Taman yang paling indah, hanya taman kami …

Taman yang paling indah, taman kanak-kanak …

Tau lagu ituuuu???? Ga tau juga ga apa-apa. Aku aja baru tau lagu itu sekitar 7 tahun yang lalu, ketika seorang teman kamarku di SMA seriiing nyanyiin lagu itu di kamar. Duh, serasa masih di taman nak-kanak kali ya tuh anak, padahal saat itu kami berada di Lembaga Perguruan TAMAN TARUNA NUSANTARA a.k.a LPTTN. Hohoho.

Setelah menghabiskan kurang lebih tiga tahunku di Pantai Carita, sampailah saatnya Bapa pindah tugas ke kota lain. SUMEDANG. Baru pertama kali itu aku mendengar namanya. Sebuah kota kecil di Jawa Barat, masih sejuk, di timur Bandung.

Masih belum ada bayangan tentang SUMEDANG??
Tau Cadas Pangeran? Jalan berkelok dibatasi tebing di satu sisi dan jurang di sisi yang lain.
Tau Jatinangor? Tempat Kampus Universitas Padjadjaran berada.
Tau tahu Sumedang? Tahu yang kulitnya kecoklatan, hampir tanpa isi.

Iya … itu lah SUMEDANG dengan beberapa identitas khasnya.

Di Kabupaten Sumedang-lah keluargaku tinggal selama 6 tahun. Sebentar memang, tapi cukup banyak, bahkan banyak bangeeeeeeeeeeet, menorehkan kenangan di hatiku, yang coba aku ceritakan lagi di Serial PUZZLE-ku ini :)

Rumah dinas pertama yang kami tempatin di Sumedang terletak diii … perhatikan nih baik-baik, nama-nama tempat yang mau aku sebutin ini Nyunda banget deh pokoknya:
Dusun Manyintreuk
Desa Panyindangan
Kecamatan Buahdua

Rumahku cukup luas dengan 3 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga cukup luas yang bergabung dengan 1 ruang makan, 1 dapur, 1 kamar mandi, 1 WC, di depan kamar mandi dan WC itu ada satu bak dengan pancuran dan satu sumur. Selain itu ada satu ruangan cukup luas dekat ruang tamu yang dijadikan ruangan kantor. Hmmm … dibandingkan dengan rumah dinas Bapa di Carita, rumah dinas pertama di Sumedang ini lebih luas, lagipula waktu Bapa pindah ke Sumedang, jabatannya sekaligus juga naik dari KRPH menjadi Asper (Paaa … bisa jelasin jabatan macam apa ituuuu????).

Rumahku dibangun di atas tanah yang lebih tinggi dari rumah-rumah sekitarnya. Jadi ada lumayan banyak anak tangga dari jalan depan rumah ke teras depan rumahku. Ada jalan (diantara anak-anak tangga itu) yang khusus dibuat untuk bisa dilalui motor. Di kemudian hari, jalan motor itu kami pakai untuk main perosotan. Tinggal menaburkan pasir sebagai pelicin dan kardus bekas sebagai alas duduk, jadilah permainan perosotan yang amaaaaaat menyenangkan dan membuat ketagihan. Hehehe.

Di sebelah kanan rumah, kami bertetangga dengan rumah Bapak Kepala Desa. Aku memanggilnya Uwak (panggilan untuk orang yang lebih tua daripada orang tua kita). Uwak punya dua orang anak yang udah gede. Mereka udah SMA ketika aku pindah kesana, bernama Aa Ateng dan Teh Ai. Di sebelah kanan rumah Uwak (berarti selang satu rumah dari rumahku) ada rumah Teh Lia (saat itu sudah kelas 4 atau 5 SD?) yang di kemudian hari jadi teman mainku. Berarti kami berbeda umur sekitar 6 tahun. Serasa punya pengasuh. Hehehe.

Di bagian belakang dan di sebelah kiri, rumah kami berbatasan dengan genteng Pak Haji … hehehe … aku kan udah bilang letak rumahku lebih tinggi dibandingkan rumah-rumah di sekitarnya?

Oh iya aku ingat, waktu pindah itu, jumlah anggota keluargaku tidak lagi 4, tapi 5!!! Waah, aku lupa kapan adekku itu nongol. Aku baru inget udah punya adek setelah pindah ke Sumedang, padahal waktu pindahan itu adekku udah berumur 9 bulan. Hehehe (ketawa sambil berusaha mengingat-ingat, kapan Mamah hamilnya yaaa??? Jangan-jangan kamu anak pungut Deeek … hahaha … teganya diriku!)

Hah cape … trus kapan aku cerita masa kecilku di Taman Nak-Kanak yak??? Udah kehabisan bahan cerita … hahaha udah ah. Capeee …