Masih ingat, 1 Januari 2010 itu, aku sedang berada di salah satu mal di Kelapa Gading. Bukan untuk berbelanja atau jalan-jalan tentu saja. Tapi … sayang sekali aku harus lembur hari itu. Masih bisa mengucap syukur, Alhamdulillah, karena lembur di suatu pusat hiburan. Masih bisa cuci mata, makan di food court, bahkan masih sempat ke Gramedia, melihat-lihat CD, membeli kamus elektronik, dan … menemukan satu buku (walaupun tidak kubeli), yang memunculkan ide bagus di kepalaku … ahaaa … rencana bagus untuk diwujudkan tahun ini.

Aku tahu, siapa yang harus pertama kuhubungi berkaitan dengan rencanaku ini …
Nada sambung berbunyi beberapa kali di ujung telepon sana, sampai seseorang mengangkatnya, “Assalamu’alaikum?”.
Sedikit basa basi karena sudah cukup lama tidak bertemu, diakhiri dengan janji untuk bertemu, di kostku tentu saja. ^^

Hari yang dijanjikan pun tiba (hahaha … terdengar sangat serius). Dengan motornya, Oya sampai di depan kostku. Hari itu kami berencana pergi ke salah satu mal di Kuningan, hmm … mungkin lebih tepatnya, Oya kupaksa mengantarku kesana, dengan iming-iming makan siang gratis, maka siang itu pun kami berangkat.

Dengan antusias, aku bercerita tentang temuanku di Gramedia tempo hari. Dan seperti sudah kuduga, Oya antusias sekali mendengar rencanaku ini. “Wah, yuk hayuk … boleh banget tuh!”. Baiklah Oya, tapi apakah tidak sebaiknya kita mencari bukunya dulu dan membicarakan rencana kita kemudian?

Maka, sekalian menuju ke arah kostku, kami pun mampir ke Gramedia Plangi. Aku menemukan buku itu di deretan buku-buku tentang traveling. Hoho … buku yang menarik perhatianku, jalan-jalan ke tiga negara Asia dengan hanya 6 juta rupiah.

“Jadi, kapan?”, pembahasan semakin serius, karena kami tidak main-main (serius karena tidak main-main …. ga efektif bet ya nih kalimat :p). “Kalo Oya sih emang berencana mau ke Malaysia akhir tahun ini, kalo mau kita rencanain akhir tahun ini aja, gimana?”
Ide bagus Oya, maka aku pun langsung menyetujuinya, “Ya, akhir tahun ini!”.

“Jadi, apa yang harus kita persiapkan, selain uang tentu saja?”. Pembahasan pertama, kami membicarakan dokumen-dokumen apa saja yang kami butuhkan untuk bisa bepergian ke luar negeri. Paspor paling penting, visa tidak kami butuhkan karena tujuan kami adalah ke negara-negara yang tidak memerlukan visa untuk bisa masuk kesana. Masih tetangga dekat :D. NPWP? Ya tentu saja, demi bebas fiskal, ini pun ada dalam prioritasku, karena walaupun aku sudah setahun lebih bekerja, aku tak kunjung mengurus NPWP. Hehehehe …
Hei coba lihat, salah satu syarat mengurus paspor adalah ijazah/akta kelahiran. Tetapi bukankah lebih aman jika aku menyiapkan keduanya? Berita buruknya, ijazahku sampai saat ini masih di kampus. Hahahahaha …. hohohoho ….agak males karena agak ribet syarat-syarat administrasi yang dibutuhkan untuk mengambil ijazah. Tapi, demi rencana kami tahun ini, aku berencana segera mengurusnya (dan sudah 3 bulan sejak rencana itu dibuat, ijazahku masih belum kuambil … bandel!).

“Ah, harusnya tidak susah mengurus keperluan-keperluan administrasi ini, hanya dibutuhkan niat. Niat … gampang kan, cukup diucapkan dalam hati. Yang berat itu adalah merealisasikannya.”, gumamku dalam hati :D

Aku semangat sekali merencanakan liburan akhir tahunku ini. Beberapa kali aku pun sempat search kamera saku digital di internet, – seandainya mampu, tentu bukan sekedar kamera digital biasa yang kubeli, tapi kamera DSLR, hahahaha -, ini PENTING dan WAJIB untuk orang ‘sepertiku’. Sepertiku? Ya … agak banci kamera gitu deh :p

Sampai pada satu hari, aku mereview rencana-rencanaku kembali, akan berada dimana aku 1 atau 2 tahun kemudian. Seharusnya 1 tahun ke depan aku sudah tidak di tempatku bekerja sekarang, hahaha … omdo deh … begitu pasti komentar temanku. Tapi, mempertimbangkan beberapa hal, hmmm … dipikir-pikir, dan kemudian aku menemukan jawabannya. Sebuah pesan pun kukirimkan pada Oya, “Oya, kayaknya rencana kita bakal mundur deh, seenggaknya sampai pertengahan tahun 2011. Seharusnya pada akhir tahun ini aku masih akan di EY, artinya akhir tahun ini gak mungkin ada liburan di kalenderku.”  Tak lama sebuah pesan balasan aku terima, “Yah, gimana dong Put. Kalo Oya sih tetep akan pergi tahun ini, karena emang udah rencana mau ngunjungin Kaka Oya di Malaysia. Hmm … tapi yakin pertengahan tahun depan kita masih bisa jalan bareng. Kalo salah satu diantara kita udah ga single, ga jadi dong.”

Oh iya … bahkan aku mengabaikan kemungkinan itu. Huh … lagi-lagi deh Put … rencana tanpa realisasi!