, sambil sesekali melirik jam. Saya masih cukup bersabar, masih ada waktu lebih dari satu jam sebelum jam 10. Sepanjang perjalanan, saya menatap keluar dengan tatapan kosong, sampai tidak sadar taksi hampir masuk pintu tol, si sopir meminta uang tol, saya tersentak kaget, lalu menyerahkan selembar dua puluh ribuan. Dan melanjutkan lamunan saya, kosong.
Saya tersadar kembali ketika perut saya lagi-lagi bereaksi. Duuh … saya benar-benar lapar. Saat itu posisi taksi sudah hampir keluar dari pintu tol Cempaka Mas. Masih ada 45 menit menuju jam 10.

Taksi … cepatlah …
Jalanan … lancarlah …

Puput … sabarlah … :)