Aku lagi suka banget baca buku tentang perjalanan atau kehidupan orang-orang (terutama Muslim) yang melakukan perjalanan atau tinggal di luar negeri.
Setelah sebelumnya aku membeli buku Jilbab Traveler-nya Asma Nadia dkk tentang perjalanan para muslimah ke berbagai negara, lalu aku pun membeli buku Muslim Traveler (dari penerbit yang sama) yang ditulis oleh seorang penggiat LSM, yang sangat peduli terhadap kehidupan saudara muslim yang menjadi minoritas di negara-negara tertentu.

Menyenangkan sekali bisa menengok kehidupan saudara sesama muslim di berbagai penjuru dunia. Sekaligus membuatku bersyukur lebih banyak karena dilahirkan di Indonesia, negara tropis dua musim dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia.
Bagaimana tidak? Melalui buku-buku itu aku jadi tau beratnya perjuangan saudara muslim untuk istiqamah menjalankan keislamannya yang ternyata tidak semulus di Indonesia.

Di beberapa negara tetangga, seperti Thailand dan Filipina saja ternyata masih ada diskriminasi terhadap penduduk muslim, berkaitan dengan kesempatan belajar, bekerja, dan hidup dengan aman dan tenteram. Mengapa mereka seperti phobia atau benci (?) terhadap Islam? Padahal di Indonesia, aku tidak melihat teman-temanku yang non-muslim (sekaligus minoritas di Indonesia) mendapat tekanan-tekanan serupa yang menimpa saudara muslimku di negara-negara tersebut di atas.

Contoh sederhananya saja, dalam masalah libur nasional. Kita tahu, Indonesia memerahkan kalendernya tidak hanya pada saat Idul Fitri, Idul Adha, Maulud Nabi, atau Isra Mi’raj, dimana mayoritas penduduk Indonesia memang memperingatinya. Bahkan pemerintah pun meliburkan hari besar agama lain (yang minoritas), walaupun yang merayakan hanya segelintir orang. Lalu mengapa, di negara-negara Eropa, misalnya yang notabene adalah negara sekuler, dimana negara seharusnya tidak ikut campur dalam kehidupan beragama rakyatnya, begitu menyulitkan seorang muslim yang izin tidak bekerja untuk menunaikan shalat Ied yang ‘hanya’ setahun sekali. (Hmm … ataukah ada pemahamanku yang salah mengenai negara sekuler?)
Pengalaman seperti itu aku baca dari buku seorang Muslimah asli Indonesia yang menceritakan kisah hidupnya di Paris, dengan berbagai tetekbengeknya.

Tapi, cerita duka (walaupun tentu banyak sukanya) hidup di negeri orang sebagai minoritas tidak menyurutkan keinginanku untuk suatu saat menjejakkan kaki di negeri-negeri itu. Untuk melihat keluasan bumi ciptaan Allah, mengagumi ciptaan-Nya, dan menyicipi keberagaman yang telah Allah sebutkan dalam Al Quran. Bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Tidak untuk saling berperang untuk menjadi bangsa/suku yang lebih unggul dari bangsa/suku lainnya, tetapi untuk saling mengenal. Dan siapakah yang terbaik dalam pandangan Allah? Adalah orang yang paling bertaqwa diantara kita.