Di seberang Plaza Semanggi, tiba-tiba ojek Pak Budi yang kutumpangi berhenti, pikirku, “Ooh … biasa bukan? Memang selalu ada sedikit kemacetan di titik yang mempertemukan 3 jalan dari arah yang berbeda itu.”
Tapi, motor tidak bergerak selama banyak saat, sampai akhirnya aku menyadari ada beberapa orang polisi yang menahan laju kendaraan-kendaraan dari arah Gatot Subroto, “Sigh … “, aku sedikit mengeluh. Tidak … aku tidak sedang terburu-buru, walaupun jarum pendek jam sudah hampir menunjuk pada angka 9, aku tidak panik, tidak ada hal penting di kantor yang harus segera kuselesaikan. “Sigh … “, aku mengeluh karena merasakan matahari mulai menyengat kulitku, panas.

Satu menit, dua menit, … hey … kapan rombongan – yang kemungkinan pejabat itu – lewat? Beberapa kendaraan di belakangku sudah mulai membunyikan klaksonnya, tidak sabar. Sementara aku berusaha melindungi punggung telapak tanganku dengan ujung lengan baju yang jelas-jelas tidak mungkin memanjang, dipaksa dengan cara apapun.

Tiga menit, empat menit, pengendara motor di sebelahku masih sempat mengeluarkan ponsel qwerty-nya, “Update status,” pikirku. Ternyata tidak, dia tampak mengaktifkan kamera hapenya dan membidik ke arah kemacetan, “Setelah ini, dia akan share foto itu ke teman-temannya, sebagai alasan dia datang telat ke kantor.” Duh … duh … segitu ber-negative thinking-nya aku sama tuh orang :p

Itu mereka!! Dua motor polisi mengawal di depan, diikuti sebuah mobil polisi, mobil plat merah, mobil plat hitam, mobil plat kuning (hehehe … angkot kaliii), dan mobil dengan plat RI-3. “Oooohhh … ini toh yang punya jalan.” Emang siapa RI-3??? Pertanyaan itu yang malah kemudian muncul, presiden, wakilnya, dan … RI-3, apakah wakilnya wakil presiden??? Halllooo … yang merasa hari ini, Jumat, 9 Juli 2010, sekitar pukul 08.45, naik mobil dengan plat RI-3 lewat depan Plaza Semanggi, kabar-kabarin yaaa … :p haha siapa gueee????

Pernah ga berpikir, “Nih orang penting banget ya, sampai harus mengganggu hak pengguna jalan lainnya?” ketika mengalami kejadian serupa di atas? Aku sering, bahkan SELALU, setiap kali mengalami hal seperti ini. Iri? Hahaha … ngga. Hanya pikiran sesaat dari seorang aku yang merasa membayar pajak dengan proporsi yang sama dengan mereka. 

Sepanjang hidupku selama 24 tahun ini, aku pun pernah merasakan dikawal dengan sebuah mobil dan dua buah motor polisi yang oke punya itu. Alkisah, 7 tahun lalu, 207 siswa berpakaian biru-biru ingin melihat puncak emas Monas di Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, 3 buah bus pun disiapkan oleh Pak Menteri Perhubungan (yang kebetulan saat itu dijabat oleh orang tua asuh siswa-siswa Pirikan itu), serta dikawal oleh beberapa kendaraan polisi yang membuat perjalanan kami bebas macet. Rasanya? Bangga. Bangga rasanya melihat para pengendara mobil mewah di perempatan jalan ‘rela’ berhenti memberi kami jalan. Padahal, mungkin saat itu mereka pun berpikiran sama seperti yang kupikirkan tadi pagi, “Nih orang-orang penting banget yak, ampe ngeganggu perjalanan gw.” Hahaha … 7 tahun kemudian aku menyadari, bahwa orang-orang di belakang kawalan polisi itu tidak selalu dalam rangka mengurusi kepentingan negara. Urusan main ke dufan atau belanja di ITC pun bisa mendapat kawalan dari kendaraan-kendaraan bersirene itu. Hehehehe.

**
Buat Bapak atau Ibu di RI-3 tadi pagi, maafin aye ye … bukan maksud hati menganggap tugas Bapak/Ibu tidak penting dengan mengeluh karena diberhentiin di perempatan jalan (ga keren amat … haha), saya rela, beneran deh, kalo cuma dihambat 5 menit di perjalanan demi urusan Bapak/Ibu yang lebih penting. Ngurusin negara, betul? Ngurusin rakyat-rakyat yang kelaparan, betul? Rela deh Pak … Bu …