21 Februari 2010

Sedang berusaha menyusun puzzle kehidupanku. Hal-hal apa saja yang membentukku hingga menjadi pribadi UNIK seperti saat ini. Tidak sedang narcis lho … karena aku percaya setiap orang diciptakan unik, begitu pula diriku.

Dimulai dari … Tahun pertama aku mengenal dunia …

Aku tidak ingat betul … Aku hanya tahu bahwa aku dilahirkan di sebuah rumah bersalin di Kota Bogor, dekat dari rumah Umi (nenekku  ). Suatu hari ketika ke Bogor beberapa tahun lalu, Mamah pernah menunjukkan tempat dimana aku dilahirkan. Aku tidak ingat, rumah sakit apa namanya. Hanya sekilas melihat bangunan cukup tua di sisi kanan jalan dengan papan “Rumah Sakit Bersalin” yang menunjukkan bahwa hingga saat ini, sudah banyak bayi yang mengawali kehidupannya di dunia dari salah satu ruangan di rumah sakit tersebut, seperti aku.

Tahun kedua dan ketiga hidupku di Carita …

Aku mulai merasakan kehadiran orang-orang di sekitarku. Masih terngiang-ngiang, suara kecil Aa memanggilku “Adek” karena aku masih menjadi anggota termuda di keluargaku.

Aku ingat, ketika setiap pagi aku ikut bersiap-siap pergi ke sekolah bersama Mamah, menemani dan mengganggu Mamah yang mengajar 

Aku ingat, aku sangat suka Dancow walaupun masih dalam bentuk serbuk susu. Maka, salah satu bekal wajibku ke sekolah adalah bubuk susu yang dicampur gula pasir, atau susu yang sudah diseduh dan dimasukkan ke dalam plastik bening, bukan botol susu. Praktis!

Aku sangat ingat, pernah memiliki tetangga depan rumah sepasang bule yang memelihara anjing. Rumahnya sangat tertutup dengan pagar tinggi, terlalu tinggi untuk seorang anak berumur 2 tahun. Aku pernah melintasi halaman rumah bule itu, karena itu lah jalur terpendek menuju Pantai Carita, yang ada di belakang rumah mereka. Aku takut melihat sosok mereka. Berperawakan tinggi dengan warna kulit dan rambut yang tidak sama dengan kebanyakan orang yang kukenal. Kalau saat itu aku sudah mengenal kata ‘alien’, mungkin itu lah satu-satunya alasanku takut pada mereka, karena aku menganggap mereka alien.

Aku ingat, Mamah pernah membuka warung di Pantai Carita. Warung yang sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari bilik dan anyaman kawat sebagai jendelanya. Ada dua pintu, menghadap arah yang sama, sebuah bangku panjang di depan warung, dan sebuah lemari pajangan kecil terbuat dari kaca yang disimpan di satu-satunya meja di dalam warung itu. Di belakang warung, ada sebuah lorong sangat kecil yang memisahkan warung kami dengan bagian belakang warung lain, lorong itu juga digunakan sebagai tempat penyimpanan es balok besar untuk mendinginkan minuman-minuman yang dijual.

Aku ingat, di sebelah kanan rumahku di Carita ada satu rumah tetangga (satu-satunya tetangga yang kukenal). Mereka memiliki anak yang sebaya (atau setahun lebih tua?) dari Aa, sehingga aku memanggilnya Teh Nina.

Di sebelah kiri rumahku ada kebun jeruk yang tidak begitu luas. Aku tidak ingat apakah aku pernah mencicipi jeruk dari pohon-pohon itu?

Di depan rumahku ada sebuah kolam yang tidak begitu besar, di pinggir kolam tersebut tertanam pohon jambu batu, yang salah satu cabang terbesarnya menjuntai di atas kolam tersebut. Sehingga terdapat risiko ‘nyemplung’ (hehe … aneh pilihan katanya) yang sangat besar ketika kita berusaha memanjat cabang tersebut dengan pegangan yang tidak cukup kuat.

Aku tidak begitu suka bermain di sekitar pohon jambu itu karena banyak semut merah besar yang sangat sakit gigitannya.

