Kalimat itu menggelitikku …
Tak sengaja kubaca ketika selembar kartu jatuh pada saat aku membuka dompet, ow … ini kartu alamat salah satu toko buku favoritku.

“Stop Membaca, Lestarikan Kebodohan!”, berkali-kali kubaca, dan berkali-kali aku tersenyum … miris, menyadari keadaanku sekarang.

Aku mencoba mengingat-ingat, kapan terakhir kali aku membaca buku dengan antusias?
Salah satu benda yang wajib ada di tasku adalah buku. Saat ini pun, ketika aku sedang sangat malas membaca, selalu ada sebuah buku yang kubawa. Kubuka tasku, disana masih tersimpan salah satu buku Salim A Fillah, yang kumasukkan sejak sebulan (bahkan lebih) yang lalu. Fiuuh … padahal biasanya sebuah buku (dengan jumlah halaman yang sama dengan buku Salim yang saat ini aku bawa) tidak akan betah di dalam tasku lebih dari seminggu.

“Stop Membaca, Lestarikan Kebodohan!”. Kalimat itu kembali terngiang-ngiang di telingaku. Tapi, ketika aku mulai membuka salah satu web berita favoritku, aku hanya terpaku pada headline dari setiap berita tanpa membaca satu berita pun sampai tuntas. Jangan tanya padaku berita apa yang sedang hangat dibicarakan saat ini, karena … PASTI aku tidak tahu.

“Stop Membaca, Lestarikan Kebodohan!”. Aku merasa semakin bodoh, otakku semakin tumpul, semakin tidak tahu apa-apa setelah sekian lama tidak berinteraksi dengan buku atau bahan bacaan apapun. Tapi, setiap kali aku melewati Pasar Benhil dan melewati penjaja koran dan majalah, yang duluuu pernah dengan sangat rajin aku kunjungi, aku bersikap acuh tak acuh, tanpa tertarik, bahkan untuk sekedar melihat headline di sampul surat kabar atau majalah-majalah tersebut.

Argghh … aku benar-benar harus mengalahkan kemalasanku untuk tidak menjadi bodoh.

“Stop MALAS, Put! Stop MALAS!”