Berarti, sudah berapa kali aku cerita tentang TAXI di blog ini???

Kali ini aku cuma pengen cerita kejadian ga penting antara 3 orang The Pam’ers (cie dah istilahnya :p) dan seorang sopir TAXI tadi malam.

Untuk pertama kalinya kami mendapatkan penolakan dari sopir taxi, dengan alasan, yang setelah saya pikir-pikir, mungkin adalah sebagai berikut:

1. Dari awal taxi itu kami berhentikan, sudah ada kejadian yang sedikit banyak (sepertinya) mempengaruhi mood sopir taxi yang akan kami naiki. Kami memberhentikan taxi di daerah Pengki (Pengkolan Kiri – istilah ngetrend :p buat daerah trotoar jalan di antara BEJ dan halte busway POLDA, kebayang ga??? Yang kalo malam banyak penjual makanan dan tukang ojek mangkal itu lhoo). Dari trotoar itu lah kami memberhentikan seekor taxi (baru tau kan kalo taxi ada ekornya?) yang sedang melaju kencang di tengah jalan. Melihat lambaian tangan 3 orang gadis cantik di pinggir jalan, serta merta taxi itu berhenti (agak mendadak) ke sisi kiri jalan, sementara dari arah belakang ada sebuah motor, melaju kencang juga, yang sepertinya akan mendahului si taxi dari sebelah kiri. Waduh, kami kaget, ngeriii motor itu bakal nabrak si taxi. Si sopir pun pasti kaget mendapati kejadian seperti itu. Kayaknya gara-gara ini, mood si sopir taxi ada di tahap KESAL I.

2. Berhubung si taxi berhenti tidak terlalu di pinggir jalan, maka dapat dipastikan berhentinya taxi itu akan mengganggu jalannya kendaraan-kendaraan lain di belakangnya. Maka kami bertiga tergesa-gesa naik ke dalam taxi, tapi … “Ga bisa nih … Pak tolong bukain kuncinya,” kata Erdin yang berusaha membuka pintu belakang taxi sambil sesekali mengetok kaca jendelanya. Aku berusaha membantu, ternyata … hei pintu itu tidak terkunci sama sekali. Maka kami masuk dengan rusuh … rusuh … berisik … kayak orang baru pertama kali naik taxi. Huahaha …
Kejadian itu meningkatkan suasana hati si sopir taxi dari KESAL I menjadi KESAL II.

3. Stop rusuhnya! Seorang dari kami memberitahukan tujuan kami, “Benhil Pak”. Tapiiiii, si sopir menjawab dengan nada kesal, “Ga bisa nganterin kesana, lagi macet jalannya”. Aku, yang duduk di depan, berusaha menjawab, “Kan kita lewat Gatsu Pak”. Si sopir gak mau ngalah, “Ya sama aja, lagi macet dimana-mana”. Oke, tanpa perlu berdebat lebih panjang, kami mengerti bahwa sebenarnya, si sopir itu memang tidak ingin mengantarkan kami. “Oh ya sudah”, kami pun turun lagi dari taxi.

Lho??? Emang kenapa kalo jalanan macet? Jadi alasan buat menolak penumpang kah? Kami kan bayar! Bukan numpang! Duh … duh … gitu deh suara hati kami yang kesal ditolak sopir taxi. Tapi setelah dipikir-pikir, kami menemukan kesimpulan, kenapa si sopir taxi itu menolak kami. Mungkin yang ada di pikiran si sopir taxi itu adalah seperti ini, “Gara-gara diberhentiin ngedadak, hampir aja mobil gw ditabrak motor dari belakang, eh ada anak satu ngeselin banget, ngetok-netok kaca jendela pintu belakang minta dibukain kuncinya, jelas-jelas kagak dikunci. Lah tujuannya kemana? Cuman ke Benhil!!! Paling gw cuma dapet 15 rebu kesana.” Hohohoho ….
Benarkah si sopir taxi berpikir seperti itu …  Bodo amat!