Dulu, Aa dan aku punya sepeda berbentuk motor vespa berwarna merah. Salah satu mainan favoritku. Aku biasa dibonceng Aa dengan vespa itu berkeliling halaman rumah. Tapi pada suatu hari, entah karena apa, vespa itu rusak dan terpaksa dimusnahkan, dengan cara DIBAKAR. Aku hanya terduduk sedih di depan api yang menyala-nyala yang memusnahkan vespa kesayanganku.

Rumahku bertetangga dengan hutan di bagian belakang. Agak jauh masuk ke dalam hutan, aku akan menemukan air terjun kecil dengan airnya yang sangat jernih. Aku sangat suka bermain air disana.

Ketika hujan turun, banyak kura-kura kecil dari hutan yang berdatangan ke bagian belakang rumahku. Ah, pemandangan yang sangat indah. Biasanya satu atau dua kura-kura akan aku dan Aa amankan untuk kami pelihara (selama beberapa hari saja, karena sesudah itu kura-kura yang kami pelihara biasanya mati).

Ketika bermain-main di pantai, Bapa akan memangkuku di atas pundaknya. Kemudian dia akan membawaku ke tengah lautan, dan aku akan berteriak-teriak ketakutan ketika air laut sudah menyentuh kakiku, “Aaarrrrghhh … aku sangat takut tenggelam”.

Aku juga terbiasa main dengan anak-anak pantai, ah, aku sama sekali lupa siapa saja mereka. Kami membangun rumah-rumahan di pinggir pantai dengan menggunakan terpal dan beberapa tongkat yang dengan mudah kami tancapkan ke pasir pantai. Wah, asyik sekali melindungi diri dari teriknya matahari pantai di dalam rumah-rumahan tersebut.

Di pinggir sepanjang jalan raya dekat pantai, dekat rumahku juga tentu saja, banyak warung-warung kecil yang menjual makanan dan minuman, konon katanya, di warung-warung itu pula para perempuan ‘nakal menjajakan dirinya’.

Jika pantai sedang ramai, seringkali aku melihat orang-orang tinggi besar, dengan rambut pirang, kulit pucat, atau sebaliknya, kulit sangat hitam, yang berlalu lalang melewati jalan depan rumahku. Belakangan aku tahu, kalau mereka disebut bule atau negro, dan mereka bukan Alien.

Aku memiliki seorang pengasuh bernama Ini. Aku memanggil namanya langsung, “Ini”, tanpa embel-embel Mak, Bibi, Teteh, Mbak. Dia adalah pengasuh pertamaku sekaligus pengasuh terbaikku (hehe … iya lah ga bisa dibandingkan dengan siapapun), aku merasa dia sangat menyayangiku.

Saat itu, belum ada listrik di Carita. Ketika malam tiba, rumah kami hanya akan diterangi lampu minyak, atau kadang-kadang petromaks jika kami sedang membutuhkan penerangan yang lebih besar.

Kami memiliki sebuah setrika arang. Menyeterika dengan setrika arang membutuhkan energi dua kali lipat, pertama energi untuk menyeterika, kedua energi untuk mengipasi arang-arang itu agar tetap menyala.

Kamar mandi kami terletak di bagian belakang rumah yang berbatasan langsung dengan hutan. Ketika waktu tidur tiba, Mamah akan meletakkan kaleng bekas dekat tempat tidur, yang bisa Aa dan aku gunakan sebagai ‘pispot’ ketika malam hari terbangun karena ingin pipis. Hal ini terutama dilakukan ketika Bapa sedang tidak ada di rumah sampai larut malam.

Aku suka durian, sangat suka. Dulu di Carita, durian sangat mudah didapat dengan harga sangat murah, bahkan gratis. Kami punya satu ruangan kosong di dekat dapur yang, jika musim durian tiba, akan menjadi penuh oleh puluhan butir durian. Wow. Sesekali, aku pernah ikut Bapa ke hutan dengan menumpang truk dan langsung berburu durian dari pohonnya. Wow … aku ingin kembali ke masa laluku.

Wah … wah … awalnya aku tidak menyangka akan menulis sebanyak ini tentang 3 tahun pertamaku di dunia. Masa-masa indah di Carita … seandainya aku sudah lebih besar ketika tinggal disana, pasti akan lebih banyak lagi cerita tentang Masa Kecilku di Carita …

Tidur aaaaaaaahhh …  dan mimpi bermain pasir di Pantai Carita Nan ASRI hehehe